Oleh: Kamila Amiluddin 
(Guru dan Pemerhati Anak, Member Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com-Dalam pekan kali ini seakan jagat maya dihebohkan dengan diresmikannya taman sekaligus hari Dilan pada tanggal 28 Februari 2019 kemarin seperti yang dikutip dari laman Kapanlagi.com

“Tanggal 24 Februari 2019 merupakan hari yang bersejarah bagi para pecinta film Indonesia, khususnya para Dilanisme (sebutan penggemar trilogi film DILAN). Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang akrab disapa Kang Emil menetapkan hari tersebut sebagai Dilan Day.”  (27/02/2019).

Berita ini justru lebih banyak menuai komentar negatif dari para netizen maupun masyarakat lainnya yang sangat tidak setuju adanya hari Dilan tersebut bahkan pemutaran filmya dibeberapa kota sempat dikecam salah satunya di kota Makassar. Apa penyebabnya?
Banyak alasan mengapa banyak yang menolak pemutaran film Dilan. Jangankan untuk menobatkan hari Dilan filmnya saja ditolak untuk diputar karena tidak ada sisi baik dari adanya film tersebut. Yang ada hanyalah ajakan untuk generasi semakin menyenangi adegan-adegan maksiat perusak moral, sosok anak geng motor yang merusak, tidak patuh terhadap orang tua dan bersikap semena-mena terhadap guru. Apakah seperti ini sosok generasi yang menorehkan sejarah di Indonesia?

Demokrasi benar-benar membidik generasi muda kita yang mayoritas Islam untuk terus jauh dari kebaikan. Coba kita fikirkan bagaimana kedepannya ketika generasi muslim terpengaruh oleh Dilan. Para remaja dan generasi muda akan semakin tertarik untuk melakukan aktivitas pacaran yang menjurus kearah perzinahan, tidak ada lagi kita melihat seorang anak yang taat terhadap perkataan orang tua, menjadikan guru sebagai lelucon mereka bukan lagi dianggap orang yang mengajarkan banyak ilmu kebaikan pada mereka. Film yang diperankan dua pelajar sekolah ini terkesan jauh dari aktivitas sekolah yang sebenarnya sehingga membunuh karakter pemuda Islam lost identitas dan jati diri muslim sebagai “Abdullah”  (Hamba Allah).

Kitapun tidak pungkiri bahwa bukan hanya film Dilan yang membawa kehancuran pada negeri ini. Sebab yang kita ketahui persoalan dinegeri ini tidak hanya sebatas Dilan dan Milea. Namun, ini semua akibat dari bidikan demokrasi sekuler kapitalis yang terus maju merusak besar-besaran akhlak generasi muslim.

Wajar saja kita bertanya mengapa film Dilan mencuat pada tanggal-tanggal akhir bulan Februari ini? Muncul film Dilan kepermukaan pada saat ini seperti menghipnotis para pemuda muslim agar terlupakan dengan tragedi sejarah berdarah 1924 dan diganti dengan tayangan percintaan remaja 1991.

Inilah strategi perang pemikiran dari kaum sekuler dalam menghancurkan arah perubahan.
Mustafa Kemal Attaturk dalam sejarah dunia dia dianggap sebagai bapak pembaharu Turki modern yang namanya begitu harum sebagai peletak tonggak sekulerisme Turki. Namun bila kita jeli melihat sejarah dalam sudut pandang yang lain, Attaturk adalah orang Yahudi yang menyamar jadi muslim untuk menghancurkan Islam dari dalam. Dialah orang yang mengabolisi Khilafah Islam dibubarkan pada 3 Maret 1924. Dia adalah pengkhianat sekaligus pecundang.

Terjagalnya Khilafah tanpa daya pada bulan 28 Rajab 1342 H bertepatan dengan 3 Maret 1924 M terjadi dengan sekejap mata.

Proses itu dimulai ketika pada awal abad ke-19 M kaum muslimin mulai meninggalkan al-Qur`an dan as-Sunnah untuk memecahkan masalah-masalah mereka, dan tertarik dengan ideologi Liberal yang menggiurkan nafsu manusia.

Ini adalah bukti bahwa sejarah yang sesungguhnya sengaja ingin dihapus dari pemikiran pemuda muslim saat ini. Namun, Islam tidak akan pernah hilang dihati dan fikiran para pengemban dakwah. Lihat saja ketika kita mampu membandingkan siapa sesungguhnya sosok pemuda Islam yang menorehkan tinta emas kegemilangan Islam pada masanya yakni 1453 H.


Sultan Mehmed II atau juga dikenal Sultan Muhammad Al Fatih (30 Maret 1432 – 3 Mei 1481), beliau adalah Sultan yang memerintah di Dinasti Turki Utsmani.

Muhammad Al Fatih dilahirkan di Edirin pada 30 Maret 1423 M yang mana pada waktu itu Edirin adalah pusat kota pemerintahan Dinasti Turki Utsmani.

Beliau adalah putra dari Sultan Murad II beliau hidup di masa setelahnya Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pahlawan perang Salib) 1137 -1193 M.

Sultan Muhammad Al Fatih sudah diangkat menjadi sultan ketika usianya baru menginjak 12 Tahun.

Mendapat julukan Al Fatih (sang penakluk) karena telah berhasil menaklukkan Konstantinopel dan dilakukan pada saat usianya masih 21 Tahun.

Sultan Muhammad Al Fatih mempunyai kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika & menguasai 6 bahasa.

Luar bisasanya keberadaan Muhammad Al-Fatih ini pun telah diprediksi oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” (H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335).

Dari sudut pandang Islam, ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dan tawadhu.

Kejayaannya Al Fatih dalam menaklukkan konstantinnopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepemimpinannya serta taktik dan strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaidah pemilihan tentaranya.


Lalu bagaimana dengan Dilan? apakah ia potret generasi Islam pada masa ini?[MO/vp]






Posting Komentar