Gambar: Ilustrasi


Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Blusukan menjelang pilpres 2019 masih menggunakan cara lama, salah satunya yang saat ini lagi heboh adalah berdesakan naik kereta komuter (KRL). Terkesan dekat dengan rakyat, hanya saat menjelang pilpres namun terasa jauh ketika sudah terpilih dan kekuasaan sudah dalam genggamannya.

Inilah kemunafikan yang ditunjukkan oleh pemimpin di alam demokrasi yang menjadikan kekuasaan sebagai tujuan utamanya. Berbagai cara pun dilakukan agar terkesan baik padahal wajah aslinya tidaklah demikian. Rakyat dibohongi dengan wajah melas dan merakyat, faktanya tega dengan rakyatnya sendiri.

Rakyat yang berani mengkritik dihabisi dengan hukum yang sudah dijadikan alat politik penguasa. Yang kritis digebuk, sebaliknya yang suka memuji dan menjilat dipelihara dan dilindungi. Hoaks yang menguntungkan dipelihara, sementara pelaku hoaks yang merugikan penguasa dipenjara. Ketidakadilan yang nyata ditunjukkan oleh penguasa, namun hukum tidak bisa berbuat apa-apa.

Banyak rakyat yang semakin menyadari karena mereka belajar dari pengalaman. Janji-janji manis tidak terpenuhi dan sekarang mulai mendekati rakyat kembali setelah sekian lama menjauh dan tidak peduli dengan jeritan rakyat yang minta tolong. Inilah gambaran penguasa di alam demokrasi yang tidak tahu malu. Rakyat didekati hanya saat dibutuhkan saja. Sayang, di saat rakyat butuh, dia tidak menunjukkan batang hidungnya.

Pemimpin Muslim yang baik dan ideal harusnya berfikir untuk mengurusi urusan rakyat. Dia berbuat karena mencari ridho Allah. Dia merasa berdosa apabila rakyatnya tidak bisa hidup layak. Dia tidak pernah memikirkan bagaimana agar terlihat baik di mata rakyat agar bisa dipilih kembali sementara wajah busuk disembunyikan dengan topeng kemunafikan. Kebaikan yang dilakukan tidak hanya untuk mendapatkan dukungan rakyat, melainkan mengharap ridho Allah.

Pemimpin yang baik harusnya menjadikan jabatan sebagai amanah yang harus ditunaikan dengan baik. Bukan malah memainkan jabatan dan kekuasaannya untuk kepentingan dirinya sendiri dan kelompoknya. Ketika menjadi pemimpin, semua rakyat harus menjadi tanggung jawabnya. Jangan hanya rakyat yang mendukungnya yang diurusi sementara rakyat lainnya diterlantarkan.

Pemimpin yang baik akan selalu merasa diawasi oleh Allah. Dia akan berfikir dua kali sebelum berbuat dan memutuskan sesuatu untuk kepentingan rakyatnya. Dia selalu mengaitkan semua hal dengan perintah dan larangan Allah. Rasa takut kepada Allah tidak hanya berupa ucapan melainkan harus dalam setiap kebijakannya dalam mengurusi rakyatnya. Sepanjang kepemimpinannya, pemimpin yang baik akan selalu dekat dengan rakyatnya, tidak hanya saat menjelang pemilu saja.

Dia selalu melakukan yang terbaik untuk rakyatnya karena setiap kebijakan dan keputusannya akan dimintai pertanggung jawaban. Masihkah ada pemimpin yang baik dalam sistem demokrasi, yang mendorong orang untuk melakukan kemunafikan dengan memakai topeng agar bisa menutupi wajah aslinya yang buruk? [MO/ms]

Posting Komentar