Oleh: Amelia

Mediaoposisi.com-Slogan "Indonesia Maju" yang digaungkan pasangan calon presiden Jokowi – Maruf merupakan wujud optimisme, demikian disampaikan ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi – Maruf, Erick Thohir dalam kovensi rakyat di Sentul International  onvention Center, minggu (24,2).

Optimis memang harus tapi apakah mungkin kita masih bisa optimis Indonesia bisa maju jika negara ini masih menerapkan sitem sekuler kapitalis? Padahal sudah jelas-jelas sistem inilah yang membuat kita sengasara berkepanjangan hingga saat ini.

Mengapa tidak, multi krisis terjadi di semua lini kehidupan, nilai rupiah semakin merosot yang berdampak pada krisis perekonomian negeri ini, demikian juga dengan hutang luar negeri yang semakin membengkak yang entah kapan negeri ini bisa melunasinya; masuknya produk-produk pertanian impor yang mematikan para petani negeri, masuknya para tenaga kerja asing yangmengambil pekerjaan-pekerjaan anak bangsa dan masih banyak lagi lainnya. Apakah ini yang dimaksud dengan kemajuan? Kemajuan bagi siapa? Bagi rakyat dan negara inikah? Atau bagi rakyat dan negara asing?

Ini semua terjadi semata karena sistemlah penyebabnya sistem kapitalis sekuler dan demokrasi kufur yang diterapkan negeri ini membawa kita semakin terperosok dalam jurang Kesengsaraan dan sejak awal penerapannya tidak pernah memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya bahkan negara asal sistem inipun saat ini tengah diseret menuju kehancurannya. Jika demikian masihkah kita berharap dan terus menerapkan sistem rusak ini? Padahal islam bisa membalikkan posisi krisis yang dialami indonesia dan dunia saat ini menjadi sejahtera, yaitu dengan menerapkan sistem ekonomi islam dalam hubungan ekonomi global melalui Khilafah islamiyah,dengan cara,:

Pertama, Menerapkan Mata uang berbasis emas dan perak
Mata uang berbasis emas dan perak (dinar dan dirham) menjadi mata uang negara yang bersifat universal berlaku di negara manapun. Menjamin kebebasan tiap negara dan penduduk negara untuk bertransaksi ekonomi dan perdagangan tanpa takut mengalami gejolak kurs, kehilangan kekayaan atau penjajahan moneter.

Kedua, Memajukan Sektor Riil
Ekonomi Islam adalah ekonomi yang berbasis sektor riil karena Islam memandang kegiatan ekonomi hanya terdapat dalam sektor rill seperti pertanian, industri, perdagangan dan jasa. Sektor-sektor inilah yang nanti akan didorong untuk berkembang maju, tentu saja dengan hukum-hukum yang berbeda dengan perekonomian kapitalis dalam hal kepemilikan, produk (barang/jasa) dan transaksi perekonomiannya.

Ketiga, Menciptakan Mekanisme Pasar Internasional Yang Adil
Dalam Islam hubungan perdagangan luar negeri diberlakukan terhadap negara lain jika secara politik negara tersebut terikat perjanjian dengan daulah khilafah, tidak ada motif keserakahan menguasai ekonomi luar negeri tapi semata untuk mendapat manfaat dari pertukaran baik dari sisi kebutuhan akan suatu komoditi atau keuntungan ekonomi  Negara juga tidak memungut cukai dari komoditas yang datang dari negara lain jika negara tersebut tidak memungut cukai atas komoditas yang dibawa warga negara khilafah, inilah pola hubungan internasional yang adil dan tidak saling mengeksploitasi.

Keempat, Mengemban Misi Kemanusiaan.
Ekonomi islam menjunung tinggi harkat dan martabat manusia, di dalam negeri khilafah menjalankan ekonomi yang bertujuan menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap warga negara, bahkan mendorong setiap warga untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya.

Di luar negeri, khilafah menjadi politik dakwah dan jihad dalam kerangka dakwah dan kemanusiaan. Khilafah bisa menggunakan kekuatan ekonominya untuk menolong bangsa yang sedang ditimpa bencana. Sejarah mencatat bahwa pada abad ke 18 khilafah Turki Utsmani pernah mengirimkan bantuan kepada Amerika pasca perang melawan Inggris. Demikian juga bantuan uang dan pangan untuk Irlandia yang terkena bencana kelaparan besar yang menewaskan lebih dari 1 juta orang. Inilah metode islam untuk memajukan negeri kita yang merupakan solusi bagi umat manusia untuk keluar dari krisis dan hidup sejahtera, yang nantinya akan mengembalikan jati diri bangsa sebagai umat islam.[MO/sr]

Posting Komentar