Oleh: Mila Ummu Tsabita
(Pegiat Sekolah Bunda Sholihah)

Mediaoposisi.com-Dillan-da galau, itu yang dirasakan semua ibu sepertinya. Tak ada maksud mempersoalkan kreatifitas anak muda milenial, dan tak ingin juga latah buat yang semisal. Cuma... terus terang saya sebagai ibu dari seorang anak ABK (anak berkebutuhan khusus) merasa sangat miris dengan kasus di Lampung beberapa waktu lalu.  Sebuah kasus perundungan (perkosaan) kepada gadis (18 tahun) penyandang disabilitas (mental) oleh ayah, kakak dan adik kandungnya.  Perkosaan cukup lama berlangsung. Satu tahun lho, coba bayangkan! ABK ini jelas mengalami trauma berat.  Kejadian menyakitkan tersebut terjadi di rumah mereka di Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Lampung.  (tribunnews.com, 24/2/2019).

Menurut aparat, sang ayah (JM 44 th) mengaku melakukan tindakan keji itu  5 kali, sang kakak (SA 23 th) 120 kali, dan  sang adik ( YG 15 th) mengaku “gituin” mbak-nya 40 kali.  Entah benar apa tidak pengakuan mereka, yang jelas saya sedih dan tak habis pikir.  Tega benar ya? Keluarga yang harusnya menjadi tempat berlindung, justru menyakitinya dengan sangat buas.   Apa yang salah -dengan para mahrom- yang secara fitrahnya punya naluri untuk mencintai dan melindungi anggota keluarga, apalagi korban (AG 18 th) adalah seorang disable, kok bisa perilaku incest ini terjadi?  Tapi apa hubungannya dengan Dillan?

Sistem Liberal Merusak Fitrah
Allah SWT telah memberikan kepada setiap manusia gharizah nau’ (naluri seksual),  untuk melanjutkan keturunan mereka.  Manifestasinya memunculkan rasa sayang kepada keluarga dan anak-anak.  Bahkan di dunia hewan, bisa kita lihat betapa induk ayam atau buaya sekalipun yang sangat protek terhadap telur mereka.  Semua sangat alamiah, sudah  fitrah.

Namun apa yang terjadi pada manusia hari ini? Fitrah manusia menjadi rusak dengan diterapkannya sistem Kapitalis Liberal.   Kebebasan yang mereka agungkan, menjadikan masyarakat menjadi begitu liar. Naluri yang sesungguhnya diciptakan Allah utuk melestarikan jenis manusia dan menikah menjadi solusi pemuasannya , berubah menjadi sesuatu yang sangat mengerikan dampaknya.
Bahkan mampu merubah pandangan kasih sayang kepada mahromnya, menjadi pandangan jinsiyah (seksual) penuh syahwat, seolah melihat pasangan (suami/istri).

Tak mengherankan perubahan pandangan ini, begitu mudah terjadi karena “edukasi” alis propaganda yang terus-menerus tentang pacaran, tindakan incest karena terpaksa dalam berita kriminal atau tayangan pornografi yang marak di media-media yang lain.

Makanya saya, termasuk salah satu anggota masyarakat yang menyayangkan maraknya film cinta-cintaan remaja model Dillan 1990 (eh malah sekarang dilanjutkan jadi 1991).  Atau penayangan kasus kriminal yang –maaf- kadang terlalu detil “me-reka ulang” tindak kriminalnya.  Membuat orang terinspirasi tau tidak? Hedeuh.

Tahun kemaren saja, Komnas Perempuan mencatat kasus kekerasan terhadap perempuan sebanyak 9.409  yang dilaporkan sepanjang 2017, dan ada  1.210 kasus merupakan kasus incest. “ Paling banyak kasus dilakukan ayah kandung sekitar 425 kasus, sisanya oleh anggota keluarga dekat yang lain." (tribunnews.com , 19 /4/2018). Mengerikan bukan?

Di dalam masyarakat Barat, pergaulan bebas bukanlah sesuatu yang dianggap tabu.  Bagi mereka kebutuhan seksual dianggap wajib disalurkan. Baik dengan pernikahan atau di luar nikah. Bahkan hubungan sesama jenis (gay/lesbi) atau dengan yang sedarah (incest), juga dengan binatang (bestialitas).  Salim Fredericks menulis dalam bukunya Political and Cultural Invasion bahwa kebebasan di sistem Kapitalis telah membuka kotak pandora yang berisi segala macam penyakit yang menggoyahkan bangunan keluarga.

Berbagai tayangan opera sabun yang menumpulkan akal, lagi-lagu cinta, stasiun TV kabel musik, dan majalah-majalah pop  mewah  berfungsi layaknya  ‘ruang kelas’ yang memberikan ‘pendidikan’ bagi anak-anak muda soal pergaulan.  Perekonomian pasar bebas telah mengeksploitasi seks habis-habisan. Semua itu telah menciptakan ‘monster’ yang sangat berbahaya bagi keluarga.

