Oleh : Asma Ridha 
(Member Back To Muslim Identity Aceh)

Mediaoposisi.com-Berbicara tentang perempuan selalu unik dan banyak kisah tentangnya. Apalagi di era kekinian, kiprah perempuan benar-benar bak super woman  yang telah terjun di semua lini pekerjaan.

Baca : Jokowi Bagi-Bagi Sertifikat, Warga Memilih Pindah Masjid

Sungguh sangat jauh berbeda dengan kehidupan di era Kartini, perempuan dianggap tidak maju dan dikekang  yang kiprahnya diidentikkan dengan tanggung jawab urusan dapur, sumur dan kasur serta kewajiban mengurus anak.

Tidak sekadar coba-coba,  emansipasi di kalangan perempuan milineal telah mampu mengubah cara pandang para perempuan untuk bisa terjun pada pekerjaan yang seharusnya para lelakilah yang melakukan.

Akan tetapi rasa emansipasi itu telah mampu membius para perempuan milenial untuk bisa terjun di dalamnya. Misalnya saja berkerja sebagai sopir angkutan, tukang bangunan dan pekerjaan lainnya yang membutuhkan tenaga fisik layaknya laki-laki.

Konon lagi pekerjaan di instansi-instansi dan perusahaan-perusahaan lainnya, nyaris rata-rata para wanita juga sangat mendominasi.

Dikutip dari CNN.Indonesia (8/03/2016) "Secara mengejutkan, kawasan Asia Tenggara menempati posisi kedua di dunia yang memberikan posisi tinggi dalam sebuah perusahaan kepada peremuan, yaitu 34 persen.

Berdasarkan hitungan negara, Rusia menjadi negara dengan persentase tertinggi yang memberikan posisi tinggi di perusahaan kepada perempuan, yaitu 45 persen. Berikutnya disusul oleh Filipina dan Lithuania dengan 39 persen, Estonia dan Thailand dengan 37 persen. Untuk Indonesia sendiri, 36 persen posisi senior di perusahaan dipegang oleh perempuan."

Ini terjadi pada tahun 2006. Apatah lagi saat ini tentu persentasenya jauh lebih meningkat. Pew Research Center menyebutkan bahwa pada 2017, ada 78 persen pekerja perempuan muda yang bekerja setidaknya 50 minggu pertahun. (Kompas.com/28/12/18).

Eksistensi perempuan pada ranah pekerjaan seakan mutlak adalah bentuk keberhasilan. Sekalipun upah masih sangat dibawah rata-rata, namun perempuan berkerja memiliki rasa percaya diri yang jauh lebih meningkat dan menantang daripada sekedar menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT).

Jumlah tenaga kerja perempuan di sektor pertambangan per Agustus 2017 tercatat sebanyak 115.063 orang (vs laki-laki 1,28 juta orang), untuk sektor listrik, air, dan gas sebanyak 46.449 orang (vs laki-laki 347,42 ribu orang), dan untuk sektor jasa keuangan sebesar 1.091.838 orang (vs laki-laki 2,66 juta orang).

Di sisi lain, perempuan masih lebih banyak menyumbang tenaga kerja di sektor-sektor yang memiliki upah rata-rata bulanan yang relatif rendah, seperti Perdagangan, restoran, dan hotel (Rp 2,26 juta/bulan), dan Pertanian (Rp 1,77 juta/bulan).

Alasan Perempuan Milenial Berkarier

Banyak alasan mengapa perempuan milenial ingin terap berkarier di luar rumahnya. Diantaranya ada dua faktor melingkupi mereka yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal yakni faktor yang berasal dari dalam diri dan kemauan si perempuan itu sediri. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar keinginan perempuan.

Faktor internal diantaranya adalah : Pertama, gengsi,  obsesi dan gaya hidup. Tidak jarang perempuan terjun untuk berkerja karena rasa ini sering melekat pada mereka. Gengsi jika tamat kuliah S1, S2 dan S3 hanya sekadar menjadi Ibu Rumah Tangga(IRT).

Maka semakin tinggi tingkat pendidikan seorang wanita, semakin tinggi pula obsesi yang ingin dicapainya dalam dunia karier dan semakin tinggi pula gaya kehidupanya sehari-hari.

Kedua, karena dedikasi. Banyak pula alasan perempuan berkerja karena mempunyai tujuan luhur dan mulia semata-mata karena ingin mendedikasikan dirinya baik dari sisi ilmu, fikiran, tenaga dan waktu demi kepentingan orang banyak.

Ketiga, mengisi waktu luang. Dan ada juga alasan perempuan milenialis hanya sekadar iseng dan mengisi kebosanan sehari-hari dengan bekerja. Sehingga mereka sangat senang untuk berkerja sekalipun upah tidak sesuai dengan usaha yang telah mereka keluarkan.

Adapun fakror eksternal perempuan ingin berkerja ada beberapa alasan pula diantaranya : Pertama, kebutuhan ekonomi. Tidak dipungkiri faktor ini adalah faktor yang sangat mendominasi perempuan saat ini mau tidak mau harus berkerja.

Ekonomi yang sulit ditambah dengan orang yang menafkahi mereka (Ayah dan wali)  tidak mampu mencukupi kehidupan sehari-hari, dan bahkan tidak menafkahi. Memaksa para perempuan untuk harus bekerja dalam lini apapun.

Kedua, paham feminisme dan kesetaraan gender. Sejak menyebarnya paham ini, banyak perempuan menyuarakan hak dan kebebasannya untuk mengekspresikan diri, menentukan jalan hidupnya sendiri, dan memiliki hak yang sama dengan para lelaki. Tidak terkecuali dalan dunia karir.

