Gambar: Ilustrasi

Oleh: Abu Fatih

Mediaoposisi.com-Siapa sih yang hari ini  tidak ketemu caleg? Tiap hari mereka “berdiri” di pinggir jalan, “naik” di atas pohon, “nongol” di spot iklan radio atau televisi. Bahkan, ada yang “nempel” di kaos-kaos yang dibagikan pada “wong cilik” yang akan direbut hatinya untuk memilihnya.

Sebelum itu? jangankan nongol, menyapa pun tidak. Itulah realita sebagian para caleg yang hari ini fotonya tersebar di seluruh penjuru jalan sampai di gang buntu sekalipun. Sampai-sampai kita tidak bisa membedakan apakah ini spanduk event kegiatan atau cuma foto dan cuplikan kata mutiara yang berisi tulisan yang seolah memberi pesan “pilihlah aku, makmur hidupmu”.

Entah sudah berapa kali pesta demokrasi di negeri ini digelar. Namun, sebagai rakyat kecil tetap tidak merasakan perubahan kemakmuran kecuali merasakan kemunduran dan kesengsaraan. Mulai kenaikan TDL, bahan bakar, bahan pangan, apalagi perumahan.

Wong cilik yang terus belajar dari pengalaman hampir semua bersepakat bahwa pesta demokrasi hanyalah sebuah pesta meriah bagi mereka para caleg yang berhasil terpilih. Sebagian caleg yang tidak terpilih sering kali terdengar gantung diri bahkan ada yang nekat menutup jalan. Bahkan membongkar bangunan masjid yang sudah terlanjur dibantunya sebelum pemilihan. Dan tidak sedikit yang masuk rumah sakit jiwa. Itulah realitas pencalegan jaman sekarang.

Jaman sudah berganti, namun polah caleg tidak ada perubahan yang berarti. Dalam istilah Jawa  “pancetttt pak eko…” . Tidak ada perubahan berarti di negeri ini. Sebuah negeri yang katanya “Jamrud khatulistiwa”, “Gemah ripah loh jinawi” tapi kenyataannya rakyatnya merana bak anak ayam mati di lumbung padi.

Apa yang salah? Apakah para calegnya bermasalah? Sehingga kekayaan negeri ini menjadi harta rebutan bagi mereka yang terpilih dengan pesta korupsinya. Ataukah kita salah memilih
calegnya?

Sungguh para caleg muslim yang dimuliakan Allah, Anda dilahirkan di dunia bukan untuk menentang hukum Sang Pencipta. Namun Anda dihidupkan,  karena Anda telah membuat perjanjian saat di kandungan menyaksikan bahwa Allah adalah Tuhanmu bermakna Anda sebagai hamba akan taat pada-Nya.

“ Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari Sulbi mereka dan Allah Ta'ala mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) " Bukankah Aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab, " Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar pada hari kiamat kamu tidak mengatakan, " Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan)" (QS. Al A'raaf:172).

Jika kini Anda mengikuti pemilihan dan terpilih menjadi anggota legislatif, berjanjilah agar Anda hanya akan berhukum pada hukum Allah semata. Bukan menantang Allah dengan membuat hukum tandingan yang buatan Anda yang jelas-jelas bertentangan dengan hukumNya. Ingatlah pesan Allah SWT:

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maaidah [5]: 49-50).

Teruslah istiqomah memperjuangkan aturan Allah di lembaga legislatif jika Anda bisa. "Istiqamah" dalam perjuangan itu memang berat, karena kalau ringan namanya "istirahat". Jika tidak mampu memperjuangkan syariat Allah di parlemen, untuk apa berlama-lama disana? Yang ada kita akan diwarnai oleh mereka. Ibarat kain putih akan menjadi kotor saat dimasukkan ke air comberan yang kotor. Niat bersih akan berubah menjadi kotor saat berada pada lingkungan kotor. [MO/re]

Posting Komentar