Oleh: Nur Azizah
(Aktivis Remaja Muslimah) 

Mediaoposisi.com-Tidak banyak Muslim yang tahu. Ada peristiwa penting apa yang terjadi di bulan Maret. Tepatnya pada tanggal 3 Maret 1924. Sekitar 95 tahun yang lalu, terjadi tragedi besar yang membalik penuh Tatanan hidup umat islam.

Tragedi ini bukan karena Tsunami atau Bencana alam yang menyebabkan korban jiwa. Melainkan malapetaka yang sangat dahsyat. Yaitu Runtuhnya sebuah negara adidaya yang telah berusia 14 abad lamanya, Daulah Khilafah Utsmaniyah.

Khilafah Islamiyyah telah bermula sejak zaman selepas kewafatan Rasulullah SAW, sejak pemerintahan Khulafaur Rasyidin, dilanjutkan pemerintahan Bani Umayyah, Bani Abbasiyyah, serta beberapa kerajaan lain sebelum kejatuhan kerajaan Islam yang terakhir, yaitu kerajaan Turki Utsmaniyyah.

Khilafah Islamiyyah merupakan kekuatan umat Islam yang amat menggetarkan pihak Barat. sementara Khalifah adalah pengganti Rasulullah dalam mentadbir dan memerintah negara Islam, sekaligus sebagai pemimpin bagi umat Islam secara keseluruhan.

Setelah beberapa abad menguasai dua pertiga dunia, Kerajaan secara resmi dibubarkan pada 3 Maret 1924 M bertepatan dengan 27 Rejab 1342 H oleh Mustafa Kemal Ataturk. Kepemimpinan Islam terakhir yang mampu bertahan sehingga jatuhnya Khilafah Islamiyyah ini adalah yang di Pimpin oleh Utsmaniyyah.

Siapa Mustafa Kemal Atartuk?

Mustafa Kemal Ataturk merupakan dalang dan pengkhianat di balik kejatuhan kepemimpinan Utsmaniyyah dan pembubaran Khilafah Islamiyyah khususnya.

Mustafa dilahirkan di Salonica pada 12 Maret 1881 Salonica merupakan kota orang Yahudi yang mempunyai penduduk sejumlah 140.000 orang. Sebanyak 20.000 dari mereka merupakan orang Yahudi Aldunama, yaitu kaum Yahudi yang berpura-pura memeluk agama Islam.

Sewaktu kecil, Mustafa Kemal Atartuk sangat dibenci dan disisihkan oleh teman-temannya. Dia  sering bertengkar dengan guru, dan merasa senang jika mampu menyakiti seseorang. Dia sangat membenci bangsa Arab.

Ia mulai sekolah di Sekolah Fatimah, sebuah sekolah agama yang terkenal. Namun karena ayahnya membenci guru guru agama, Mustafa dipindahkan ke sekolah lain yang memasukkan Kurikulum Barat dalam pendidikannya. Pada usia dua belas tahun, Mustafa telah memasuki sekolah tentera di Salonica.

Di sinilah guru-gurunya memberi gelar “Kemal” yang berarti pandai dalam pelajaran dan matematika.

Pada tahun 1898 ketika berusia 17 tahun, Dia memasuki Sekolah Tentara Monaster dan pada 1899, dia masuk Sekolah Tentara Istanbul. Di sini dia mulai aktif di bidang politik dan memasuki gerakan – gerakan rahasia. Pada tahun 1902 dia mendapat pendidikan di Akademi Staf Komando Militer dan lulus pada tahun 1905.

Mustafa Kemal Atartuk merupakan militer Turki yang melakukan konspirasi bersama pihak Barat untuk menjatuhkan Khilafah Islamiyyah dan menjadikan Turki sebuah Republik yang berdasarkan ideologi sekular.

Sejak tanggal 3 Maret 1924 umat Islam menjalani kehidupan bermasyarakat dan bernegara tanpa kehadiran sistem pemerintahan Islam Al-Khilafah Al-Islamiyyah.

Berdasarkan hadits Nabi riwayat Imam Ahmad tersebut ternyata Nabi menggambarkan bahwa periode keempat umat Islam akan hidup ”tanpa khilafah”.

Periode tersebut Nabi sebut sebagai periode Mulkan Jabbariyyan (Para Raja/Penguasa yang Memaksakan Kehendak). Saudaraku, periode itulah yang sedang kita lalui saat ini.

Suatu periode dimana umat Islam tidak saja kehilangan sosok khalifah yang layak memimpin dan melindungi mereka, namun lebih jauh daripada itu mereka bahkan tidak lagi dinaungi oleh sistem pemerintahan Islam bernama Khilafah Islamiyyah.

Inilah periode kepemimpinan Mulkan Jabbariyyan alias para penguasa yang memaksakan kehendak yang berarti mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya. Inilah periode dimana umat Islam Babak Belur. Inilah periode paling kelam dalam sejarah Islam. We are living in the darkest ages of the Islamic history.

Tanpa Khilafah, Muslim tak ada apa-apanya

Seperti ikan yang dipaksa hidup di daratan kering, tanpa air sebagai habitatnya, begitulah kaum muslimin tanpa khilafah. Tak ada apa-apanya. Lenyapnya Khilafah berarti lenyap pula penjagaan Islam pada seluruh penerapan hukum syara’.

Sebagaimana dikatakan Rasulullah SAW, seorang Khalifah (Imam) adalah bagaikan perisai atau benteng bagi Islam, umatnya, dan negeri-negeri Islam. Sabda Nabi SAW:

“Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah ibarat perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Muslim, Abu Dawud, An Nasa`i, dan Ahmad).[MO/ad]

Posting Komentar