Yuliana
Pekerjaan Ibu Rumah tangga

Mediaoposisi.com-Pemilihan umum sebentar lagi tiba, jika tidak ada aral melintang "pesta rakyat" itu akan diselenggarakan pada tanggal 17 April 2019. Berbagai gaya  kampanye dipertontonkan mulai dari gaya intelek sampai yang "nyeleneh".

Masing-masing paslon berlomba menarik simpatik semua kalangan mulai dari ulama sampai orang gila.  Dalam demokrasi tidak heran jika suara ulama disamakan dengan suara orang gila, ulama yang seharusnya menjadi panutan malah berlomba mengeluarkan dalil-dalil pembenaran atas tindakan paslon yang didukungnya.

Miris ketika seorang ustadz ternama memiliki pesantren Qur'an sebut saja ustadz YM mengeluarkan pernyataan bahwa menurut hasil penelitiannya, beliau memastikan Jokowi taat beragama, dan memiliki spirit kenabian yang layak ditiru (2019/03/03).

Sebagai orang awam yang sedikit mengetahui mengenai kisah dan karakter Nabi waktu belajar di TPA setidaknya masih ingat bahwa Nabi itu utusan Allah yang sifat dan karakternya berdasarkan hukum syara'.

Ada 4 sifat Nabi yang menjadi rujukan manusia biasa terutama bagi seorang pemimpin yang patut ditiru  yaitu sidiq, amanah, fathonah, dan tabligh. Sidiq artinya benar atau jujur, amanah artinya bisa dipercaya, fathonah artinya cerdas, dan tabligh artinya menyeru kepada kebaikan.

Berkaitan dengan spirit Nabi yang dilabelkan kepada salah satu paslon Jokowi, mari kita lihat terlebih dahulu apakah faktanya pernyataan UYM tersebut benar atau malah keliru? Masih ingat di benak kita dalam debat capres kedua tanggal 17/2/2019 yang ditayangkan hampir di semua statsiun televisi, Jokowi mengeluarkan pernyataan yang faktanya tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan bahkan banyak dikritik oleh berbagai pihak, diantaranya:

1. impor jagung 2018 180.000 ton - Fakta 700.000 ton.

2. produksi sawit : 46 jt ton - fakta 34,5 jt ton.

3. tidak ada kebakaran hutan - Fakta 16.100 ha telah terbakar

 4. impor beras turun - faktanya jelas naik. 

Fakta menunjukkan bahwa sifat pemimpin yang dimaksud sangat bersebrangan dengan sifat Nabi (sidiq, amanah, fathonah, tabligh). Hal ini hanya sebagian contoh pengingkaran atas pernyataan UYM.

Jika menilik pada kejadian di atas apakah pantas seorang pemimpin tersebut dikatakan memiliki spirit kenabian? sangat disayangkan pernyataan itu keluar dari seorang hafidz qur'an yang seharusnya sangat faham isi Al-Qur'an dan menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber hukum syara' selain As Sunnah.

Islam itu bukan hanya sprit yang hanya dinilai dari karakter yang terindera, misalnya karena ingin terlihat "sholeh", pro rakyat, rajin sholat, puasa, shodaqoh dan sebagainya.

Lebih dari itu Islam adalah  ideologi yang didalamnya terpancar aturan yang bersumber dari hukum syara' yaitu Al-Qur'an dan As Sunnah yang seharusnya diterapkan secara kaffah (menyeluruh) sebagaimana dalam Q.S Al Baqarah : 208

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu".

Islam bukan agama prasmanan yang hanya mengambil sebagian yang kita suka lantas meninggalkan yang kita tidak suka. Jadi jelas sistem yang sekarang tidak bersumber pada hukum syara' sehingga menjadikan hukum konstitusi di atas hukum syara' terutama dalam hal memilih pemimpin.

Pada akhirnya menjadikan Islam hanya sebagai agama ritual bukan sebagai ideologi yang seharusnya diterapkan dalam segala aspek kehidupan.

Posting Komentar