Oleh:Astia Putri, SE, MSA
Member Komunitas “Pena Langit”

Mediaoposisi.com-Nostalgia tahun 1990an kini hadir kembali di tahun 2019. Nampaknya romansa cinta ala anak SMA masih tetap memiliki tempat di mata penonton bioskop Indonesia.

Dilan hadir kembali dengan setting tahun 1991 dan masih membawa pesan cinta yang membuat luluh kaula muda, berharap ada satu yang seperti Dilan dan mampu membuat terbang dengan gombalan manisnya.

Saking fenomenalnya, film yang berhasil meraup 6 juta penonton ini mendapat tempat pula di hati Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil serta Menteri Pariwisata, Arief Yahya dengan memberikan sebuah pojok khusus di Taman Saparua yang dinamakan Pojok Dilan. Tempat ini didedikasikan untuk film Dilan yang telah membuat Bandung semakin dikenal hingga melejitkan pariwisatanya. (28/2)

Gubernur Jabar, Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil ini menyebut Pojok Dilan akan difungsikan sebagai ruang literasi yang akan diisi mural dan gambar tokoh dalam film Dilan dan quotes apik dari Pidi Baiq, sang novelis yang menciptakan sosok fiktif Dilan dan Milea yang memikat hati.

Pembangunan Pojok Dilan diharapkan mampu menstimulus kehadiran penulis-penulis berbakat lainnya seperti Pidi Baiq.

Menyoal literasi yang ingin dilejitkan, ada bias yang terjadi antara harapan dan perbuatan. Hal ini didukung oleh Pengamat dan Peneliti Komunikasi Politik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Profesor Karim Suryadi yang menilai bahwa arah pelejitan literasi budaya yang diharapkan seharusya mengarus pada digitalisasi budaya Sunda, pun jika ingin dikaitkan ke arah milenial, maka seharusnya lebih mengupayakan program yang dapat meningkatkan kemampuan anak muda dalam berkompetisi di era global ini (1/3).

Memang, budaya literasi merupakan aspek yang cukup menjadi perhatian di Indonesia. Mengingat berdasarkan hasil dari The World Most Literate Nation Study, Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara. Artinya kedangkalan literasi di Indonesia memang masih menjadi tugas besar bagi negara.

Kehadiran novel fenomenal Dilan memang menunjukkan angin segar akan berhembusnya optimisme keberadaan sosok novelis yang dianggap cukup bisa dijadikan contoh.

Pun akhirnya dianggap wajar ketika seorang pemimpin ingin menularkan hal yang serupa kepada khalayak ramai terutama anak muda. Hanya saja peningkatan literasi seyogyanya tidak bisa hanya diupayakan dengan meniru suatu sosok semata, haruslah pula ia memperhatikan jenis informasi apa yang dihadirkan.

Jika kita amati novel Dilan, maka kita temukan jenis informasi yang ditonjolkan lebih banyak mengandung konten berbau romantisme remaja bahkan kepada pergaulan bebas yang berakar dari paham kebebasan.

Peningkatan literasi tentunya tidak bisa hanya memperhatikan kemampuan untuk mencurahkan segala pemikiran yang ada menjadi sebuah maha karya. Namun, nilai apa yang pula turut dibawa dalam setiap karya yang dihasilkan. Bukan bermaksud menjelekkan Dilan, hanya saja, patut dipertanyakan literasi jenis apa yang ingin ditularkan dari novel Dilan?

Urgensi “memojokkan” (membangun pojok) Dilan pun menjadi dipertanyakan. Jika ingin me”legenda”kan sosok, mengapa tidak dengan sosok penulisnya?

Mengapa justru menggunakan tokoh fiktif Dilan yang bahkan tidak relevan dengan kearifan lokal maupun budaya setempat? Maka akan lebih pantas jika menempatkan tokoh hero lain dalam perkembangan sastra dan literasi wilayah setempat sebagai sosok yang diberikan “monumen” dalam ruang publik.

Sejatinya, negara memang berperan dalam mengupayakan perbaikan dan peningkatan literasi rakyatnya. Realitas yang ada sayangnya menunjukkan keberpihakan perkembangan literasi hanya sebatas apa-apa yang disukai, bukan yang dibutuhkan. Juga pada apa-apa yang memang booming bukan apa-apa yang seharusnya penting.

Fenomena Dilan tidak hanya menunjukkan satu, tapi beberapa hasil karya yang melejit yang kebanyakan sarat nilai kebebasan yang dibawa, bukan justru membentuk moralitas yang sekarang mulai terkikis pada generasi milenial.

Ditambah penguasa berperan melejitkan dengan membangun sebuah ruang yang disinyalisasi akan berdampak negatif pada remaja. Bukannya menjadi ruang yang nyaman dalam membaca, menulis atau berdiskusi, namun justru akan dimanfaatkan sebagai tempat kumpul-kumpul, selfie dan bercampur baurnya anak muda hanya demi reuni roman picisan ala Dilan-Milea.

Emosi remaja pun akan senantiasa mengalir pada hal cinta-cinta semata tanpa memperhatikan dan mendalami apa peran besar yang mereka emban dan bagaimana mengubah kondisi kehidupan menjadi lebih baik.

Berbeda halnya dengan Islam. Islam memandang literasi merupakan salah satu aspek yang juga turut diurus oleh negara.

Peningkatan literasi meliputi kemampuan membaca, meneliti, menulis hingga berdiskusi sudah sejak lama didorong dengan didasari pada kaidah setiap muslim harus memahami amalan yang dilakukannya yakni kesesuaian dengan perintah dan larangan ALLAH SWT. Kaidah inilah yang akhirnya melahirkan tokoh-tokoh besar muslim yang memiliki mahakarya semisal Imam syafi’I, Imam Ghazali, Ibnu Sina dan masih banyak lagi.

Dorongan ini tidak hanya sekedar dari pemahaman individu akan realitas memahami pentingnya beramal dengan ilmu, namun juga distimulus oleh negara dan penguasa yang menerapkan aturan Islam.

Penguasa tidak akan membangun fasilitas atau ruang publik yang dapat memancing terjadinya kemaksiatan. Fasilitas, ruang belajar, buku-buku hingga guru dikondisikan untuk membantu peningkatan kemampuan membaca, menulis hingga berdiskusi secara optimal tanpa melanggar hukum syara.

Negara juga menjamin literasi yang dikembangkan dan diarahkan untuk mempelajari Al-Qur’an, Hadis dan kitab-kitab yang mampu menghidupkan iman dan memberikan kebermanfaatan bagi umat manusia. Dari sinilah akan terbentuk pemuda-pemudi yang kehidupannya tidak hanya penuh dengan bumbu-bumbu asmara yang melenakan, namun akan berbobot dengan visi membangun dan akhlak mulia.

Oleh karena itu, tugas penguasa bukanlah sibuk “memojokkan” Dilan, namun “membelokkan” Dilan dan anak muda lainnya menuju pemahaman Islam akan peran besarnya sebagai sosok pemuda mulia. Bersediakah??

9 Maret 2019

Posting Komentar