Oleh: Wida Ummu Aulia  
( Pemerhati Masalah Sosial )

Mediaoposisi.com-Perusahaan start-up Indonesia seperti Go-Jek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka telah menjelma menjadi unicorn, namun perlahan kini mulai dikuasai asing. Belum lama ini Go-jek menerima kucuran dana dari Google sebesar USD1,2 miliar. Hal ini menjadikan valuasi Go-Jek saat ini ditaksir mencapai USD4 miliar atau lebih dari Rp53 triliun.

Executive Director of Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan, empat perusahaan Start-up dikuasai asing jelas itu sudah melanggar cita-cita awal pemerintah untuk menjadikannya sebagai usaha Indonesia. "Jadi gak ada lagi kebanggaan, sebelumnya kan sering digembar-gemborkan kita memiliki 4 unicorn bahkan ada yang decacorn," tutur Heru kepada SINDOnews di Jakarta, Senin (28/1/2019).

Mindset berharap pada investasi asing untuk pertumbuhan ekonomi merupakan produk kapitalisme. Dimana hal itu hanya melahirkan sebuah ilusi kesejahteraan bagi sebuah negara. Kesejahteraan palsu. Semu.

Bagaimana Indonesia bisa maju dan sejahtera  jika semua perusahaan yang seharusnya dikuasai negara justru dikuasai asing? Dengan dalih investasi, perusahaan beralih kepemilikan. Keuntungan yang harusnya jadi milik negara, kini lari ke kantong-kantong investor asing. Akhirnya, negara ini hanya bisa gigit jari tak punya apa-apa lagi.

Kalau sudah begitu, rakyat yang ditekan untuk bayar pajak sebagai sumber penghasilan negara. Rakyat yang sudah susah kian parah. Masyarakat yang sudah sengsara tambah menderita. Hanya menjadi budak di dalam negerinya sendiri.

Ini akibat diterapkannya sistem kapitalis liberal. Dimana sistem ini membebaskan para pemilik modal untuk menguasai perusahaan dan sumber daya alam dengan balutan modus investasi yang dinilai sebagai sumber pendapatan negara selain pajak. Padahal justru dengan dibukanya pintu investasi asing maka sama saja membuka pintu penjajahan yang baru. Intervensi. Negara ini pun tak bisa menjadi negara mandiri yang memiliki kedaulatan penuh dalam mengelola, memanfatkan dan mengurusi urusan rakyatnya.

Seharusnya bila ingin jadi negara mandiri tanpa intervensi, jangan biarkan investor asing menguasai unicorn maupun aset negara lainnya. Indonesia harus bersikap tegas terhadap investasi yang dapat melemahkan kedaulatannya baik di dalam dan luar negeri. Ambil alih dan kelola sendiri perusahaan dan sumber daya alam milik umat. Maka akan menambah pemasukan negara, dan negara pun lepas dan bebas dari jeratan intervensi.

Dan kemandirian itu hanya akan terwujud jika negara menerapkan sistem Islam. Karena dalam Islam, kerjasama ekonomi tidak boleh dilakukan dengan kaum kafir harbi fi'lan seperti Amerika yang jelas memusuhi Islam. Namun hanya boleh dengan kaum kafir yang mau tunduk pada aturan Islam. Kerjasama itu juga tidak boleh menjadikan perusahan semacam Unicorn dimiliki individu. Tidak ada privatisasi maupun swastanisasi kekayaan umat  dalam Islam.

Inilah aturan yang jelas dalam Islam mengenai perusahaan yang dikuasai asing. Jika Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, maka kesejahteraan yang hakiki akan dapat terwujud.[MO/sr]

Posting Komentar