Oleh : Yulida Hasanah
(Muballighot)

Mediaoposisi.com-Dewasa ini, catatan kelam kaum perempuan semakin hari semakin menunjukkan kegagalan semua bentuk program maupun kebijakan baik yang dibungkus dengan UU maupun bentuk-bentuk kebijakan yang diberlakukan oleh lembaga non pemerintahan. Satu contoh yang pernah viral dipermasalahkan sampai hari ini adalah perkara muslimah bercadar.

Tak bisa dipungkiri, semakin pesatnya islamisasi di negeri-negeri muslim. Hal ini pastilah berkorelasi dengan tanda-tanda kebangkitan islam akan segera datang.

Baca: Teriak Paling Pancasilais, Romi Dibalik Jual Beli Jabatan di Kemenag

Termasuk trend muslimah yang mulai menggalakkan busana hijab syar'i yang sebagian mereka juga melengkapinya dengan cadar. Bisa kita lihat, bagaimana pemandangan wanita-wanita bercadar di negeri inipun telah menjadi pemandangan yang biasa. Tak ada yang aneh dengan mereka.

Namun sayang, di negeri demokrasi yang katanya memberikan jaminan kebebasan kepada setiap rakyatnya, bahkan demokrasi sendiri dibangun di atas pilar-pilar kebebasan, salah satunya yaitu kebebasan bertingkahlaku.

Yang terjadi malah sebaliknya, muslimah yang ingin menjaga kehormatan dengan berhijab bahkan bercadar menjadi gambaran yang menakutkan bagi kalangan pelaksana demokrasi sendiri.

Masih ingatkah kita bagaimana kasus yang menimpa mahasiswi bercadar terkait larangan penggunaan cadar di UIN Sunan Kalijaga pada tahun 2018 kemarin, dengan alasan untuk mencegah berkembangnya paham radikalisme.

Dan yang lebih disayangkan lagi, masalah cadar ini kembali menjadi masalah di negeri ini. Sebagaimana kasus yang menimpa Dosen muslimah bercadar yang dipecat karena perkara cadar.

Pemberhentian Ibu Hayati Syafri sebagai ASN oleh Kemenag ini menjadi kasus yang kesekian kalinya. Beliau adalah korban dari tidak dijaminnya kebebasan di negeri ini.

Di tengah polemik larangan bercadar bagi muslimah di negeri mayoritas muslim ini, maka tak salah jika ada sebuah cuitan dari @winandaputrii_k, yang menulis, "Apakah menggunakan cadar perbuatan yang menyimpang? Apakah kita akan membenarkan stigma bahwa yang bercadar itu mengikuti aliran radikal, apakah perempuan tidak mempunyai hak untuk hanya melindungi dirinya sendiri?".

Terlebih, larangan cadar ini sangat bertolak belakang dengan sikap pemerintah terhadap para artis yang biasa memposting diri dengan busana bikini.

Sebut saja artis Marissa Nasution yang lagi viral beberapa hari ini karena fotonya dengan busana bikini. Walaupun banyak netizen yang berkomentar negatif terhadap busana yanh dipakainya.

Namun, hal itu tidak kemudian membuat pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap pemandangan-pemandangan yang jelas-jelas mencerminkan bahwa wanita itu ternyata begitu murahan di negeri demokrasi ini.

Bagaimana tidak murahan? Wanita yang berusaha menutup aurat sebagai bagian dari perlindungan terhadap kehormatannya malah dianggap radikal dan harus dilarang. Sedangkan wanita yang memamerkan aurat yang menjadi tumpuan kehormatannya tidak mereka permasalahkan.

Jadi, tidak salah ketika kami para muslimah menginginkan Islam sebagai aturan kehidupan yang berasal dari Allah SWT untuk diterapkan hari ini. Sebab sudah jelas aturan yang lahir dari demokrasi tak mampu (lalai) dalam penjagaan/perlindungan terhadap kehormatan perempuan.[MO/ad]

Posting Komentar