Ernadaa Rasyidah

Mediaoposisi.com-Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf kembali mengumbar janji-janji politik. Slogan Indonesia maju yang terus digaungkan diharapkan mampu menarik simpati rakyat dan menaikkan elektabilitas.

Ketua TKN, Erick Thohir mengatakan "Indonesia maju bukan hanya slogan. Indonesia maju adalah wujud optimisme. Sebuah tranformasi dari harapan besar bangsa Indonesia," ujarnya dalam Konvensi Rakyat mengangkat tema 'Optimis Indonesia Maju' di Sentul Internasional Convention Center. (rmol.co 25/02/19)

Namun harapan itu tampaknya akan segera kandas, pasalnya rakyat sudah semakin muak dengan rentetan janji-janji yang tidak kunjung terealisasi. Slogan Indonesia maju selamanya akan jadi wacana, jika tidak disertai dengan langkah konkrit yang menunjukkan keberpihakan kepada rakyat.

Lebih dari itu, sistem demokrasi yang menjadikan suara mayoritas sebagai standar kebenaran hingga saat ini justru semakin memperlihatkan kebobrokannya disegala sisi. Sistem demokrasi yang mengatasnamakan kepentingan rakyat, realitanya justru menjadi legitimasi penguasa dan kaum kapitalis dalam melanggengkan kebijakan yang tidak pro-rakyat.

Alih-alih rakyat mendapatkan haknya secara maksimal, justru rakyat dijadikan sapi perah untuk menghidupi para konglomerat asing dan aseng.

Tidak dipungkiri krisis multidimensi terus terjadi, keadilan hukum benjadi barang langka. Rezim hari ini memperlihatkan hukum tajam pada lawan dan tumpul pada kawan, aparat dan penegak hukum seharusnya mengayomi rakyat, kini justru menjadi alat penguasa dalam mempertahankan kezhaliman.

Demikian juga dengan aspek ekonomi, rakyat semakin sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari, harga kebutuhan pokok melabung tinggi, daya beli lesu, ditambah pajak yang kian mencekik. Secara keseluruhan, neo-imprealisme semakin mencengkram negeri diseluruh aspek kehidupan.

Padahal, Indonesia adalah negeri yang kaya akan SDA dan SDM, disematkan sebagai negeri zamrud khatulistiwa, ungkapan  gemah ripah loh jinawi adalah ungkapan untuk menggambarkan keadaan bumi pertiwi dengan kekayaan alam yang berlimpah, faktanya hanya dinikmati segelintir kecil pemilik modal.

Akibat penerapan sistem kapitalis-demokrasi, hanya pemilik modal yang punya akses tinggi dalam kehidupannya, hukum bisa dibeli, korupsi kian menjadi, maraknya persekusi tanpa peduli benar dan salah. Sebaliknya rakyat kecil menjadi objek yang selalu tertindas .

Agar indonesia maju tidak sekedar menjadi slogan, maka  tidak cukup bekal optimis. Butuh sebuah sistem yang adil  menjadi pijakan, butuh pemimpin visioner, tegas dan berdaulat. Memiliki langkah-langkah konkrit dan desain yang jelas, kearah mana negeri ini akan dituju. Bukan pula sekedar maju dalam lingkup nasionalisme yang berbatas sekat dan wilayah, yang telah terbukti mencabik makna ukhuwah Islamiyah.

Bukan pula dengan sekularisme yang menjauhkan manusia dari peran agama. Indonesia maju, hanya bisa terwujud dengan dengan mengambil Islam sebagai pondasi, baik dalam tataran pemikiran maupun aplikasi.

Mewujudkan persatuan global yang akan menghimpun negeri-negeri muslim dalam wadah Khilafah Islamiyah, yang menerapkan aturan Allah secara menyeluruh, mengemban dakwah dan jihad keseluruh penjuru alam, dibawah komando seorang Khalifah untuk seluruh umat muslim dunia.

Jaminan kemajuan yang bisa membawa pada kebangkitan, harus memiliki tolak ukur yang benar agar bisa menghasilkan manusia-manusia bertakwa, yang mengemban misi mulia sebagai hamba untuk beribadah kepada Allah. Kebangkitan hakiki hanya bisa diraih dengan meningkatnya  taraf berfikir manusia tentang hakikat kehidupan ini.

Islam hadir sebagai sebuah mabda (ideologi) yang memberikan solusi atas segala permasalahan yang dihadapi manusia. Penerapan ideologi Islam akan menghasilkan sebuah peradaban gemilang, negeri baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur bisa diraih.

Misi inilah yang diserukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat manusia, maka lihatlah pesan beliau yang dibawa oleh Rib’i bin Amir radhiyallahu ‘anhu kepada raja Persia. Rib’i bin Amir radhiyallahu ‘anhu mengatakan kepada Rustum, komandan Persia :

اللَّهُ ابْتَعَثْنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ، وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سِعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ

“Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan terhadap sesama hamba kepada penghambaan hanya kepada Allah, dari kesempitan dunia kepada keluasannya, dari kezhaliman agama-agama kepada keadilan Al-Islam.” (Al-Bidayah wan Nihayah, 7/39)

Posting Komentar