Gambar: Ilustrasi

Oleh : Ilma Kurnia P, S.P

Mediaoposisi.com-Nasionalisme merupakan rasa yang amat mencintai dan bahkan rela berjuang untuk membela negaranya. Rasa inilah yang akhirnya membuat seseorang menjadi tidak terlalu peduli dengan saudaranya yang berbeda negara. Seolah mereka tak menghiraukan apapun yang terjadi; baik dalam hal kekerasan, penjarahan, atau bahkan pembunuhan secara masal; di berbagai negara terutama masyarakat muslim minoritas.

Seperti halnya yang saat ini terjadi dan sontak membuat masyarakat muslim terkejut adalah peristiwa putra mahkota Saudi yang mendukung China untuk bangun Kamp Konsentrasi Uighur. Dia mengatakan bahwa tindakan China itu dapat dibenarkan. “China memiliki hak untuk melakukan pekerjaan anti-terorisme dan ekstremisme untuk keamanan nasionalnya”, Kata Bin Salman, yang telah berada di China menandatangani banyak kesepakatan dagang (KIBLAT.NET, 24/02/2019).

Presiden China, Xi Jinping, mengatakan kepada putra mahkota bahwa kedua negara harus memperkuat kerja sama internasional tentang deradikalisasi guna mencegah infiltrasi dan penyebaran pemikiran yang dianggap ekstrem. China telah menahan sekitar satu juta Muslim Uighur di kamp konsentrasi, tempat mereka menjalani program pendidikan ulang yang diklaim sebagai perang melawan ekstremisme. Uighur adalah kelompok etnis Turki yang mempraktikkan Islam dan tinggal di Cina Barat dan sebagian Asia Tengah. Beijing menuduh minoritas di wilayah Xinjiang Barat itu mendukung terorisme sehingga harus diawasi dengan ketat.

Kelompok-kelompok Uighur telah meminta pangeran muda Saudi yang kuat untuk mengangkat perjuangan mereka karena kerajaan ultrakonservatif secara tradisional menjadi pembela hak-hak Muslim di seluruh dunia. Akan tetapi, para pemimpin Muslim sejauh ini tidak membahas krisis Uighur dengan China, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi mitra dagang penting dengan Timur Tengah. Bahkan, bulan lalu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, telah mengecam tindakan China, dan menggambarkan perlakuan terhadap penduduk Uighur sebagai ‘mempermalukan rasa kemanusiaan’. Erdogan juga menyerukan penutupan kamp konsentrasi.

Tetapi, ini justru sebaliknya putra mahkota malah mendukung apa yang dilakukan China terhadap muslim Uighur. Ironis memang tatkala rasa Nasionalime ini tumbuh subur di dalam diri seseorang bahkan masyarakat yang mengakibatkan adanya sekat antara negara satu dengan lainnya terlebih untuk sesama muslim.

Padahal jelas di dalam Islam umat muslim adalah saudara. Ibarat satu tubuh tatkala bagian tubuh satu merasa sakit maka anggota tubuh lainnya juga akan merasakan kesakitannya. Ibarat sapu lidi, umat islam adalah kumpulan dari lidi-lidi yang mampu membersihkan kotoran sampai bersih. Begitulah kiranya gambaran persatuan umat muslim. seperti firman Allah Subhanahu wa ta'ala dalam Al Quran yang artinya :
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” {TQS. Ali Imran : 103}.

Sesungguhnya islam mengajarkan segala kebaikan yang dibutuhkan umat manusia. Dan persatuanlah yang menjadi salah satu prinsip terbesar agama. Maka, sudah pasti, terdapat cara mengobati penyakit perpecahan umat yang sudah berabad-abad lamanya.

Maka, seharusnya, tatkala ada saudara muslim kita yang sedang mengalami musibah, kesusahan, atau bahkan ancaman hidup karena tindakan kekerasan ataupun pembantaian karena mereka minoritas, kita hendaknya menolong dan menyelamatkan mereka. Bukan malah justru mendukung tindakan tersebut karena sama halnya kita menjerumuskan dan mendukung tindakan kekejaman itu terhadap saudara muslim kita. Nabi Muhammad Salallauhu 'alaihi wa salam bersabda:
“Muslim adalah saudara muslim yang lainnya, dan tidak boleh mendzaliminya, membiarkannya (dalam kesusahan), dan merendahkannya. Takwa itu disini, beliau menunjuk dadanya tiga kali, cukuplah keburukan bagi seseorang, jika dia merendahkan saudaranya seorang muslim. Setiap orang muslim terhadap muslim lain haram: darahnya, hartanya, dan kehormatannya” {HR. Muslim no 2564}.

Maka, hendaklah kita sebagai umat muslim untuk saling bersatu dan janganlah bersikap individual atau acuh tak acuh karena adanya sekat Nasionalisme itulah yang justru mengakibatkan umat islam terpecah belah. Dengan kita bersatu maka terwujudlah rasa saling menyayangi dan mengasihi antar saudara muslim seperti yang dicontohkan oleh suri tauladan kita Rosulullah Salallahu ‘alaihi wa salam. Wallahua’lam bishawab. [MO/ms]

Posting Komentar