Oleh : Sunarti

Mediaoposisi.com-Tolak ukur negara maju adalah menikmati standar hidup yang relatif tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi  yang merata. Kebanyakan negara dengan GDP  per kapita tinggi dianggap negara maju.

Jika dilihat dari tolok ukur di atas, Indoneaia bukanlah termasuk negara maju. Indonesia masuk pada kategori negara berkembang.

Namun layaklah hal ini dijadikan cerminan, bahwa kemajuan tidak bisa diukur hanya dengan dua hal tersebut, yaitu standar hidup yang tinggi dengan tehnologi yang tinggi dan ekonomi yang merata.

Menilik beberapa negara yang tidak dianggap sebagai negara maju di dunia, ini menunjukkan bahwa kategori 'maju' diartikan unggul dalam bidang teknologi dan ekonomi, bukanlah standart yang permanen.

Pasalnya ada negara yang memenuhi kriteria ini, namun tidak dianggap senagai negara maju. Perlu pendetailan juga apakah makna ini sejalan dengan kemajuan tingkat berpikir dan tingkah laku masyarakatnya.

Seperti beberapa negara telah mencapai GDP tinggi melalui eksploitasi sumber daya alam  (seperti Nauru melalui pengambilan fosfor  dan Brunei Darussalam melalui pengambilan minyak bumi) tanpa mengembangkan industri  yang beragam, dan ekonomi berdasarkan-jasa tidak dianggap memiliki status 'negara maju'.

Bagaimana dengan Indonesia? Bisakah kemajuan bisa dicapai oleh Indonesia?

Menurut calon wakil presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin ikut berpidato dalam acara Konvensi Rakyat Optimis Indonesia Maju. Dia melanjutkan pidato kebangsaan calon presiden Joko Widodo di Sentul, Minggu (24/2/2019).

Bercita-cita menjadi negara maju bukanlah isapan jempol semata, ketika memang disertai dengan upaya yang optimal.

Pada faktanya, Indonesia saat ini berada dalam kondisi multikrisis. Banyaknya problematika yang menimpa umat di Indonesia, menjadi bukti bahwa saat sekarang keterpurukan masih mencengkeram negeri ini.

Tersebab masih setianya Indonesia dengan berkhidmat pada sistem sekulerisme buatan manusia. Aturan yang memisahkan antara kehidupan dan hukum Sang Pencipta. Layak jika berbagai permasalahan enggan berlepas dari negeri 'Zamrud Katulistiwa' ini.

Bahkan semakin kokohnya sistem demokrasi yang merupakan warisan penjajah, akan semakin memperdalam luka umat akibat tajamnya persoalan yang menghujamnya.

Kemajuan sebuah negara tidak cukup diukur dengan kemajuan teknologi, kemajuan ekonomi atau kenaikan GDP saja.

Di sisi lain haruslah terbentuknya individu dan masyarakat yang memiliki peradaban yang unggul. Selain itu juga tercipta suasana rahmat kepada seluruh alam.

Kemajuan yang seperti ini hanya bisa diwujudkan dalam sistem yang sempurna. Bukti sudah di depan mata kedua sistem buatan manusia, yaitu sosialisme dan kapitalisme, tidak berhasil menunjukkan kemajuan yang nyata.

Sekarang pilihan umat yang ada adalah sistem Islam. Sebuah sistem sempyrna yang mengatur seluruh lini kehidupan.

Ketika diterapkan secara sempurna, bukan tidak mungkin negeri ini menjadi negara maju yang kuat dan mandiri. Bahkan kekuatannya akan merambah ke negeri-negeri di sekitarnya.[MO/ad)

Posting Komentar