Rizkya Amaroddini
(Jurnalis Media Oposisi)

Mediaoposisi.com-  17 April 2019 sebagai ajang pilpres berlangsung di Indonesia. Dari tahun ke tahun tak jauh berbeda, tiap rumah akan di datangi dan di beri bingkisan baik berupa barang maupun uang plus foto paslon. Mengatasnakan kampanye semata-mata hanya bualan.  Saat membutuhkahkan saja akan merayu dan mendekat.

Pesan bingkisan di sebarkan di berbagai tempat. Pembawa pesan pun merambah ke berbagai tempat, bahkan memaksa beberapa warga untuk menerima bingkisan tersebut. Banyak di gembor-gemborkan bahwa itu sekedar sedekah ke warga-warga, namun anehnya ada foto Jokowi-Ma’ruf.

Mereka pun mengatasnamakan kampanye anehnya tidak melakukan perizinan di pihak Rt / Rw / kelurahan justru hanya memberikan dalih ada surat dari bawaslu saja. Secara struktural saja sudah seenaknya sendiri, bagaimana memimpin Negara bisa miskin nih Indonesia.

Pembawa pesan bingkisan sudah lama menjadi permainan elit politik saat ini. Kampanye dengan meyodorkan uang / barang hakikatnya sogokkan yang di berikan paslon kepada masyarakat. Dari beberapa kejadian strategi pun di ubah dengan mendatangi warga-warga yang sudah ada dalam list dalam data-data mereka guna melebarkan sayap penyogokkan itu.

Siapakah yang memotori penyogokkan ? Tidak lain adalah paslon itu sendiri yang di laksanakan oleh tim suksesnya. Perekrutan pembawa pesan pun di pilih dari orang-orang yang tidak punya pekerjaan atau yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Masyarakat selalu di ombang ambingkan dalam rezim ini, rayuan pun di jadikan alat sebagai jalan menuju kesuksesan paslon.

Seorang pemimpin di dasarkan pada kebohongan hanya terjadi di sistem demokrasi. Yap, di sistem inilah hanya di dasarkan pada kebebasan. Selama apa yang di lakukan memberikan keuntungan, maka itu sah-sah saja di lakukan. Harapan apa yang bisa di andalkan dari rezim dan sistem saat ini, seluruh problematika ada karena penerapan sistem yang salah. 

Sudah saatnya ummat sadar dan bangun untuk kembali ke solusi Islam. Karena Islam bukan sekedar agama ritual melainkan sebuah ideology. [MO/ra]

Posting Komentar