Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Hehe, setelah kasus Rommy kena OTT KPK ternyata bukan hanya Erwin Aksa yang bersikap dan terbuka merubah haluan. Deny JA, juga segera rilis survei untuk bantalan, persiapan menghadapi kenyataan bahwa Jokowi kalah.

Fakta Jokowi kalah ini, tentu akan menampar muka Deny JA yang konon menyebut dirinya 'the 30 Person influential 2015'. Karena itu, Deny JA butuh sekoci untuk 'kabur' dari kapal Jokowi.

Sebelumnya, Deny JA bersamsa beberapa lembaga survei yang lain terlalu berlebihan membedaki Jokowi. Hasil survei yang berulang kali koor menyebut Jokowi unggul tentu akan kehilangan muka menghadapi fakta kekalahan Jokowi.

Diantara yang paling bisa dipersalahkan dan tidak mampu membela diri adalah suara golput. Ya, Deny JA telah membuang sial kekalahan Jokowi pada faktor 'pemilih milenial yang golput'.

Dengan rilis terakhir ini, publik diajak nalarnya menerima, bahwa kekalahan Jokowi itu karena besarnya suara pemilih yang golput. Dan, ini bisa menjadi bantalan sekaligus sekoci bagi Deny JA dkk, untuk kabur dari tanggung jawab, karena selama ini mereka rajin memoles kemenangan Jokowi.

Padahal, angka golput itu sudah menjadi tren, jauh sejak sebelum era istilah milenial diperkenalkan. Kecenderungan golput dari pemilu ke pemilu terus meningkat.

Partisipasi pemilih pada Pilpres 2014 berdasarkan data yang dilansir KPU sebesar 69,58 persen. Sementara pada pemilu legislatif 2014 partisipasi 75,11 persen, dan Pilpres 2009 partisipasi sebesar 71,17 persen. Partisipasi memilih ini berbanding lurus dengan angka golongan putih (golput). Angka golput pada Pilpres 2014 sebesar 30,42 persen meningkat dari Pilpres 2009 dan Pileg 2014.

Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (PDF), angka golput menunjukkan tren yang meningkat. Tingkat golput awalnya hanya sebesar 8,60 persen pada 1955, lalu turun 5,2 persen menjadi 3,4 persen pada 1971. Kemudian, pada Pemilu 1977 hingga 1997, tingkat golput perlahan mengalami kenaikan.

Secara umum, tingkat golput di era Orde Baru (1955-1997) cenderung lebih rendah dibandingkan era setelahnya, yaitu berada pada rentang 3 hingga 6 persen. Hal ini terjadi karena pemilihan pada era ini berupa pengalaman mobilisasi, bukan partisipasi.

Pada era reformasi, tingkat golput semakin memprihatinkan. Angkanya melambung hingga puncaknya pada Pileg 2009 yang mencapai 29,1 persen. Meningkatnya angka golput berarti partisipasi pemilih semakin menurun. Selain itu, ini juga mengindikasikan tingkat kepercayaan kepada proses demokrasi yang menurun.

Adapun golput itu sendiri bisa dipengaruhi beberapa sebab/alasan :

*Pertama,* Golput karena alasan teknis administratif. Yakni, mereka yang memilih golput atau dikategorikan golput karena tidak punya kartu suara, belum punya e KTP, suara rusak, atau serangkaian tindakan golput yang disebabkan kendala teknis dan administratif.

*Kedua,* Golput karena alasan praktis pragmatis. Yakni, mereka yang enggan menuju bilik suara karena dianggap tidak ada manfaatnya. Lebih baik bekerja cari uang, atau bersenda gurau bersama keluarga.

*Ketiga,* Golput karena alasan politis ideologis. Yakni, orang-orang yang memiliki pandangan ideologi bahwa problem bangsa ini tidak sebatas pemimpin tetapi juga sistem.

Ikut pemilu atau Pilpres tidak mungkin merubah sistem. Golput yang mereka lakukan adalah perjuangan dan perlawanan pada status Quo yang rusak. Mereka, memiliki perspektif dan jalan perubahan yang keluar dari arus mainstream.

Lantas, apa korelasinya golput mempengaruhi suara Jokowi ? Jika golput itu terkategori golput politis ideologis, justru mereka golput itu karena emoh pada Jokowi tetapi juga belum melihat Prabowo sebagai solusi.

Lantas, apa argumennya angka golput milenial mempengaruhi suara Jokowi ? Dengan kata lain, Jokowi kalah karena besarnya angka golput. Memangnya yang golput itu mau dukung Jokowi ? Kemudian urung untuk memilih Jokowi ?

Alasan yang paling argumentatif adalah bahwa saat ini Deny JA -dan segera akan diikuti lembaga survei yang lain- ingin mencari argumen sebagai sekoci penyelamat atas melesetnya survei-survei yang mereka lakukan.

Mereka telah terlanjur memoles Jokowi dengan citra survei melampaui batas, dan ini akan menjadi bumerang saat fakta real menyatakan Jokowi kalah telak. Nah, para golputer ini lah yang disalahkan oleh Deny JA sebagai penyebab kekalahan Jokowi, Deny implisit mau bilang 'bukan survei kami yang keliru, tapi tren golput yang merubah keadaan'.

Sial dan apes sekali para golputer. Mereka ini salah dan dosa apa sama Deny JA ? Sehingga mereka dituding sebagai faktor penyebab kekalahan Jokowi.

Kenapa tidak salahkan kebohongan Jokowi ? Salahkan OTT KPK terhadap Rommy ? Salahkan Tim internal partai koalisi TKN yang cakar-cakaran ? Semoga, para golputer tidak marah disalah-salahin Deny JA. [MO|ge]

Posting Komentar