Gambar: Ilustrasi
Oleh: 
(Wulan Eka Sari, Aktivis Mahasiswi)

Mediaoposisi.com-Pesta demokrasi kurang 52 hari lagi. Berbagai upaya dilakukan para caleg mendulang suara konstituen. Ada yang kampanye, ada juga yang diistilahkan ziarah politik.

Ziarah politik menjadi ritual yang banyak dilakukan calon wakil rakyat di Blitar. Mereka mendatangi lima makam untuk menggelar doa agar hajatnya terkabulkan. Uniknya, tak sedikit di antaranya yang meninggalkan kartu nama lengkap dengan photo sang caleg di nisan makam pria ‘danyang’ atau penguasa awal Blitar (news.detik.com, 05/03/2019).

Apa yang dilakukan oleh para caleg di Blitar termasuk perbuatan syirik. Syirik adalah perbuatan yang menyekutukan Allah misalnya dalam ibadah, berharap, termasuk dalam berdo’a kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesyirikan ini terjadi karena dalam sistem yang diterapkan sekarang menghalalkan berbagai cara untuk dapat mendulang suara bahkan sampai menduakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demokrasi inilah sistem yang diterapkan saat ini. Demokrasi meniscayakan adanya kesyirikan. Baik itu dalam beribadah maupun dalam hukum.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Q.S al-an’am ayat 57 yang artinya, “…Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah…”

Di dalam ide kufur demokrasi, prinsip dasar yang tidak bisa dilepaskan adalah kedaulatan dan kekuasaan berada di tangan rakyat.

Kedaulatan di Tangan Rakyat
Dalam sistem demokrasi, hak membuat hukum diserahkan kepada rakyat yang diwakilkan oleh wakil rakyat yang duduk di parlemen. Dalam menetapkan hukum, membuat undang-undang jika disandarkan pada akal manusia pasti akan menimbulkan kekacauan. Karena akal manusia sangat lemah, terbatas dan serba kurang. Hukum yang dibuat oleh manusia akan menimbulkan pertentangan, perbedaan, dan perselisihan.

Hukum yang dibuat oleh akal manusia sarat akan kepentingan. Halal-haram tidak menjadi hal yang diperhitungkan. Misalnya, riba. Salah satu sumber pendapatan negara berasal dari hutang yang asasnya ribawi. Riba jelas haram. Namun justru legal karena terdapat kepentingan di dalamnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Q.S al-Maidah ayat 44 yang artinya, “…Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir”.

Hal ini sangat bertentangan dengan Islam. Dalam Islam, kedaulatan itu berada di tangan Musyari’ Asy-Syari’ yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Tau apa akan terbaik untuk makhluk-Nya. Sebagai contoh, yang paling tahu prosedur pemakaian HP adalah yang membuatnya.

Maka, kita memakai prosedur berupa buku panduan yang telah dikasih. Prosedur tersebut tidak cocok dengan prosedur mesin cuci. Dimasukkan ke dalam air lalu diputar. Tentulah HP akan rusak. Begitu juga dengan kehidupan di dunia ini, jika kita tidak memakai prosedur atau buku panduan berupa Alquran dan Assunnah maka kehidupan akan hancur.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dala Q.S an-Nahl ayat 89 yang artinya, “…Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”

Kekuasaan di Tangan Rakyat
Dalam sistem demokrasi, kekuasaan di tangan rakyat dan rakyat yang menggaji kepala negara
untuk menerapkaan hukum-hukum yang telah dibuat. Selain itu, rakyat juga yang dapat memecat kepala negara.

Dalam Islam, kekuasaan di tangan rakyat dan rakyat memilih pemimpin yang diberi nama
khalifah atau pengganti Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam. Namun, rakyat memilih
pemimpin untuk menerapkan dan menjaga hukum Islam, sekaligus dapat memecat pemimpin
jika tidak lagi menerapkan dan menjaga hukum Islam.

Jadi, demokrasi dapat menyebabkan kesyirikan akbar, baik kesyirikan dalam beribadah (misalnya meninggalkan kartu nama hingga foto di makam keramat bahkan berdo’a disana agar hajatnya dapat terkabulkan) maupun kesyirikan dalam hukum (misalnya menjadikan rakyat sebagai pemilik kedaulatan dan kekuasaan). Tentu ini sangat berbahaya. Karena dosa syirik tidak diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika demokrasi bisa menyebabkan kesyirikan, masih percaya dengan demokrasi? Mari bersegera hijrah ke sistem buatan Sang Pembuat kehidupan dan manusia. Wallahu a’lam. [MO/ms]

Posting Komentar