Oleh : Vega Rahmatika Fahra  
(Korda Muslimah KARIM Chapter Padang)

Mediaoposisi.com-Berbicara tentang perempuan memang sangat istimewa, bahkan dalam Al-quran perempuan sampai disebutkan dalam satu surat khusus, yaitu surat An-Nisa’. Bagaimana tidak, ketika kecil ia dilindungi oleh ayahnya, ketika sudah dewasa dilindungi oleh suaminya, ketika sudah tua, namanya diangkat sampai tiga kali dibandingkan ayah, ibumu, ibumu, ibumu.

Namun hari ini kondisi kaum perempuan sangat memprinhatikan. Berbagai persoalan terus membelit kehidupan, kemiskinan, kekerasan, diskriminasi dan ketidakadilan seolah tak bisa lepas dari potret kehidupan perempuan. Dan ini terjadi merata di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.
 
Seperti dikutip dari detiknews kasus memilukan hubungan sedarah alias incest di Kabupaten Pringsewu, Lampung yang mana para pelaku merupakan satu keluarga terdiri dari ayah kandung, kakak kandung, dan adik kandung, korbannya perempuan yang berumur 18 Tahun dan penyandang disabilitas atau keterbelakangan mental, diduga diperkosa hingga 120 kali oleh kakaknya dan 60 kali oleh adiknya.

Ini hanyalah satu dari sekian banyak kasus-kasus yang sangat menghinakan perempuan.

Kapitalisme Menghinakan Perempuan
Perempuan saat ini banyak sekali yang menjadikan ide-ide kapitalis sebagai pijakan. Mereka menyatakan bahwa persoalan perempuan akan terselesaikan dengan membebaskan perempuan berkiprah dimanapun, terutama dalam kiprah publik.

Dengan itu suara dan partisipasinya diperhitungkan, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Alih-alih mampu mengangkat nasib perempuan, gagasan pemberdayaan politik perempuan dalam perspektif demokrasi kapitalis ini justru menjadi racun yang kian mengukuhkan kegagalan menyelesaikan persoalan-persoalan perempuan.

Sebaliknya, ide-ide kapitalis sekuler sukses menjerumuskan perempuan kedalam jurang kejahiliahan dan kegelapan. Bagaimana tidak? Kondisi perempuan saat ini tak ubahnya seperti perempuan-perempuan pada masa ketika sebelum Islam datang.

Kaum perempuan di seluruh dunia Islam selama Sembilan dekade menghadapi penindasan, kemiskinan dan penghinaan dibawah rezim represif yang korup dan sistem ekonomi yang sudah usang. Pemerintahan di Timur dan Barat, Utara dan Selatan telah menutup mata dan membiarkan pelanggaran terhadap hak perempuan dan bahkan melucuti hak-hak dasar mereka.

Dari kawasan yang dianggap paling demokratis sekalipun seperti negeri-negeri Barat, sampai kawasan yang tidak dianggap tidak demokratis seperti negeri-negeri Arab.

Sesungguhnya perempuan dalam keadaan hina, tertindas dan diliputi oleh kemiskinan. Semua sistem monarki dan republik, demokrasi dan kediktatoran, selama Sembilan dekade terakhir telah gagal menjamin kehidupan yang layak dan menghormati perempuan.

Upaya-upaya perbaikan kondisi prempuan saat ini selalu menemui jalan buntu, karena perjuangan mereka terbatas hanya untuk meraih kuota parlemen atau sejumlah kecil posisi di pemerintahan.

Pegiat jender melalui lembaga-lembaga dunianya berupaya terus menekan negeri-negeri Islam agar terus meningkatkan angka partisipasi perempuan di parlemen. Mereka seolah menutup mata bahwa semua upaya itu sejatinya tidak akan menyelesaikan akar persoalan.

Perubahan hakiki tidak akan pernah terjadi jika kita hanya mengadopsi sistem coba-coba yang telah sering terbukti gagal, yaitu sistem Demokrasi Sekuler Liberal, dengan manusia sebagai pembuat hukumnya. Alih-alih perubahan, yang terjadi justru status quo Kapitalisme kian menjadi hegemoni bagi dunia, dan itu artinya semakin banyak problem yang akan membelit perempuan.

Islam dan Khilafah Mensejahterakan Perempuan
Mahasuci Allah yang telah memberikan aturan Islam yang bersifat tetap dan sempurna, yakni aturan yang telah memuliakan kaum perempuan setelah sebelumnya mereka dihinakan dan direndahkan. Islam datang pada saat budaya masyarakat mensubordinasi perempuan.

Pada saat itu perempuan tak lebih dari benda yang bisa dimiliki dan diwariskan, bahkan hanya dianggap sebagai pemuas nafsu laki-laki yang tak boleh berkeinginan. Yang lebih mengerikan, pada saat itu perempuan menjadi symbol kehinaan. Kehadiran anak perempuan dianggap sebagai aib luar biasa besar dan membunuhnya menjadi budaya yang diwajarkan.

