Oleh : Loly Norsandi A.Md

Mediaoposisi.com-"Hello Brother.." Sambut hangat seorang pria tua di pintu mesjid kepada seorang pemuda yang melangkah menujunya. Namun Pemuda bersenapan panjang tetsebut langsung memberondongnya dengan butiran peluru hingga tewas. Jum'at, 15 Maret 2019 menjadi hari berduka bagi kaum muslim minoritas di christchruch, New Zealand.


Pria tua itu, Daoud Nabi, 71 tahun, Imigran Afganistan di Selandia Baru (New Zealand). Menjadi salah satu korban dari sekitar 50 orang yang dinyatakan tewas, termasuk anak-anak berusia 4 tahun. Sisanya mengalami luka-luka, oleh ulah pemuda 28 tahun tersebut.

Rupaya sapaan hangat yang disuguhkan Daoud Nabi tak menggetarkan sedikit pun hati Tarant untuk mengurungkan niatnya yang terencana amat matang. Ya. Membunuh muslim. Hatinya telah gelap gulita, aksi biadabnya ini bahkan ia pertontonkan live streaming di akun facebooknya selama 17 menit. Dengan bangga ia melangkahkan kaki ke dalam mesjid nan suci, tempat dimana para pria baru saja melaksanakan shalat jum'at. Masjid Linwood Avenue dan Masjid An-Noor di Deans Avenue menjadi saksi bisu peristiwa berdarah itu. Bak bermain game online Tarrant membabi buta membagikan pelurunya ke tubuh muslimin di sana.

Atas kejadian tersebut, belum terdengar respon cepat dari penggiat HAM. Seakan bungkam, saat yang menjadi korban adalah kaum muslim. Namun apabila seorang muslim yang tertuduh melakukan kejahatan, tuduhan terorisme langsung mereka teriakkan. Bekerja sama dengan media untuk memebesar-besarkan isu agar melekat kuat isu terorisme kepada Agama Islam.

Akankah kita kembali tertidur? Menutup mata, hati, dan telinga, mengabaikan mereka dan begitu saja percaya saat media mainstream mengatakan bahwa berbagai diskriminasi, kejahatan, kekerasan, penyiksaan terhadap saudara muslim itu semua hanya hoax alias berita palsu. Media seakan takut melabelkan teroris apabila pelakunya tidak beragama Islam. Mereka merasa lebih aman dengan sebutan pria bersenjata dan acapkali pelaku diindikasi mengalami mental illness sebagai pemakluman.

Meskipun ada angin yang begitu segar akan kebangkitan Islam yang semakin masif. Pasca kejadian terorisme di christchruch, Perdana Menteri Selandia Baru menyatakan ini adalah tindakan terorisme, dan menjadikan Adzan dikumandangkan secara nasional. Begitu pula dengan berbagai lapisan masyarakat yang tidak beragama Islam, mereka berbondong-bondong mendatangi mesjid untuk sekedar melihat aktivitas sholat kaum muslim, menyatakan dukungan, dan bahkan sebagiannya mengucapkan kalimat syahadat tanda ia telah menjadikan Islam sebagai Agamanya. Allahu Akbar!

Dimanakah kita saudara ku?

Saudara se-akidah Daoud Nabi dan kawan-kawan, serta seluruh keluarga muslim yang menjadi korban kebrutalan terorisme di seluruh dunia?

Apakah yang sudah kita lakukan sebagai saudara seakidah Daoud Nabi dan kawan-kawan yang insyaAllah syahid pada hari itu?

Sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam :
“Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim.” (HR. An-Nasa’i[VII/82] dan At-Tirmidzi no. 1395, dishahihkan oleh Syaikh Albani)

Di dalam riwayat dari Abdullah bin Umar ra, ia menuturkan: “Aku melihat Rasulullah SAW thawaf mengelilingi Ka’bah dan beliau bersabda: “mâ athyabaki wa athyaba rîhaki mâ a’zhamaki wa a’zhama hurmataki wa al-ladzî nafsu Muhammadin bi yadihi lahurmatu al-mu’mini a’zhamu ‘inda Allâhi urmatan minki mâlihi wa damihi wa an nazhunna bihi illâ khayran.

Alangkah baiknya engkau dan alangkah harumnya aromamu, alangkah agungnya engkau dan agungnya kehormatanmu, dan demi Zat yang jiwa Muhammad ada di genggaman tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin lebih agung di sisi Allah darimu, hartanya, darahnya dan agar kami hanya berprasangka baik kepadanya”. (HR Ibnu Majah)

Agungnya kedudukan dan kehormatan Ka’bah, namun kehormatan seorang mukmin berikut kehormatan darahnya dan hartanya lebih agung di sisi Allah dari pada Ka’bah.  Betapa berharganya nyawa seorang muslim.

Dan Allah Ta’ala memperingatkan dengan keras dalam firman-Nya,
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia kekal  di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan adzab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa’[4] : 39)

Betapa seseorang yang membunuh satu saja orang mukmin maka ia akan kekal menghuni jahannam. Namun, bagi orang-orang seperti Tarrant ayat Allah ini tak menggetarkan jiwanya. Lantunan kalamullah ini tak meluluhkan hatinya, ia sudah begitu terinspirasi oleh pembantai-pembantai kaum muslim. Ia mengaku tak ada penyesalan meski ia telah membunuh pria tua yang menyambutnya penuh kasih kehangatan persaudaraan.

Kitalah sebagai saudara muslim yang harusnya tersayat hatinya, mendidih kepalanya atas tindakan brutal mereka yang membantai kaum muslimin. Sebagaimana kita mengagungkan dan menjaga Ka'bah maka seharusnya kita melakukan penjagaan yang lebih luar biasa dan mengerahkan segenap kemampuan untuk menjaga nyawa orang mukmin dimanapun berada.

Sebagai muslim, maka kita harus menyatakan sikap. Mengutuk keras terorisme sebagai tindakan keji yang bertentangan dengan nilai kemanusian dan nilai agama manapun. Mengawal pengusutan tuntas kasus hingga para pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal. Dan menyeru seluruh umat Islam untuk tetap teguh, sabar dan istiqamah dalam menjalankan dan memperjuangkan agama Allah, tidak terjebak dalam rasa takut yang diciptakan oleh pihak-pihak yang ingin memadamkan cahaya Islam yang mulai bersinar di seluruh dunia.

Dan untuk semua tindakan pembantaian dan penyiksaan terhadap kaum muslimin di berbagai belahan dunia. Maka umat wajib bersatu untuk menegakan Khilafah Islamiyah, sebagai Institusi negara yang mampu menjaga kehormatan dan darah kaum muslimin. Menyatukan umat Islam di seluruh dunia laksana perisai pelindung umat.

Wallâh a’lam bi ash-shawâb.

Posting Komentar