Oktavia Nurul Hikmah, S.E. 
(Komunitas Sinergi Muslimah)

Mediaoposisi.com-Sobat, kalian pasti tak asing dengan nama Mustafa Kemal Pasha. Terutama yang sedang berada di jenjang menengah, nama ini dikaitkan dalam satu bab di pelajaran Sejarah. Ia digambarkan sebagai sosok pembaharu, penyelamat Turki dari kemunduran.

Media barat menjuluki Turki jelang keruntuhan Khilafah sebagai the sick man, negara yang sakit dan menjelang ajal. Saat itu, Turki mengalami kekalahan di berbagai perang. Pemikiran masyarakat teracuni pemikiran barat yang melemahkan aqidah dan mengeruhkan kebeningan Islam.

Baca juga : 95 Tahun Tanpa Daulah Islam

Episode berikutnya, tampillah sosok pahlawan penyelamat, Mustafa Kemal Attaturk. Mustafa dicitrakan mampu merengkuh Turki dari kubangan kehancuran karena ia menawarkan perubahan.

Perubahan total itu adalah penghancuran kekhilafahan Turki Utsmani beserta segala simbol Islam. Ringkasnya, sekulerisasi di segala bidang dan pemusnahan perisai umat yaitu Khilafah.

Tepat 3 Maret 2019, umat mengalami kekosongan kepemimpinan selama 95 tahun. Sungguh, inilah musibah terbesar umat ini. Kekalahan perang tidak ada apa-apanya dibandingkan sakit berkepanjangan yang dirasakan umat karena ketiadaan Khilafah.

Khilafah, sebuah sistem kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Orang yang memimpinnya disebut Khalifah, dapat juga disebut Imam atau Amirul Mukminin

Ketiadaan Khilafah bermakna tiga hal. Tidak adanya persatuan umat, tidak diterapkannya hukum-hukum Islam, dan berhentinya dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Inilah yang dirasakan umat saat ini.

Umat Islam tercerai-berai dalam sekat-sekat yang dibuat nasionalisme. Ukhuwah itu kental terasa di musim haji, namun lenyap saat kembali ke negeri masing-masing. Muslim Indonesia tak bisa membela muslim Rohingya, karena sekat negara bangsa.

Muslim Mesir mesti berdiam diri atas kedzaliman yang menimpa Palestina, karena berbeda negeri. Para penguasa mengutuk namun tidak melakukan aksi. Bantuan dan doa mungkin sampai kepada muslim yang teraniaya.

Namun, banyak kasus menunjukkan ketegasan dan bantuan militer jauh lebih dibutuhkan. Tidak adanya seorang khalifah yang memimpin dan menyatukan umat adalah penyebab berbagai kedzaliman terus langgeng menimpa umat Islam.

Khilafah adalah sistem kepemimpinan yang menjamin penerapan hukum Islam. Seorang Khalifah dibaiat untuk menjalankan kepemimpinan berdasarkan syariat Islam.

Tidak ada satu kebijakan khalifah yang bertentangan dengan syariat, kecuali rakyat dan struktur pemerintahan lainnya akan segera meluruskannya.

Ketiadaan Khilafah menyebabkan umat dipimpin oleh para penguasa yang berpaham sekuler. Lebih parah lagi, simbol Islam dipertontonkan saat masa pemilihan, namun enggan menerapkan syariat kaffah saat mahkota kuasa telah disematkan.

Khilafah adalah jaminan terwujudnya Islam Rahmatan lil Alamin (Islam rahmat bagi seluruh alam). Hal itu dikarenakan dakwah dan jihad adalah bagian dari kebijakan politik luar negeri daulah Islam yang telah dicontohkan pula oleh baginda Rasulullah SAW.

Setelah hijrah beliau ke Madinah dan tegaknya daulah Islam, Rasulullah sebagai pemimpin umat Islam segera menstabilkan urusan dalam negeri serta mengirimkan berbagai ekspedisi ke luar Madinah.

Setelah kondisi daulah stabil, beliau mulai menghilangkan rintangan-rintangan fisik yang menghadang di tengah jalan penyebaran Islam (Taqiyuddin An Nabhani, 2014:69).

Ketiadaan Khilafah menyebabkan aktivitas dakwah terbatas pada individu dan kelompok. Sementara dakwah negara tidak lagi terlaksana.

Sebaliknya, serangan atas aqidah umat Islam terus terjadi di berbagai penjuru dunia. Saat menjadi minoritas, umat Islam mengalami diskriminasi sebagai buah Islamophobia. Sementara saat menjadi mayoritas, umat pun terbatasi menerapkan Islam secara kaffah karena sistem kufur yang diterapkan atas negeri mereka.

Mustafa Kemal Pasha menemui ajalnya dengan menyakitkan. Ia menderita berbagai penyakit dan senantiasa merasakan panas tak terkira. Sampai-sampai pemadam kebakaran diarahkan untuk menyiram rumahnya dan diletakkan es batu di balik selimutnya.

Namun tak satupun upaya mampu menghilangkan rasa panas yang dideritanya. Saat kematiannya, tidak ada seorangpun ulama yang mau mengurus mayatnya. Setelah adiknya memohon kepada para ulama, mayatnya pun diurus sebagaimana mestinya.

Namun, saat hendak dikuburkan, bumi menolak tubuhnya. Mayat itupun terpaksa diawetkan dan hendak dikuburkan kembali setelah 15 tahun. Namun, hal serupa kembali terjadi. Pada akhirnya, mayatnya dibawa ke suatu bukit dan ditanam di celah-celah marmer.

Khilafah adalah ajaran Islam yang agung. Allah telah menampakkan kehinaan bagi manusia yang menghancurkannya. Sebaliknya, Allah akan berikan kemuliaan dan pahala yang besar pada  hamba yang memperjuangkan kehadirannya. Telah berlalu masa yang lama tanpa naungan Khilafah.

Mari memanfaatkan umur yang diberikan Allah dengan berjuang sungguh-sungguh untuk mewujudkan penerapan syariah kaffah dalam naungan Khilafah.[MO/ad]

Posting Komentar