Ditambah lagi perusahaan-perusahaan membuka kesempatan bekerja semakin lebar bagi perempuan. Perusahaan yang tidak mau mempekerjakan pekerja perempuan akan dicap kolot, kuno, tidak menghargai perempuan, misoginis.

Masyarakat juga semakin terbuka dengan budaya "wanita karir." Perempuan bekerja tidak lagi dipandang sebagai perempuan yang tidak bertanggung jawab terhadap anak-anak dan keluarganya.

Fasilitas dan jasa yang mendukung perempuan bekerja pun semakin banyak (adanya ruang laktasi di kantor, jasa nanny dan ART, penitipan anak, dan lain-lain).

Ketiga, perempuan lebih teliti dalam bekerja dan mau diupah murah. Baik untuk pekerjaan kasar seperti buruh ataupun pekerjaan administratif (staf kantor), pekerja perempuan sering dinilai lebih rapi, teliti, dan cekatan dibanding pekerja lelaki.

Sehingga lelaki dipekerjakan hanya untuk tugas-tugas yang tidak bisa dilakukan oleh perempuan. Misalnya OB, bagian gudang, security, ataupun supir . Akibatnya, makin banyak lowongan pekerjaan untuk perempuan dan makin banyak perempuan yang bekerja.

Keempat, negara sekuler/kapitalis memberikan kesempatan yang besar untuk andilnya perempuan bekerja. Banyaknya wanita berkarier atau perempuan bekerja adalah salah satu bagian keberhasilan dalam meningkatkan ekonomi negara.

Semakin banyak perempuan bekerja, semakin besar pula permintaan pasar pada produksi barang karena upah/gaji yang mereka peroleh. Ditambah lagi fitrahmya perempuan senang dengan budaya fashion.

Dengan berbagai alasan diatas, inilah yang sebenarnya tanpa disadari telah memandulkan dengan paksa peran perempuan.

Bagaimana tidak, peran sebagai para pekerja telah menambah daftar merah rusaknya rumah tangga, terjadinya perselingkuhan, maraknya kejahatan seksual, pemerkosaan, anak menjadi terlantar, meningkatnya seks bebas dan kenakalan remaja setiap tahunnya,  hingga rusaknya sebuah tatanan kehidupan bernegara adalah berawal dari tidak berjalannya (mandulnya) fungsi perempuan yang notabene sebagai istri dan ibu.

Karena pada hakikatnya dari para perempuanlah keluarga menjadi tentram, damai dan melahirkan kasih sayang pada seluruh anggota keluarga. Ketika ini tidak berjalan dengan baik, akan ada efek negatif yang tidak sekadar menghancurkan keluarga melainkan juga menghancurkan sebuah tatanan negara.

Perempuan Dalam Islam

Islam sangat memuliakan perempuan, demikian mulianya Rasulullah SAW bersabda :

اِسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729)

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ أَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأهْلِى

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku.” (HR Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam “ash-shahihah”: 285)

Dari hadits tersebut, tampak sekali Islam sangat memuliakan perempuan. Maka Islam pun memandang perempuan dengan pandangan khas yang sangat memahami fitrahnya. Diantaranya :

Pertama, Islam memandang bahwa perempuan harus dilindungi dan dinafkahi oleh suami dan kerabatnya yang laki-laki atau wali. Jika tidak mampu maka negara turut andil menafkahi, sehingga peran perempuan tidak mandul sebagai istri dan Ibu dalam mendidik anaknya.

Kedua, Islam tidak memberikan taklif wajib bekerja kepada perempuan, namun juga tidak melarang (mengharamkannya).

Namun hukum dasarnya adalah mubah, bukan karena tekanan ekonomi namun semata-mata sebagai amal salih bagi masyarakat. Sehingga tidak mennjadikan peran utamanya terabaikan karena pekerjaannya.

Ketiga, Islam menerapkan kebijakan ekonomi yang tidak mendorong perempuan untuk bekerja dengan cara menjadikan kekayaan milik umum hanya dikelola oleh negara untuk kesejahteraan rakyat.

Sehinga setiap urusan primer masyarakat terpenuhi baik laki-laki maupun perempuan. Dan negara memiliki kewajiban untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi para laki-laki, sehingga mereka mampu menafkahi keluarganya dan istri/ibu menjadi terjamin kebutuhan hidupnya.

Keempat, Islam menjamin kehormatan perempuan. Sehingga tidak dianjurkan bekerja pada bidang-bidang yang mengeksploitasi kecantikan dan fisik tubuh perempuan. Juga tidak bekerja pada bidang-bidang yang dapat mengabaikan fungsi Keibuan bagi keluarga dan anak-anaknya.

Dan semua ini telah terjadi pada saat peradaban Islam berkuasa selama 13 abad lamanya. Perempuan terjamin hak-haknya dan mampu menjalankan kewajibannya dengan baik.

Tidak sperti saat ini, perempuan telah dimandulkan dengan paksa. Sehingga kiprahnya sebagai istri dan ibu tidak berjalan sebagaimana seharusnya.

Ditambah lagi aturan sekuler/kapitalis telah menciptakan perempuan harus berperan dalam semua lini kehidupan. Tidak peduli apakah pekerjaan itu akan menyebabkan pengabaian fungsi istri dan keibuan dalam keluarganya ataukah tidak.

Maka sungguh kesejahteraan perempuan akan dapat dirasakan ketika tatanan seluruh kehidupan mengikuti aturan yang telah Allah SWT tetapkan, dan diterapkan secara kaffah dalam setiap sendi kehidupan umat manusia.[MO/ad]

Posting Komentar