Oleh : Arinal Haq
(Aktivis Mahasiswa Sidoarjo)


Mediaoposisi.com-Mengingat beberapa minggu yang lalu, beredar video Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara menyindir salah satu aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS) di kementeriannya yang memilih pasangan calon nomor urut 02 di Pilpres 2019, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Kejadian itu bermula saat Rudiantara meminta ratusan pegawai Kemenkominfo memilih stiker sosialisasi Pemilu 2019 yang akan ditempel di komplek kementerian tersebut. Singkat dari video tersebut ada ungkapan, "Bu! Bu! Yang bayar gaji ibu siapa sekarang? Pemerintah atau siapa? Hah?" ujar Rudiantara dengan suara meninggi. Pegawai itu pun membalikkan badan dan menjawab. Rudiantara langsung menimpalinya. "Bukan yang keyakinan ibu? Ya sudah makasih," kata Rudiantara. (cnnindonesia.com, 31/1)

Video tersebut sempat membuat heboh seluruh jagat sosial media. Banyak komentar positif dan negatif. Hashtag #yanggajikamusiapa juga viral. Meme dan short video banyak bertebaran. Ketika dipahami lebih dalam dari pernyataan Menteri tersebut, ternyata mengandung cara berpikir sekuler yang hendak dihembuskan. Sekuler adalah asas yang memisahkan agama dari kehidupan dengan menjadikan manfaat atau kesenangan jasmani sebagai satu-satunya tujuan. Segala upaya yang dilakukan adalah semata-mata untuk mendapatkan manfaat dan kepentingan pribadi.

Cara berpikir inilah yang menjadikan manusia menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya. Alhasil yang terjadi adalah manusia diperbudak oleh hawa nafsu mereka dan materi. Asas sekuler inilah yang diterapkan di negeri ini sehingga masyarakat akhirnya lebih memilih untuk tunduk kepada siapa yang memberikan materi, sehingga sulit untuk tunduk kepada syari'at Islam. Menjauhkan perkara agama dalam kancah kehidupan dan menutup erat hati agar agama tidak turut campur mengatur kehidupan.

Cara berpikir yang seperti ini menghalangi manusia untuk melibatkan Allah dalam keseharian mereka. Manusia akhirnya sibuk mencari kesenangan duniawi yang tidak ada puasnya sama sekali hingga terjerumus pada kehidupan yang rusak jauh dari keberkahan. Korupsi, menjadi pendukung penista agama, menjatuhkan kredibilitas lawan, dan yang lainnya menjadi alat untuk memenuhi syahwat kekuasaan dan materi.

Padahal persoalan rezeki sudah Allah atur jauh sebelum manusia itu diciptakan. Bahkan nafas yang manusia hirup agar dapat bertahan hidup juga telah Allah atur. Oleh karena itu, penting untuk mengembalikan cara berpikir sekuler menjadi cara berpikir yang cemerlang dengan aturan Islam. Manusia wajib menjadikan Allah sebagai pengatur dan menjadikan akidah Islam sebagai landasan kehidupan dan aturan-aturannya sebagai jalan hidup. Keberkahan adalah kunci utama hidup.

Menggapai ridlo Allah adalah tujuan hidup. Jika hidup manusia berkah dan Allah ridlo maka dia akan merasakan ketenangan hidup. Tidak akan haus kekuasaan dan materi. Kehidupan bermasyarakat dan bernegara akan lebih aman dan damai karena Allah ridlo terhadap negeri ini. Allah juga akan menjauhkan dari musibah dan kesulitan.

Maka, saatnya umat kembali kepada Islam karena hanya Islam lah yang dapat mengembalikan umat pada kemuliaan dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Merubah cara berpikir manusia memang tak mudah. Inilah tantangan dakwah. Dari lisan pengemban dakwah nanti akan  menjadi gebrakan dunia untuk mengembalikan Islam sebagai satu-satunya aturan yang diterapkan di seluruh penjuru negeri. Seruan untuk seluruh kaum muslimin bahwa dakwah adalah kewajiban kita bersama.[MO/sr]

Posting Komentar