Jelas, sebuah revolusi besar ketika umat Islam justru datang dan mengungkapkan bahwa perempuan dan laki-laki adalah manusia dengan segala potensi hidup dan akalnya.

Sebagai manusia, perempuan juga mengemban tugas hidup yang sama sebagaimana laki-laki, yakni beribadah melakukan penghambaan kepada Allah sang pencipta, sekaligus mengemban misi kekhalifahan di muka bumi berdasarkan aturan hidup yang telah ditentukan.

Islam juga menetapkan bahwa standar kemuliaan seseorang tidak ada kaitannya dengan jenis kelamin, kedudukan dan materi, melainkan terkait dengan kadar ketakwaan seseorang di hadapan Allah.

Umat manusia, termasuk kaum perempuan, di bawah naungan khilafah benar-benar bisa merasakan kehidupan yang mulia dan terhormat. Mereka diselimuti perasaan aman dan nyaman serta diwarnai kewajaran dan keadilan. Semuanya merasa hidup makmur dan sejahtera. Bahkan pernah ada suatu masa saat tidak ada lagi yang mau mengambil zakat, karena semua merasa telah kaya.

Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. Pernah berkata, “sekiranya ada seekor domba yang terperosok di tepi sungai Dajlah, niscaya saya yakin bahwa Allah pasti akan menghisab saya akan hal itu pada hari kiamat. Jadi mengapa kamu belum juga meratakan jalan itu untuknya?”

Beliau berkata pula, “Demi Allah, aku tidak akan merasakan kenyang, sebelum seorang Muslim yang terakhir di Madinah merasa kenyang!”

Apa yang dilakukan Khalifah Umar bin Khathtab ra, juga menunjukkkan bagaimana Khilafah Islam melindungi dan menjamin kesejahteraan perempuan, bahkan rakyat secara keseluruhan. Beliau yang kekuasaannya sudah melewati batas-batas semenanjung Arabia telah terbiasa melakukan patroli untuk memastikan semua penduduk terpenuhi kebutuhannya.

Beliau bahkan tak ragu memanggul karung berisi gandum demi memenuhi kebutuhan seorang ibu dan anaknya karena kesadaran penuh akan tanggungjawab sebagai kepala Negara di sisi Allah SWT. Beliau pun pernah menetapkan kebijakan menggilir pasukan jihad setiap empat bulan sekali demi mendengar keluhan seorang istri yang merindukan suaminya.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada amilnya (kepala daerah) di Samarkand, Sulaiman bin Abi as-Samri,

“Hendaklah kamu membangun beberapa penginapan di wilayahmu. Jika ada diantara kaum Muslim yang melewati wilayahmu maka biarkan mereka tinggal sehari dua malam. Jika ada seseorang yang kehabisan bekal maka berilah ia harta yang cukup untuk sampai ke daerah tempat tinggalnya.”

Pada masa Khalifah al-Mu’tashim Billah, ketika seorang muslimah jilbabnya ditarik oleh seorang Romawi, ia segera menjerit dan meminta kepada Khalifah : Wa Islama wa Mu’tashima!

“Dimana Islam dan dimana Khalifah Mu’tashim?” ketika mendengar jeritan perempuan muslimah tersebut, Khalifah serta merta bangkit dan memimpin sendiri pasukannya untuk membela kehormatan seorang muslimah yang dinodai oleh oleh seorang pejabat kota tersebut (waktu itu masuk dalam wilayah kekaisaran Romawi).

Kepala Negara Daulah Khilafah Islamiyah ini mengerahkan ratusan ribu tentaranya ke Amuria- Perbatasan antara Suriah dan Turki.

Sesampainya di Amuria, beliau meminta agar orang Romawi pelaku kezaliman itu diserahkan untuk diadili. Saat penguasa Romawi menolaknya, beliau pun segera menyerang kota, menghancurkan benteng pertahanannya dan menerobos pintu-pintunya hingga kota itupun jatuh ke tangan kaum Muslim. Ribuan pasukan musuh terbunuh, ribuan lainnya berhasil ditawan.

Begitulah kesempurnaan aturan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. untuk seluruh umat manusia hingga akhir jaman, tanpa memihak salah satunya seraya mengabaikan yang lainnya.

Sebagai aturan yang terpadu, Islam mengatur seluruh aspek kehidupan yang akan menjamin terwujudnya ketentraman umat manusia, karena Islam sesuai dengan fitrah manusia, karena Islam sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal manusia dan tidak membedakan jenis kelamin manusia.

Telah jelas bagaimana keadaan umat Islam ketika berada dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Seuruhnya dapat merasakan bagaimana cahaya Islam menaungi seluruh umat, tanpa kecuali.[MO|ge]

Posting Komentar