Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Hihihi, keren sekali manuver Golkar. Segera pecat Erwin Aksa, pasca terbuka merapat ke 02. Pecat Erwin cuma butuh kertas selembar, mengaktifkan kembali Erwin pasca kejatuhan Jokowi ? Mudah itu mah, masih ada satu rim Kertas untuk cetak ulang SK.

Secara etis dan formalis, Golkar memang harus pecat. Untuk menentramkan TKN lah, Ga etis kan masuk koalisi Jokowi tapi kadernya terbuka nyebrang ke 02.

Erwin sendiri, juga gerbong besar Golkar yang sepandangan dengan Erwin, sudah lama diketahui tidak pro 01. SaszeCuma, untuk deklarasi terbuka Erwin butuh momentum. Nah, pasca OTT KPK terhadap Rommy itu momentum ciamik untuk melakukannya.

Erwin juga bukan semata karena dekat dengan Sandi merapat ke 02, tapi lebih kepada pertimbangan bisnis. Memang benar, kekuarga Aksa juga menaruh telur yang tidak sedikit di kubu 01. Telur telur itu, diantaranya disalurkan melalui tangan JK.

Namun Erwin -dan JK tentunya- sangat paham, iklim keranjang di 01 tidak baik, suasananya kacau, suhunya tidak terhaga. Jika tidak siapkan telur di keranjang lain, dipastikan telur telur bisnis keluarga Erwin di keranjang 01 akan busuk, tidak menetas, dan ini jelas Amsyong.

Erwin sudah paham, dan banyak tokoh Golkar lain yang sepandangan, bahwa masa depan kemenangan itu bukan di 01. Erwin, sebagaimana pedagang lainnya, logikanya itu ikut yang menang. Sebab, bisnis itu butuh dukungan pihak yang akan berkuasa, bukan petahana yang sudah menjelang binasa.

Tentang pemecatan ? Ah Golkar selalu punya solusi. Saat geng Luhut cs membelok ke Jokowi, kubu ichal saat itu juga terbitkan SK pecat pecatan. Sekarang mereka rukun lagi. Apalagi Airlangga, bukanlah figour yang kuat di Golkar. Jauh sekali, jika dibandingkan dua Ketum terdahulu, JK dan ichal.

Airlangga juga mendapat posisi Ketum bukan murni dari perjuangan di munas, tapi durian runtuh dari munaslub dibawah bayang bayang intervensi kekuasaan. Jadi, sangat mudah meminta Airlangga terbitkan ulang SK baru, atau menunggu Ketum definitif hasil munas.

Golkar itu pemain politik kawakan, Ga mungkin bisa diperdaya oleh pemain baru. Kepiawaian Golkar mengunduh kursi DPR RI adalah bukti kongkrit Golkar politisi 'sejati'. Prestasi dua menteri Golkar pasca merapat ke Jokowi, juga menjadi parameter Golkar itu politisi 'tulen'.

Ada yang coba main-main, namun Akbar Tanjung mampu mengendus nya. Akbar, meminta kader berhati hati terhadap Nasdem yang dianggap punya niat jahat.

Jadi sekali lagi, fenomena ini semakin menguatkan posisi 01 memang sudah diujung tanduk. Rakyat, tinggal menunggu waktu saja. Pastinya, 17 April adalah momen pesta rakyat untuk ganti Presiden. [MO|ge]

Posting Komentar