Revolusi seksual di Barat telah terjadi sangat masif, seiring dengan perkembangan ekonominya. Kapitalisme telah mengubah begitu banyak aspek struktur alamiah keluarga,  termasuk kedudukan para ibu.  Dengan alasan ekonomi, seorang ibu bekerja full time. Untuk itu, ia akan menghabiskan ¾ penghasilannya untuk membayar biaya perawatan anak. Orang-orang muda pun melakukan pemberontakan melawan pihak-pihak yang selalu menekan mereka. Mulailah anjuran penggunaan pil KB (alat kontrasepsi) yang lebih longgar, bahkan legalisasi aborsi. (Salim Fredericks: 2004).

Padahal, bagi seorang suami tentu peran istri sangat penting.  Bisa membayangkan ketika sang soulmate telah sangat lelah pulang kerja, bagaimana pemenuhan urusan biologis suami?  Bisa jadi akan tak sempurna. Iya kan?   Saat ini di Indonesia, karena persoalan ekonomi mendorong para ibu ikut “membantu” penafkahan.

Dengan bekerja jadi buruh pabrik, atau bahkan harus terbang ke luar negri untuk jadi TKW (tenaga kerja wanita).  Mengharap gaji yang lebih besar di sana. Atau karena partisipasi perempuan terus digalakkn maka jumlah yang berkiprah di publik terus meningkat pesat. 

Kasus incest pun kian marak. Seiring dengan liberalisasi di berbagai bidang.  Lihat saja kasus di Kupang-NTT, di mana seorang ayah (JM 43 th) tega meniduri anaknya (IJM 12 th) yang baru duduk di SMP, selama bertahun-tahun.  Itu dilakukan sejak ibunya pergi jadi TKW di Malaysia.
(tribunnews.com, 7/2).

Atau yang terjadi di Lampung, saudara kandung korban ternyata telah biasa menonton video porno dari smartphone-nya.  Rangsangan yang sangat kuat, ingin segera disalurkan. Tapi menikah di negri ini, tak semudah beli pisang goreng.  Banyak yang mesti disiapkan, salah satunya adalah uang (materi).  Bahkan kalau pun tersedia lokalisasi, juga perlu uang kan? Jadi ingat kasus yang viral di awal tahun, prostitusi online yang melibatkan banyak selebritis. Kan booking-nya 80 jeti, mahal kan?  Bagi yang yang berkantung slim dan beriman “luar biasa” tipis, incest seolah jalan keluar.  Astaghfirullah.

Parahnya, penguasa-penguasa di negri-negri muslim justru membebek menerapkan sistem Kapitalis, disertai segala turunannya. Mulai kebijakan-kebijakan Barat untuk penanganan generasi muda dan keluarga, atau dengan tangan terbuka menerima arus kerusakan melalui media massa, hiburan dan pariwisata.  Di Indonesia, ketika marak penyakit menular seksual dan aborsi di kalangan anak muda, justru sex education ala Barat yang dipandang sebagai solusi. Sebagai bagian dari upaya kontrol kependudukan.  Termasuk mempersoalkan poligami dan pernikahan di usia dini yang banyak terjadi , dengan alasan kontraproduktif terhadap pemberdayaan perempuan .

Alih-alih menuntaskan masalah, justru mereka dipusingkan lagi dengan problem  ikutannya. Lihat saja data terkait seks bebas, bukannya berkurang setiap tahun !  Pengetahuan remaja terkait seksualitas dan pemahaman tentang penggunaan alat kontrasepsi tidak mampu menekan prilaku yang rusak.  Justru para pelaku atau korban gaul bebas dan incest menjadi ‘pembunuh’ berdarah dingin bagi darah dagingnya sendiri .  Lihat kasus aborsi yang trus melesat.  Eh, negara sekarang malah “berniat” memfasilitasi aborsi aman. (merdeka.com, 21/2), dan si Dillan juga dipuji setinggi langit, sampai dibuatkan corner. (pikiran-rakyat.com, 10/2).  Apa pula ini maksudnya?

Duh, rasanya semakin kompleks kegalauan di tahun 2019, persoalan semakin menumpuk di depan mata.  Masihkah ada solusi atas semua kerusakan yang bagaikan benang kusut ini??

Kedudukan Perempuan dan Keluarga dalam Islam
Dienul Islam memandang seksualitas sebagai suatu fitrah yang alamiah.  Dorongan ini harus dipenuhi dengan jalan pernikahan saja.  Pemenuhan dengan selain itu (nikah), bahkan sampai mengeksploitasi perempuan seperti prostitusi, pornografi atau perkosaan merupakan tindakan yang diharamkan. Hubungan seksual yang menyimpang, termasuk incest adalah tindakan yang diharamkan Allah (QS. An Nisa : 23) .

