Oleh: Ana Sholikha, SP.d 

Mediaoposisi.com-Aksi penolakan terhadap sistem pemerintahan Khilafah kini dilakukan secara masif dan sistemis. Sebelumnya penolakan itu hanya diujarkan oleh orang perorangan saja. Namun, kini sudah merambah pada perkumpulan dan mobilisasi massa. Salah satunya kasus  yang melibatkan AGPAII beserta siswa-siswinya.

Ribuan orang yang tergabung dalam Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Kota Semarang dan siswa-siswi Rohani Islam (Rohis) SMA-SMK se-Kota Semarang berkumpul dan menyatakan menolak paham khilafah di Indonesia pada 16 Maret 2019. Acara tersebut bertempat di Taman Budaya Raden Saleh, Kota Semarang

Tak hanya itu, kubu petahana juga menyuguhkan pesan penolakan terhadap ide khilafah meski mereka mengakui itu ajaran Islam. Seperti yang dilakukan saat kampanye di Pondok Pesantren Mlangi, Sleman, Yogyakarta, Kamis, 28 Maret 2019.

Dalam istighosah deklarasi kiai santri Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk kemenangan 01 tersebut, Ma'ruf mengatakan bahwa khilafah merupakan bagian dari Islam, tetapi masyarakat Indonesia menolaknya. "Khilafah tertolak, memang tidak bisa masuk karena menyalahi kesepakatan NKRI," menurut cawapres 01 tersebut, Kamis (28/03/2019).

Khilafah sejatinya bukan konsep baru. Sistem pemerintahan yang sempat berjaya berabad-abad ini kembali dikenalkan oleh ormas yang badan hukumnya sudah dicabut pemerintah.

Sistem pemerintahan ini rupanya telah mengkhawatirkan beberapa pihak. Sehingga memunculkan gerakan untuk menolaknya secara terang-terangan.

Hal ini tentu bukan tanpa sebab. Karena ide khilafah sebagai solusi alternatif untuk mewujudkan Indonesia lebih baik bukan ide kemarin sore yang didakwahkan.

Konsep ini sebenarnya sudah disuguhkan puluhan tahun yang lalu. Hanya saja, saat itu gerakan yang menyeru khilafah sebagai solusi dianggap angin lalu. Tak lain  karena yang mempromosikan masih sedikit. Jadi tidak diperhitungkan, dipikirnya tak akan laku di pasaran.

Tak dinyana, lambat laun konsep khilafah semakin diterima masyarakat. Kini yang menyerukannya bukan lagi segelintir orang.

Namun semakin meluas dan tersebar di seluruh pelosok negeri. Dari kalangan lanjut usia hingga para pemuda. Inilah kemudian yang menjadikan sebagian orang yang tak kenal sistem khilafah terang-terangan menolak.

Penolakan itu tak akan terjadi andai saja mereka mempunyai literatur yang cukup tentang konsep khilafah. Sebab, bagaimana mungkin mereka akan menentang penerapan sistem pemerintahan yang akan membawa kesejahteraan.

Sebagaimana riwayat tentang Kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz dari Bani Umayyah. Pemimpin pada sistem Khilafah yang mampu mengoptimalkan potensi zakat, Infaq, shadaqoh, dan wakaf sehingga  mampu mengentaskan kemiskinan di negerinya. Hal itu cukup dilakukan dalam  rentang waktu 2 tahun 6 bulan saja.

Diriwayatkan oleh Ubaid, bahwa Gubernur Baghdad Yazid bin Abdurahman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz tentang melimpahnya dana zakat di baitul mal karena sudah tidak ada lagi orang yang mau menerima zakat.

Bayangkan, sudah tak ada lagi rakyat yang mau menerima zakat. Itu artinya tak ada lagi rakyat yang melarat. Suatu kondisi yang berbalik 180 derajat dengan saat ini. Dimana orang rela berdesak-desakan berebut menerima  zakat.

Tak hanya itu, sistem khilafah juga sangat menghargai bidang pendidikan. Betapa para ilmuwan termasuk tenaga pendidik begitu dihargai dan dimuliakan pada sistem ini.

Sebagaimana Khalifah Umar bin Khatthab yang memberikan gaji bagi seorang guru sebesar 15 dinar. Satu dinar senilai 4,25 gram emas.

