Oleh: Sri Wahyuni, S.Pd

Mediaoposisi.com-Runtuhnya khilafah pada 3 Maret 1924 menyisakan pilu mendalam bagi umat muslim. Betapa tidak, kejadian yang sudah berlalu 95 tahun, namun dampaknya masih terus kita rasakan hingga hari ini.

Kaum muslim hidup terlunta-lunta, keadilan begitu sulit didapatkan, nyawa mereka tak lagi berharga. Disana, di China kaum muslim tak diberi kebebasan bahkan hanya untuk sekedar memenuhi hajat ke kamar mandi. Mereka tak diizinkan menunaikan sholat dan aktivitas ibadah lainnya.

Mereka pun harus pasrah ditempatkan di kamp-kamp sempit tanpa alas dan bantal empuk. Jika mereka melawan maka berbagai senjata tajam siap melukai tubuh mereka bahkan menghilangkan nyawa mereka sekalipun.

Hal yang tak jauh berbeda terjadi di Myanmar, kaum muslim disana diburu bak hewan buruan. Begitu pun yang terjadi di Palestina, telah sejak lama mereka mendapat perlakuan yang tak manusiawi, rumah-rumah mereka dihancurkan, nyaris tak ada tempat aman bagi mereka untuk berlindung.

Di negeri ini pun kaum muslim sulit mendapatkan keadilan, hanya karena ujaran “Ideot” seorang Ahmad Dhani harus berurusan dengan hukum.

Padahal di lain sisi Victor Laiskodat dapat bebas dari hukum meski terbukti telah menista agama Islam. Dalam kasus lain, seorang muslim yang baru terduga teroris harus kembali kepada keluarganya dalam kondisi tak bernyawa.

Kehinaan dialami pula oleh kaum perempuan pasca runtuhnya Khilafah. Perempuan menjadi obyek pemuas nafsu kapitalis. Mereka dijadikan sebagai komoditas murahan dan obyek kesenangan kaum lelaki. Parahnya hal tersebut tak banyak disadari oleh kaum perempuan.

Materi dianggap sebagai tolak ukur kebahagiaan, sementara itu nilai-nilai agama tak lagi dipedulikan. Demi memiliki kehidupan mewah apapun pekerjaan dilakoni, dari jual suara hingga jual diri menjadi pemandangan yang seolah harus dimaklumi. Rasa malu tak lagi dimiliki, bahkan bergoyang dengan pakaian mini dianggap seni.

Di lain sisi, mereka yang masih memegang teguh nilai-nilai agama harus turut menjadi korban. Tak jarang demi mencukupi kebutuhan mereka harus banting tulang, bekerja berjam jam lamanya, bahkan terkadang harus keluar dari fitrahnya sebagai “Ummu Wa Rabbatul bait” yang seharusnya menemani tumbuh kembang putra-putrinya, mempersiapkan mereka menjadi generasi emas pengukir peradaban Islam. Namun  peran mulia tersebut harus rela ditanggalkan.

Sementara itu di masa keemasan Islam, kedudukan perempuan sangat dimuliakan, begitu mulianya kaum perempuan, Allah abadikan mereka dalam salah satu surat Al-qur’an yaitu surat An-nisa.

Kehormatan mereka pun terlindungi, seperti di masa Khalifah al-Mu’tashim Billah, tatkala seorang wanita dilecehkan kehormatannya, Sang Khalifah bersegera mempersiapkan pasukannya untuk menyelamatkan wanita tersebut.

Hal serupa ditunjukkan oleh sultan al-Hajib al-Manshur, salah seorang pemimpin daulah Amiriyah di Andalusia yang menggerakkan pasukan besar untuk menyelamatkan tiga wanita yang menjadi tawanan kerajaan Navarre.

Tak hanya itu perempuan memiliki peran yang sangat strategis dalam berkontribusi membangun sebuah peradaban yang agung. Sebut saja khadijah ra, Istri tercinta rosulullah yang menjadi sumber kekuatan beliau dalam mengemban risalah Islam dan pendukung setia beliau dalam berdakwah.

Ada pula sosok Fatimah Al Fihri pendiri universitas pertama di dunia yang kiprahnya di dunia pendidikan tak diragukan lagi.

Mariam al asturlabi penemu astrolab yang dibuat seperti GPS, dengan alat tersebut dapat digunakan untuk menentukan arah kiblat dengan benar, ketepatan waktu serta astronomi. Dan masih banyak lagi perempuan-perempuan lain yang menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban Islam.

Hilangnya perisai umat membuat kaum muslimin khususnya perempuan kehilangan peranannya yang mulia sebagai seorang ibu, istri, dan sekaligus pengukir peradaban.

Tak ada lagi pelindung yang mampu melindungi kaum perempuan sebagaimana yang pernah terjadi di masa kejayaan Islam. Kini saatnya kaum perempuan berjuang bersama umat untuk memperjuangkan kembali tegaknya khilafah agar kemuliaan tersebut segera terwujud.[MO/ad]

Posting Komentar