Oleh: Fitiani, S.Sos

Mediaoposisi.com-Tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Tahun ini tema yang diangkat adalah "Balance for Better".

Mungkinkah perempuan akan mulia atau sebaliknya? Dulu di Barat, perempuan merupakan warga kelas dua yang posisinya hanyalah di rumah, sebagai pemuas nafsu laki-laki dan mengurus anak-anaknya.

Kapitalisme telah memaksa perempuan bekerja di ruang publik agar bisa memberikan nilai ekonomis sebagaimana laki-laki. Dari sini, perempuan justru merasakan bahwa memiliki kekuatan finansial memberikan nilai tawar yang tinggi pada mereka.

Alhasil, mereka menuntut menyimpan sendiri penghasilannya, menuntut hak waris, menuntut hak yang sama saat bercerai, menuntut hak upah yang sama, menuntut hak pilih dalam parlemen, dan lain sebagainya.

Jadi, pada dasarnya, kaum perempuan Barat ini mencari kebebasan dan kemandirian. Bebas dari dominasi laki-laki, serta mandiri menentukan sikap dan mengelola harta pribadi.
Inilah yang terus ditularkan kaum feminis di negeri-negeri muslim.

Agar para muslimah mengikuti dan mengusung pemikiran kesetaraan jender yang mereka gaungkan. Mendorong muslimah untuk eksis di ruang publik. Propaganda terus  mereka gencarkan seakan kaum perempuan sedang tertindas karena tak ada kesetaraan gender di dalam masyarakat.

Menurut mereka ketika perempuan berupaya menyetarakan posisinya sejajar laki-laki, persoalan kekerasan ini akan bisa diselesaikan. Namun pada faktanya sekian tahun kesetaraan gender mereka perjuangkan sampai saat ini angka kekerasan terhadap perempuan terus meningkat.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) telah merilis Catatan Tahunan (Catahu) Kekerasan Terhadap Perempuan Tahun 2019 pada Rabu, 6 Maret 2019 yang lalu.

Dalam Catahu tersebut menunjukkan pada 2018, jumlah kasus kekerasan pada perempuan yang dilaporkan ke organisasi perlindungan perempuan dan lembaga pemerintah meningkat. Dari 348.466 kasus di tahun 2017, meningkat menjadi 406.178 kasus di tahun 2018.(8/3/2018)

Apakah semua ini memuliakan perempuan? Dampak yang lebih buruk lagi bahkan merendahkan perempuan . Semua perempuan diarahkan tuk jadi mesin pencetak uang. Tak lagi peduli dengan pedoman agama dan etika.

Selama menghasilkan uang, di situ lah jalan harus dibukakan. Prostitusi dibiarkan. Perzinahan dianggap HAM. Menjadi model majalah porno dipersilakan. Walhasil, nilai wanita menjadi rendah dan hina. Bahkan bisa lebih hina dari hewan melata. Setiap inchi tubuhnya diukur sebatas materi dunia. Padahal, sebanyak apapun materi dunia tetap saja ia kan binasa. Hancur berhamburan saat kiamat tiba.

Inilah buah sistem kapitalis mengukur semua dari materi dan materi, bahkan kemuliaan perempuan dinilai dari materi. Akan sangat berbeda dengan islam. Islam memulikan perempuan dengan seperangkat aturan sempurnya.

Muslimah dianggap kehormatan yang wajib dijaga. Ia dikawal berlapis mahromnya. Bak putri raja yang begitu berharga. Dipakaikan pakaian kemuliaan. Karena kecantikannya bukan untuk pengumbar syahwat lelaki hidung belang. Perempuan dalam Islam diposisikan sebagai Ibu dan pengatur rumah tangga.

Dia juga sekaligus mitra bagi laki-laki. Dia berperan sebagai penyeimbang peran laki-laki. Mulianya perempuan justru terwujud disaat dia menjadi ibu dan pencetak generasi unggul.

Perannya yang mampu melahirkan, menyusui dan mengasuh anaknya sungguh tak tergantikan oleh laki-laki. Sedangkan para lelaki punya kewajiban menafkahi, melindungi dan mengayomi kaum perempuan.

Hingga dari kolaborasi laki-laki dan perempuan inilah lahir generasi cemerlang umat Islam. Bayangkan jika peran mereka ini kita pertukarkan. Mungkinkah para lelaki akan mampu melahirkan dan merawat anak-anaknya? Sementara para perempuannya sibuk mencari penghidupan. Pastinya takkan didapat kelestarian generasi jika seperti ini.

Islam membolehkan perempuan jika tetap ingin berkiprah diruang publik. Menjadi guru, dosen, pedagang, dokter, arsitek, apapun asalkan halal.

Yang tak boleh hanya satu, jadi pemangku jabatan pemerintahan. Dari Abu Bakrah ra, telah berkata Nabi SAW: “Tidak akan beruntung suatu kaum (bangsa) manakala menyerahkan urusan (kepemimpinan) nya kepada seorang wanita.” (HR. Ahmad, Bukhari, Tirmidzi, An Nasa'i)

Karena menjadi pemimpin itu adalah tugasnya laki-laki. Sebagaimana dengan tegas disampaikan Allah SWT dalam firman-Nya :

"Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (TQS. an-Nisa[4] : 34) Posisi perempuan dan laki-laki dalam Islam sama.

Keduanya adalah hamba Allah, yang memiliki akal dan potensi hidup yang sama. Keduanya memiliki kewajiban beribadah kepada-Nya. Dan derajat yang paling tinggi diantara keduanya ditandai dengan takwanya.

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (TQS. al-Hujurat [49] : 13)

Jika syariat Islam Islam dipakai dalam pengaturan relasi antara kaum laki-laki dan perempuan tentu takkan terjadi diskriminasi. Karena laki-laki dan perempuan mempunyai peran yang berbeda, namun akan saling melengkapi satu sama lain.

Sehingga akan membawa kebaikan, kebahagiaan dan kemaslahatan dalam masyarakat. Sebagaimana ketika Khilafah Islam diterapkan selama lebih dari 13 abad di muka bumi ini.

Posting Komentar