Jika dikurskan ke nilai rupiah, maka gaji guru saat itu bisa tembus 30 juta rupiah perbulannya. Sungguh selisih yang sangat jauh jika saat ini ada guru yang digaji 300 ribu rupiah tiap bulannya.

Begitu  pun kisah  keadilan khalifah terhadap orang nonmuslim. Sebagaimana kisah tentang seorang Yahudi yang terkena penggusuran oleh seorang Gubernur Mesir, Amr bin ‘Ash, yang bermaksud memperluas bangunan sebuah masjid.

Meski mendapatkan ganti rugi yang pantas, orang Yahudi tersebut tetap menolak penggusuran. Lalu ia datang ke Madinah untuk mengadukan permasalahan tersebut kepada sang Khalifah, Umar bin Khattab.

Seusai mendengar cerita orang Yahudi, Khalifah Umar mengambil sebuah tulang unta dan menorehkan dua garis yang berpotongan: satu garis horizontal dan satu garis lainnya vertikal.

Khalifah Umar lalu menyerahkan tulang itu pada sang Yahudi dan memintanya untuk memberikannya pada Amr bin ‘Ash. “Bawalah tulang ini dan berikan kepada gubernurmu. Katakan bahwa aku yang mengirimnya untuknya.” 

Sampailah tulang tadi kepada gubernur. Maka sekonyong-konyong wajah Amr pucat pasi saat menerima kiriman dari Khalifah Umar. Saat itu pula, ia mengem balikan rumah Yahudi yang digusurnya.

Orang Yahudi  pun merasa heran, sehingga ia bertanya pada Amr bin ‘Ash atas kejadian tersebut. Amr lalu menjawab, “Ini adalah peringatan dari Umar bin Khattab agar aku selalu berlaku lurus (adil) seperti garis vertikal pada tulang ini.

Jika aku tidak bertindak lurus maka Umar akan memenggal leherku sebagaimana garis horizontal di tulang ini.”

Lagi-lagi kisah di atas sangat bertolak belakang dengan fakta yang terjadi dalam penerapan sistem demokrasi saat ini. Dimana rakyat digusur tanpa kompensasi yang menjadikan mereka mujur. Bahkan tak sedikit yang belum mendapat ganti rugi atas lahan mereka yang diambil alih secara paksa.

Beberapa kisah dan kejadian di atas hanya secuil fakta kesejahteraan yang ditimbulkan  atas penerapan sistem  khilafah. Sungguh sistem yang telah diterapkan selama masa Khulafaur Rasyidin dan berakhir pada 3 Maret 1924 ini telah menorehkan tinta emas dalam sejarah.

Menjadi sangat wajar ketika sistem khilafah kembali ditawarkan mendapat respon yang positif di tengah-tengah umat.

Semakin hari gaung tuntutan penegakannya kian menggelegar. Sebab kehadirannya akan membawa kebaikan, baik bagi muslim maupun nonmuslim.

Begitulah jika pemahaman tentang sistem khilafah masuk secara paripurna dalam benak seseorang. Maka ia akan berjuang untuk terus mengopinikan pentingnya penegakan sistem khilafah bagi seluruh umat manusia.

Namun, masih ada pihak yang merasa gerah atas tuntutan umat yang kian menggelora ini. Kemudian mereka membuat ajakan menolak ide khilafah tanpa memahami secara komprehensif tentang konsepnya.

Maka, hanya generasi yang miskin literasi yang akan dengan mudah menerima ajakan menolak ide khilafah tanpa mengenalnya lebih dalam.

Bahkan seorang yang tak mengimani Allah SWT dan Rasulullah SAW pun mengakui kegemilangan sistem ini. Sebut saja salah satunya mantan Perdana Menteri Inggris yang merupakan seorang keturunan Yahudi, Benyamin Disraeli, mengatakan bahwa sejarah umat Yahudi di bawah kekuasaan pemerintah Islam kala itu diwarnai romantisme dan kemesraan.

Oleh  karena itu, generasi era milenial selayaknya berusaha mencari pemahaman atas sistem pemerintahan fenomenal ini.

Dimana akses informasi begitu mudah didapat sehingga mampu mengantarkan  pada sikap  kritis atas segala tindakan yang akan diperbuat.

Termasuk ajakan untuk menolak atau mendukung khilafah. Ingatlah, setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Semoga apa yang kita lakukan semua atas kesadaran, bukan semata-mata ikut-ikutan.[MO/ad]

Posting Komentar