Oleh: Siti Ummu Kholil

Mediaoposisi.com-Duka dan sedih kembali melanda sebagian negeri tercinta Indonesia. Musibah datang bertubi-tubi. Seperti yang sudah diberitakan, di pertengahan Maret terjadi serentetan musibah menghampiri.

Dari erupsi gunung Bromo di Jateng, gempa di Lombok, kebakaran hutan di Riau, banjir bandang di Papua, banjir dan tanah longsor di beberapa tempat di pulau Jawa. Termasuk daerah yang terkena dan berdampak musibah banjir adalah Kabupaten  Bantul, DIY.

Dilansir dari kompas.com bencana banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah DIY saat hujan deras Minggu (17/3/2019) malam.

Akibatnya sebanyak 5.046 warga DIY terpaksa mengungsi. Menurut laporan di Bantul tercatat 3 tewas dan 2 dalam pencarian (saat berita ini di tulis).

Dampak musibah banjir di Bantul sejumlah bangunan rusak tergerus air banjir dan longsor. Beberapa jembatan penghubung juga rusak bahkan ada yang putus.

Komplek makam raja Mataram di Imogiri Bantul bahkan mengalami longsor. Dilihat dari dampaknya kabupaten Bantul menjadi daerah terparah terdampak banjir. Yaitu meliputi 14 kecamatan dan 35 desa.

Alih Fungsi Lahan Penyebab Banjir

Melihat fenomena di Bantul di atas hendaknya perlu dikaji lebih dalam penyebab masalah banjir yang saat ini kerap terjadi di Bantul.

Menjadi PR khususnya untuk Pemda Bantul supaya bisa segera mengatasi dan mengantisipasinya agar musibah banjir di Bantul tidak terus terulang setiap tahun.

Pemda Bantul harus benar-benar memperhatikan terkait dengan daerah resapan air yang saat ini telah beralih fungsi dari lahan pertanian (sebagai resapan air) digunakan untuk pembangunan.

Yang seharusnya untuk Bantul 30% lahan itu digunakan untuk resapan air, tapi saat ini justru 85% lahan digunakan untuk pembangunan.

Artinya hanya 15% saja sisa lahan untuk resapan air. Jika Pemda tidak segera menangani masalah alih fungsi lahan ini dengan serius maka bisa di pastikan banjir akan terus menghampiri Bantul.

Posisi geografis Bantul yang berada di hilir membuatnya menerima air kiriman dari utara. Bahkan menurut para pakar UGM Bantul bisa seperti Jakarta (langganan banjir tiap tahun) jika perencanaan pembangunan di Sleman dan kota Jogja tidak terencana dengan baik.

Kembali pada Al-qu'ran sebagai Petunjuk Jalan Kehidupan

Melihat musibah-musibah yang terus terjadi hendaknya setiap muslim bisa mengambil ibrohnya. Secara umum musibah ada 2 macam. Musibah yang pertama, musibah karena faktor alam yang merupakan bagian dari qodho Alloh yang tidak bisa ditolak. Seperti gunung meletus, gempa dan lain-lain.

Kita hanya bisa sabar dan ihklas akan hal tersebut. Musibah yang kedua, musibah yang merupakan akibat dari kesalahan manusia. Berupa kemaksiyatan dan pelanggaran terhadap hukum syariah, pengrusakan alam.

Musibah banjir misalnya, bisa jadi karena banyak manusia yang melakukan kemaksiyatan dan pelanggaran seperti menggunduli hutan dengan semena-mena atau pengaturan yang salah terkait alih fungsi lahan yang dilakukan oleh penguasa. Dengan kebijakan-kebijakan yang tidak memperhatikan kepentingan rakyat dan dampaknya pada alam.

Sebagaimana firman Allah SWT, "Telah tampak kerusakan di daratan dan lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiyatan) manusia, supaya Alloh menimpakan kepada mereka sebagai akibat perbuatan (kemaksiyatan) mereka agar mereka kembali ke jalanNYA." (TQS Ar Rum:41)

Musibah yang kedua ini sebetulnya bisa dicegah dan dihentikan dengan cara melakukan amar ma'ruf nahi mungkar pada seluruh pelaku kemaksiyatan. Baik kepada individu maupun pada penguasa yang zholim. Memberikan sanksi yang tegas kepada pelaku kemaksiyatan.

Amar ma'ruf nahi mungkar adalah ibadah utama yang diperintahkan Allah SWT kepada manusia. Bila perintah tersebut dilalaikan atau dilupakan oleh manusia maka Alloh bisa saja memerintahkan alam semesta untuk mengingatkan manusia.

Bila manusia tetap tidak melakukan dengan sempurna maka peringatan yang diberikan oleh alam semesta akan menjadi keras lagi. Dan puncaknya alam semesta akan meledakkan dirinya atas izin Alloh karena tidak rela ditempati oleh manusia yang tidak taat kepada perintah Alloh SWT.

Sebagaimana firman Alloh, "Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa kepada Alloh, pastilah Kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi". (TQS Al A'raf (7):96)

Untuk itu marilah baik individu, masyarakat dan negara segera berbenah sebelum terlambat. Marilah kita kembali pada Al-Qur'an sebagai petunjuk dan pedoman dalam kehidupan. Menjadikan syariah Islam sebagai aturan kehidupan dalam seluruh aspek.[MO/ad]

Posting Komentar