Oleh: Hj Padliyati Seregar, ST 
( ketua komunitas muslimah peduli generasi Palembang) 

Mediaoposisi.com-Dalam acara Konvensi Rakyat Optimis Indonesia Maju di sentul  pada minggu 24 feb 2019 yang lalu, Calon wakil presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin melanjutkan pidato kebangsaan calon presiden Joko Widodo.  Dalam pidatonya, Ma'ruf menjelaskan pendapatnya kenapa dia dan Jokowi harus memenangkan Pemilihan Presiden 2019. Dan mereka memiliki modal besar untuk kemenangan itu. Modal yang dimaksud Ma'ruf bukan uang melainkan hasil kerja pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Ma'ruf mengatakan, Jokowi-JK sudah meletakkan dasar pembangunan yang kuat. Ma'ruf menyebut dirinya akan membantu Jokowi memperbesar manfaat program-program yang sudah dibuat Jokowi-JK.( Kompas(dot)com, 24/2/2019)

Sebagaimana  yang di lansir oleh Wikipedia, negara berkemajuan adalah sebutan untuk negara yang menikmati standar hidup yang relatif tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata.
Jika kita melihat definisi di atas, maka kita akan mengetahui bahwa penetapan sebuah negara  dikatakan maju adalah karena dua hal. Yakni kemajuan di bidang teknologi dan ekonomi.
Lebih khusus lagi, dalam sistem saat ini, standar kemakmuran suatu negara diukur berdasarkan tingkat GDP (Gross Domestic Product) atau Pendapatan Nasional negara.

Akan tetapi sejatinya hal tersebut bukan satu-satunya yang menjadi tolak ukur maju nya suatu negara . Ada yang jauh lebih menentukan dan penting, yaitu ideologi yang diemban negara tersebut. Label negara maju merupakan sebuah prestise tersendiri bagi sebuah negara. Karena maju bermakna unggul, berada di garis depan. Namun apalah artinya jika negara tersebut unggul hanya di bidang ekonomi dan teknologi, namun di banyak sisi mempertontonkan kebobrokan yang nyata.

Fakta Miris yang terjadi di Negara Maju
Amerika Serikat, salah satu negara maju bahkan menjadi kiblat peradaban masa kini, nyatanya menyimpan potret buram yang tak bisa dielakkan. Pergaulan bebas, pembunuhan, kekerasan terhadap perempuan, LGBT, semuanya membudaya di sana.

Menurut "Worldwide Sexual Assault Statistics" terbitan George Mason University, dinyatakan bahwa setiap 107 detik ada seseorang di AS yang diserang secara seksual. Setiap tahun, rata-rata ada 293 ribu korban berusia di atas 12 tahun yang mengalami serangan seksual.
Tak hanya itu, Swedia yang dilaporkan sebagai negara terkaya di dunia dengan pendapatan per kapita pada tahun 2014 mencapai USD 58,887  faktanya memiliki sisi kelam.

Sebagaimana yang dilansir oleh liputan(dot)com 12/10/2017) bahwa Swedia menjadi negara dengan tingkat pemerkosaan tertinggi di Eropa. Pada 1975 ada 421 pemerkosaan yang dilaporkan ke polisi, sedangkan pada 2014 ada 6.620 kejadian. Peningkatan itu setara dengan 1.472 persen.

Tak hanya itu, Korea Selatan yang merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar ke-11 di dunia ternyata juga menjadi negara dengan tingkat bunuh diri yang tinggi. Tercatat bahwa rasio bunuh diri di negara ini sebesar 28,1 dari 10 ribu penduduk. Para pelaku bunuh diri di Korea Selatan mayoritas dengan cara gantung diri atau menenggak racun.

Sungguh miris. Betapa pelabelan sebuah negara maju semestinya tak cukup dengan kemajuan fisik belaka. Namun perlu diimbangi dengan kualitas manusianya. Adapun manusia-manusia berkualitas dan tata kehidupan yang beradab hanya akan terlahir dari sebuah negara yang menjadikan Islam sebagai ideologinya.

Maju dalam Pandangan Islam
Sejatinya, negara maju adalah sebentuk definisi untuk sebuah negara yang menjadikan Islam sebagai ideologinya. Sehingga seluruh aturan kehidupan hanya disandarkan pada Islam saja sebagai agama yang rahmatan lil'alamiin. Universal untuk semua umat.

Terbukti, negara yang menjadikan Islam sebagai ideologinya mampu menjadi mercusuar peradaban selama lebih dari 1400 tahun. Dialah Daulah Khilafah Islamiyah. Institusi penerap syariat yang unggul di segala bidang kehidupan.

Bukan cuma berhasil membangun infrastruktur dan memajukan perekonomian. Namun mampu mencetak manusia-manusia beradab taat syariat, serta melahirkan para generasi unggul cahaya peradaban. Demikianlah Islam. 

Dengan mempertimbangkan berbagai masalah yang terjadi di negara-negara diatas, kita mengetahui bahwa bukan hanya aspek dunia saja yang harus kita perhatikan melainkan aspek-aspek rohani yang akan mempengaruhi pembentukan individu dari rakyat di negaranya.

 Jika dunia berada dalam genggaman namun akhirat diabaikan maka bangsa yang besar sekalipun tidak ada artinya dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan Allah karena kesombongan mereka. Oleh karena itu selain unggul dibidang ekonomi dan teknologi ternyata ada yang tidak kalah penting yaitu membentuk manusia yang taat dan kembali kepada Al-Quran dan sunnah. Dengan demikian terbentuklah Negara maju dan beradab dan daulah Khilafah islamiyah telah membuktikanny selama kurang lebih 13 abad menjadi mercusuar peradaban dunia yang gemilang.[MO/sr]

Posting Komentar