Gambar: Ilustrasi
Oleh. Anisah Hanif
(Pegiat Literasi, Anggota Akademi Menulis Kreatif Regional Jatim)

Mediaoposisi.com-Surga adalah sebuah kenikmatan tanpa batas. Siapapun, pasti tidak akan menolak untuk tinggal di dalamnya. Dan ‘sedungu-dungunya‘ manusia, ia mengetahui untuk bisa memasukinya harus seizin pemiliknya yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Maka, menjadi sebuah kewajaran jika seorang muslim berusaha untuk meningkatkan ketaqwaannya dan ikhlas dalam beribadah.

Seorang muslim juga akan sekuat tenaga dalam belajar ilmu diin karena dari situlah ia memahami ajaran Islam. Sebagaimana Allah Ta’ala perintahkan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Ibnu Mas’ud berkata, “Dahulu orang-orang di antara kami (yaitu para sahabat Nabi) mempelajari sepuluh ayat Qur’an, lalu mereka tidak melampauinya hingga mengetahui makna-maknanya, serta mengamalkannya.” (Muqoddimah Tafsir Ibnu Katsir)

Seharusnya, tidak ada yang boleh mencegah seorang muslim untuk menuntut ilmu agama dan mendiskusikan permasalahan-permasalahan diri, umat, dan dunia dari sudut pandang agamanya. Seharusnya, tidak ada yang boleh melarangnya untuk mengekspresikan cinta dan cita-citanya menjadi muslim kaffah. Karena, yang mereka lakukan atas dasar keimanan pada Rabb-nya. Karena yang mereka lakukan sebagai bentuk upaya meraih surga-Nya.

Menjadi keanehan, ketika seorang muslim ‘dipaksa’ untuk tidak taat dengan agamanya. Menjadi keanehan, ketika seorang muslim ‘dipasung’ rasa cintanya pada Allah dan Rasul-Nya. Menjadi keanehan, ketika seorang muslim dilarang bahkan ‘ditempeleng’ saat mengucapkan kata yang termaktub dalam kitab sucinya. Sebagaimana peristiwa pembubaran kegiatan diskusi mahasiswa di UIN-SU dan polemik istilah kafir.

Tepat pada Jumat (08/03/19) lalu, telah terjadi pembubaran kegiatan diskusi mahasiswa atau “Dialogika” di kampus UIN-SU yang dilaksanakan oleh Gerakan Mahasiswa Pembebasan Komsat UIN-SU yang mengangkat tema “Malapetaka Runtuhnya Khilafah.” (Baca: http://www.dakwahsumut.com/2019/03/15)

Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu, prihatin atas mudahnya seseorang mencap orang lain dengan istilah 'kafir'. Ryamizard menegaskan, persatuan harus dijaga meski berbeda agama. "Saya selalu baca surat itu lakum diinukum waliyadiin, agamamu, agamamu. Kamu tidak menyembah apa yang saya sembah dan saya tidak menyembah apa yang kamu sembah. Masuk neraka itu urusan Tuhan, enaknya kalau bilang kafir-kafir. Kalau ada yang bilang kafir, saya tempeleng. Pancasila itu persatuan Indonesia yang berperikemanusiaan," tuturnya. (Baca:
https:/www.news.detik.com/2019/03/15)

Bagaimana mungkin, seorang muslim dilarang belajar tentang agamanya dan peduli dengan kondisi umat Islam. Bagaimana mungkin, seorang muslim dilarang untuk menghilangkan istilah-istilah yang Allah subhanahu wa ta’ala sematkan di dalam kitab sucinya. Bagaimana mungkin, seorang muslim dipaksa untuk berkhianat kepada Rabb-nya. Bagaimana mungkin, seorang muslim harus rela disiksa Malaikat Zabaniyah di akhirat kelak. Sungguh diluar nalar akal sehat.

Demokrasi atau lebih keren disebut Democrazy, itulah yang menjadi pangkal hilangnya akal sehat seorang muslim. Demokrasi yang menjadi penyebab ‘diharamkannya’ hukum Allah diterapkan atas seorang muslim secara kaffah. Demokrasi yang menjadi penyebab ‘terkuburnya’ cita-cita seorang muslim menjadi sebenar-benar 'abdullah (hamba Allah). Demokrasi yang menjadi penyebab terjungkalnya hukum Allah. Demokrasi yang telah menjadi ‘jagal’ ajaran Islam.

Demokrasi tidak akan memberi ruang pada agama mengatur kehidupan. Karena, asas demokrasi adalah sekularisme. Sekularisme adalah faham fashluddin ‘anil hayyah (pemisahan aturan agama dan kehidupan). Sekularisme hanya akan mengkerdilkan posisi Pencipta, Pemilik, dan Pengatur alam semesta ini.

Lalu, kemuliaan apa yang masih diharapan dari sistem Demokrasi ini? Bukankah demokrasi memerintahkan bertindak ‘kurang ajar’ kepada Rabb manusia? Bukankah demokrasi memerintahkan ‘menjauh’ dari seruan Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam?

Wahai kaum muslimin, demokrasi tidak akan memberi kemuliaan apapun kecuali kehinaan dan kesengsaraan. Demokrasi, dalam sejarahnya, tidak pernah memberi kesejahteraan dengan adil pada seluruh manusia kecuali segelintir orang. Bahkan pencetus demokrasi sendiri telah menyatakan kerusakanya. Dalam bukunya ‘Politics’, Aristoteles menyebut Demokrasi sebagai bentuk negara yang buruk (bad state).

Menurutnya, negara Demokrasi memiliki sistem pemerintahan oleh orang banyak dimana satu sama lain memiliki perbedaan (atau pertentangan) kepentingan, perbedaan latar belakang sosial ekonomi, dan perbedaan tingkat pendidikan. Saatnya kaum muslimin kembali kepada sistem yang benar, sistem yang memuliakan. Sistem yang meletakkan sang Pencipta pada posisi yang benar. Sistem tersebut adalah Khilafah. Sistem yang lahir dari rahim peradaban Islam. [MO/ms]

Posting Komentar