Selain sebagai sarana yang sah untuk menyalurkan dorongan biologis, pernikahan juga akan mendatangkan kebahagiaan, rasa aman, rasa senang, dan persahabatan (QS. Ar Rum : 21).  Islam pun membuka peluang memiliki lebih dari satu istri (poligami), ketika pada suatu “keadaan” sang istri tidak mampu atau terhalang dari memenuhi kebutuhan seksual suaminya.  Dengan batas maksimal 4 istri. 

Pernikahan pun bernilai ibadah, sebagaimana sabda Nabi Saw : “ Jika seorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya.  Karenanya, bertakwalah kepada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Baihaqi).

Lalu bagaimana ketika punya anak perempuan, agar tak terjadi perubahan pandangan baik dari ayah atau mahrom yang lain?  Islam pun memposisikan anak perempuan adalah amanah yang harus dijaga.  Nabi bersabda :  “Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan, ia mengasuh mereka (dalam rumahnya), mencukupi mereka, dan menyayangi mereka maka tentu telah wajib baginya surga.” Maka ada (sahabat) yang berkata, Kalau dua anak perempuan, ya Rasulullah?” Nabi berkata, “ Dua anak perempuan juga.” (HR. Ahmad).

Sudah seharusnya relasi di dalam keluarga adalah relasi yang saling berkasih sayang, saling melindungi, dan berupaya melaksanakan seluruh kewajiban atau taklif dari-Nya.  Juga bagaimana agar hak-hak semua anggota keluarga bisa terpenuhi dengan baik.  Misalnya bagaimana anak dan istri harus dinafkahi suami.  Lalu bagaimana hak anak untuk diasuh dan dididik kedua orangtuanya.  Juga bagaimana hak suami kepada istri, dan hak istri kepada suami.  Sehingga sakinah (ketenangan) bisa diwujudkan, dalam bingkai mencari keridhoan Allah semata, bukan sekedar kepuasan dan kesenangan duniawi.

Mestinya, menikah itu dimudahkan bukan dipersulit seperti sekarang.  Padahal rangsangan begitu banyak di sekitarnya.  Peran negara sangat penting untuk mengatur, memfilter dan memastikan media meng-edukasi. Juga menerapkan ekonomi yang mensejahterakan. Bukan malah membiarkan rakyat semakin melarat dengan berbagai kebijakan liberal.  Yang menyebabkan para istri dan para ibu terpaksa berpisah dari suami dan buah hatinya. Hanya demi segepok devisa negara. Penguasa akan diminta tanggung jawab, di akhirat.

Nabi bersabda : ''Setiap  dari kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab untuk orang-orang yang dipimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya’’. (Bukhari & Muslim).

Selain itu, negara pun harus menerapkan pengaturan interaksi laki-laki dan perempuan dengan Islam. Juga pemberian sanksi yang keras bagi pelaku zina, incest, liwath dan penyimpangan seksual lainnya. Juga bagaimana jaminan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat, termasuk bagaimana menyediakan rumah yang layak huni dan memenuhi standar pengaturan ruang privat sesuai Islam. Sehingga mampu mencegah tindakan incest, dan perilaku menyimpang lainnya.

Rasul bersabda :  “ Sesungguhnya al- Imam  (khalifah) itu (laksana) perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung dengan kekuasaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sungguh, urgen adanya negara yang menerapkan syariah Islam kaffah.  Agar penguasa bisa total melayani dan mengurusi rakyatnya. Tak terhalang birokrasi dan “kepentingan” negara imprealis. Karena tugas khalifah (penguasa) untuk menjamin pemenuhan kebutuhan seluruh rakyat, apalagi jika itu berdampak pada rusaknya kesucian dan keluhuran masyarakat.

Dan sudah seharusnya,  mendidik  masyarakat dan mengemban dakwah adalah sesuatu yang tak boleh dipandang remeh, dalam proses menyadarkan pentingnya solusi Islam. Solusi dalam menyelesaikan kebobrokan sosial yang terjadi kini. Jangan malah upaya dakwah  dipandang sebagai tindakan radikal dan begitu ditakuti, gegara islamophobia akut.

Sekali lagi, hanya Islam harapan kita untuk mengurai kegalauan semua ibu (punya ABK atau tidak) dan siapa pun yang peduli dengan nasib keluarga, perempuan dan generasi ke depan.  Kita butuh al junnah (pelindang), Khilafah.  Dan itu tak kan terlaksana tanpa ada ‘niat baik’ untuk menjadikan Islam sebagai way of life.[MO/sr]

Posting Komentar