Oleh: Sri Yana

Mediaoposisi.com-Baru-baru ini telah berhembus berita korupsi yang menggemparkan jagad perpolitikan. Korupsi ini memang sudah menjadi hal biasa terdengar di sistem yang melenakan pejabat yang kini telah berkuasa.

Misalnya saja kasus Ketua Umum PPP M. Romahurmuziy atau alias Romi dan empat orang lainnya diamankan KPK di Jawa Timur. Kelimanya di duga melakukan suap terkait jual beli jabatan di Kementrian Agama, baik di pusat ataupun di daerah.

Sementara itu, empat ketua umum lainnya berasal dari Partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partau Persatuan Pembangunan.(wartakota.tribunnews.com,17/3/2019)

Selain itu dalam catatan detik.com, minggu (17/3/19) skandal korupsi tidak hanya dilakukan elite pejabatnya, tapi hingga tingkat bawah. Salah satunya dilakukan oleh PNS yang juga kasir Koperasi Kantor Kemenag Sidoarjo Jawa Timur (Jatim) Lilik Handayani.

Bak seperti mimpi di siang bolong, ironi keadaan saat ini, yang kini korupsi semakin subur dengan dipupuki sistem demokrasi yang masih brselimut di negeri Ini.

Dimana kita akan berlidung? Dari jeratan sistem demokrasi yang kian hari semakin ganas. Menggerogoti negeri tercinta ini. Bahkan korupsi yang menjadikan pemujanya semakin menjadi-jadi dan jeratan penjara tak menjadikannya jera. Tapi semakin hari tindak korupsi semakin meningkat.

Karena hukuman di sistem demokrasi ini, bagi pelaku koruptor tak membuat jera. Diakibatkan di negeri ini semua bisa dibeli. Bahkan para pelakunya bisa jalan-jalan ke Bali. Sampai-sampai di jadikan sebuah lagu oleh Bona Paputungan pada tahun 2011.

Bona merupakan mantan narapidana yang pernah merasakan tidak nyamannya ketika berada di jeruji besi. Berbeda dengan  Gayus tambunan yang terkena kasus pajak, ketika berada di jeruji besi ia bisa jalan-jalan ke Bali.

Sebagai renungan bagi dirinya, Bona ciptakan lagu "Andai Aku Gayus Tambunan" yang akhirnya menjadi viral.

Sungguh miris hukum saat ini, ketika uang memainkan peranan penting. Bagi yang memiliki uang hukum bisa dibeli, sedangkan yang tak memiliki uang hanya bisa menerima nasib.

Makanya korupsi dalam wadah demokrasi subur bagai jamur yang tak kan pupus. Karena keadilan semakin memudar dikalangan para petugas keamanan. Bagaimana tidak? Ketika hukum bisa dibeli oleh siapa saja. Negara ini akan terus bertambah masalah yang tak terselesaikan.

Oleh karena itu, tidak ada jaminan orang baik akan selamat dari korupsi, ketika demokrasi yang berkuasa. Sejatinya demokrasi akan menghalakan segala cara agar mendapatkan uang sebanyak-banyaknya.

Bahwa hanya kembali kepada sistem Islam lah, korupsi dapat dihentikan secara tuntas. Karena dengan sistem Islam para pejabat hingga pegawai tingkat rendah hanya takut kepada Allah.

Seperti kisah Rasulullah yang tidak bisa tidur, karena beliau memakan sebutir kurma yang tergeletak di rumahnya, yang beliau tidak mengetahui milik siapa kurma itu, ia khawatir jika kurma itu adalah kurma sedekah.

Begitulah suritauladan  Rasulullah ketika menjabat sebagai kepala negara. Berbeda dengan sistem demokrasi saat ini, yang menjadikan korupsi semakin subur. Ibarat tanaman yang disiram dan dipupuk, kian hari akan semakin besar.[MO/ad]

Posting Komentar