Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Jangan dikira, jika sudah dibarisan Jokowi, berhimpun dalam koalisi Jokowi, menjadi mitra dan peliput Jokowi, hadir dalam kampanye dan bersorak sorai di kampanye Jokowi, kesemuanya dipahami pendukung Jokowi.

Belum tentu. Kita bisa saksikan, beberapa blunder yang menggerus elektabilitas Jokowi, justru berasal dari internal Jokowi.

Memang benar, tidak semua blunder itu dilakukan secara sengaja. Adapula, blunder yang dibuat secara tidak sengaja. Berfokus pada 'orientasi citra ' tapi lupa hal teknis yang dapat dibaca publik, sehingga terbongkarlah rencana bermain citra. *Citra tetap dapat, tapi bukan citra baik sebaliknya citra buruk.*

Misalkan saja kita bisa temui ramainya foto Jokowi sholat, tapi foto itu tampak dari depan dan terlihat agak menengadah. Dipastikan foto ini diambil dari sudut depan Jokowi (atau lebih tepatnya dari depan sajadah sholat) dan mengambil fokus gambar wajah Jokowi, dari sudut foto yang lebih vertikal ketimbang posisi Jokowi.

Mengenai foto ini, netizen ramai berkomentar : *Foto ini diambil Kameraman dengan posisi apa ? Terlentang ? Mengangkang ? Dll.*

Sudut foto yang dibidik ingin fokus menangkap raut muka Jokowi yang sedang khusuk sholat. Dengan foto ini, pembidik foto ingin membangun citra kesalehan Jokowi. Jokowi rajin sholat.

Sayangnya, juru keker lupa. Dari depan orang sholat itu tidak boleh mengambil foto. Tidak boleh ada orang berlalu lalang dihadapan orang sholat. Bahkan, ada hadits yang mengabarkan lebih baik menunggu 40 tahun diam, ketimbang beranjak dan berlalu lalang dihadapan orang yang sedang sholat.

Itulah yang tidak dipahami internal Jokowi, juru keker Jokowi blunder karena hanya fokus pada target membangun citra. Sang juru keker, lupa pada adab, ketentuan syariat, serta kemungkinan pembacaan netizen pada hal teknis sudut pengambilan gambar.

Hasilnya ? Bukannya Jokowi dipuji shaleh, dipuji rajin sholat, justru sebaliknya. Jokowi dibuly, dianggap terlalu banyak makan micin, pencitraannya terlampau parah, hingga mengesampingkan ketentuan adab dan syariat. Ini contoh blunder yang tidak disengaja.

Sementara, ada blunder lain yang jelas disengaja. Dan ini, tidak mungkin dilakukan oleh lawan, melainkan justru berasal dari internal Jokowi, bahkan bisa jadi yang paling dekat.

Video 'gagal' atau video 'percobaan' yang menggambarkan Jokowi 'dipandu' sebelum membuat satu pernyataan, lazimnya konsumsi privat dan tidak boleh disebar. Dalam pembuatan film, behind the scene itu boleh ditampilkan setelah film tayang dan menghasilkan benefit.

Ini, belum juga benefit citra diperoleh, video amatir yang mengungkap aib Jokowi, mengungkap 'ketidakmampuan' Jokowi, mengungkap 'Jokowi hanya aktor' justru cepat beredar beriringan dengan video finishingnya. Kan aneh. Ini tidak mungkin terjadi kecuali dalam dua keadaan :

Pertama, ada musuh dalam selimut di internal Jokowi yang membocorkan video garapan yang belum selesai untuk menohok elektabilitas Jokowi. Atau sengaja diedarkan untuk mengungkap pribadi Jokowi yang sebenarnya.

Kedua, ada sebagian internal Jokowi yang menganggap Jokowi hanyalah tokoh boneka. Bisa dijadikan objek lucu-lucuan, seru-seruan, layaknya orang umum saja.

Video mentah model ini banyak beredar, selain pernyataan yang paling viral adalah video Jokowi ketika diarahkan wartawan sebelum pengambilan gambar di lokasi bencana. Kan tidak mungkin orang jauh yang melakukan ini, pasti orang yang ada disekitar Jokowi.

Yang paling parah -dan ini masih terkait Jokowi- beredarnya video ujaran kebencian, ujaran fitnah yang menyebut NU akan menjadi fosil jika Jokowi - Ma'ruf kalah. Video ini dibuat di internal, untuk kalangan terbatas. Nyatanya, video ini menyebar viral.

Mengenai viralnya ujaran fitnah dan kebencian yang dilakukan langsung dihadapan Ma'ruf amin ini, paling tidak ada dua alasan :

Pertama, sang pembuat dan pengedar video juga tdk setuju dengan ujaran itu. Makanya, orang tersebut mengedarkannya agar publik mengetahui dan ikut mengambil langkah antisipasi atas fitnah ini. Jelas, video ini bukan dibuat dan diedarkan oleh orang luar, tetapi dari kalangan internal Jokowi sendiri.

Kedua, orang yang mengedarkan sependapat dengan ujaran didalam video dan berharap publik memiliki 'keprihatinan' yang sama, sehinga dengan beredarnya video si penyebar berpersepsi video ini akan memantik keprihatinan publik -khususnya dikalangan NU- untuk mendukung dan memenangkan Ma'ruf amin.

Namun faktanya, baik karena alasan pertama maupun alasan kedua, video ini jelas blunder. Karena video ini, Ma'ruf amin dilaporkan. Karena video ini, publik melihat model kampanye Ma'ruf amin SARA, tendensius, penuh fitnah dan kebencian.

Belum lagi, banyaknya internal Jokowi yang membisikan ketelinga Jokowi 'bisikan-bisikan setan' sehingga hasilnya justru semakin meruntuhkan wibawa dan kredebilitas Jokowi. Isu batalnya kebijakan pembebasan Ust. ABB, adalah contoh blunder dari internal Jokowi karena 'perang pembisik' dan banyaknya pengaruh setan dilingkaran Jokowi.

Padahal, jika tidak mau membebaskan Jokowi lebih baik mengambil opsi diam ketimbang berbusa mau membebaskan tanpa sarat namun akhirnya dibatalkan. Kondisi ini jelas blunder, dan berimplikasi citra buruk bagi Jokowi. Jokowi dinilai amatiran mengelola negara.

Sekali lagi, blunder yang menggerus elektabilitas Jokowi itu bukan dari eksternal. Semua itu jika ditelusuri justru kebanyakan berasal dari internal Jokowi. Karena itu, kepada Jokowi saya sarankan : hati-hatilah dengan orang-orang disekeliling Anda. []

Posting Komentar