Sri Nurwulan
Ibu rumah tangga

Mediaoposisi.com-Pada musim pemilu ini, banyak slogan yang dilontarkan oleh para peserta pemilu, dari mulai Bersih, merakyat, kerja nyata, Indonesia Kerja, Indonesia maju, Indonesia first, make Indonesia great again,  dan lain sebagainya. Semua slogan ini dibuat untuk menarik para pemilih sehingga mendapatkan suara untuk memenangkan pemilu ini.

Namun sayangnya, banyak slogan-slogan tersebut yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Ketika para peserta pemilu memenangkan pemilu dan menjabat, mereka tidak dapat merealisasikan slogan tersebut.

Hal ini terjadi karena sistem demokrasi sekuler yang sampai kapanpun tidak akan dapat membuat negara baik, bahkan semakin memburuk. Sistem ini hanya akan memihak kepada pemilik modal saja, tanpa memikirkan kepentingan rakyat.

Seperti baru-baru ini, Ketua TKN mengungkapkan bahwa slogan Indonesia Maju merupakan wujud optimisme. Dalam konvensi rakyat yang mengangkat tema 'optimis indonesia maju' di Sentul Internasional Convention Center, minggu 24 Februari 2019.

Cawapres nomor urut 01 juga mengatakan bahwa 'untuk Indonesia maju, kita harus menang. Untuk menang, kita harus memiliki modal besar'. Menurutnya, mereka telah memiliki modal besar, yaitu berbagai hal yang berhasil dicapai oleh Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla sebagai landasan yang kuat dan program-program yang akan menambah kemajuan atas apa yang telah berhasil dicapai oleh pemerintahan selama ini (25/02/2019).

Padahal negara kita sedang menghadapi multikrisis yang harus segera ditangani dan butuh solusi yang permanen. Ketika solusi itu diambil dalam sistem sekuler demokrasi, maka selamanya krisis ini tidak akan dapat teratasi.

Karena sistem ini adalah sistem warisan penjajah, dan penjajah sudah pasti memiliki kepentingan atas Negeri yang dijajahnya. Sehingga sudah pasti solusinya merupakan kepentingan mereka untuk melanggengkan cengkraman mereka di negara kita. Maka dari itu, sudah selayaknya kita meninggalkan sistem tersebut.

Namun, adakah sistem yang lain, yang dapat mengantarkan Indonesia maju dalam semua aspek? Jawabannya adalah Sistem Islam. Islam merupakan sistem yang paripurna, karena semua aturan kehidupan, dari mulai urusan pribadi, urusan bermasyarakat, sampai urusan negara semua ada dalam sistem Islam. Sistem ini pernah digunakan dari mulai Nabi Muhammad SAW.

hijrah ke Madinah (tahun 622 Masehi), kemudian dilanjutkan dengan Khalifah Abu Bakar ra., Khalifah Umar Bin Khattab ra., Khalifah Utsman Bin Affan ra., Khalifah Ali ra., Bani Umayyah, Bani Abbasiyah sampai Turki Utsmani yang berakhir pada tahun 1924 Masehi.

Ini menunjukkan bahwa sistem ini sudah ada dan berkembang selama kurang lebih 13 abad lamanya. Ini bukanlah waktu yang singkat. Karena jika kita bandingkan dengan sistem-sistem yang lain, sistem inilah yang mampu bertahan dalam waktu yang lama, mengalahkan sistem-sistem yang lainnya.

Kita juga dapat melihat sejarah bahwa ketika sistem Islam ini diterapkan, kemakmuran serta kesejahteraan masyarakat dapat dicapai. Kita ambil contoh pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz(717-720 M).

Pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Sejarah mencatat bahwa pada masa khalifah Umar bin Abdjl Aziz, tidak ada lagi mustahiq zakat (orang-orang yang layak menerima zakat). Ini menandakan bahwa pada saat itu rakyatnya sangatlah makmur. Dan masih banyak lagi contoh keberhasilan sistem Islam dalam memakmurkan rakyatnya.

Memang ada beberapa catatan sejarah yang memperlihatkan berbagai ketegangan antara hukum Islam dengan berbagai kepentingan khalifah. Ada beberapa khalifah mungkin menjauhi Al-Qur'an dan As-Sunnah, namun adanya syura dan koreksi dapat digunakan untuk mengembalikan sistem tersebut agar tetap sesuai dengan aturan Islam.

Dalam sistem Islam, sumber hukum yang dijadikan rujukan adalah Al Qur'an dan Sunah (hadist), dan ijtihad. Khalifah mengambil keputusan berdasarkan hukum syara tersebut, dan rakyat memiliki hak untuk mengkoreksi terhadap pemerintahan.

Hal ini berdasarkan hadist dari Umi Salamah, bahwa Rasulullah SAW. bersabda, yang artinya: "Akan ada para pemimpin, lalu kalian akan mengetahui kemakrufan dan kemungkarannya, maka siapa saja yang membencinya dia akan bebas, dan siapa saja yang mengingkarinya dia akan selamat.

Tetapi siapa saja yang rela  dan mengikutinya (dia akan celaka). Maka bertanya: "tidakkah kita akan memerangi mereka? Beliau bersabda "Tidak, selama mereka masih menegakkan shalat (hukum Islam)".

Dalam hal ekonomi, Sistem Islam membagi kepemilikan menjadi 3, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan negara. Dalam hal kepemilikan individu, besarnya tidak dibatasi tetapi jenisnya dibatasi.

Untuk kebutuhan vital masyarakat seperti air, listrik, bahan tambang dengan simpanan melimpah, dan sarana-sarana yang secara alami tidak bisa dimiliki individu; tidak dapat dimiliki atau bahkan dikuasai individu. Karena semua itu adalah termasuk dalam kepemilikan umum. Jika kepemilikan umum ini benar-benar dikelola dengan baik, maka hasilnya dapat sangat bermanfaat untuk rakyat.

Sedangkan kepemilikan negara adalah setiap harta yang wewenang pengelolaannya ada di tangan khalifah, seperti ghanimah (harta rampasan perang), jizyah (pajak), kharaj (cukai untuk tanah pertanian) dan lain sebagainya.

Harta ini kemudian disimpan dalam lembaga dengan sebutan Baitul Mal. Baitul Mal merupakan institusi khusus yang menangani harta yang diterima negara dan mengalokasikannya bagi rakyat yang berhak menerimanya.

Dalam bidang lain, Islam juga memiliki sistem yang jika keseluruhan diterapkan, maka Negara kita akan benar-benar menjadi negara yang makmur, adil, dan sejahtera. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita untuk kembali kepada pemilik kita, Allah SWT.

dengan mentaati semua perintah-Nya dan menjauhi larangannya, serta menerapkan semua aturan-Nya, baik dalam kehidupan pribadi, masyarakat, maupun bernegara seara kaaffah. Jika tidak, maka penghidupan yang sempitlah yang akan kita alami sebagaimana firman Allah SWT. dalam surat Thaha ayat 124, yang artinya:

"Siapa saja yang berpaling dari perintah-Ku, sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit".

Posting Komentar