Oleh : Nusaibah Al Khanza 
( Pemerhati Masalah Sosial )

Mediaoposisi.com-Perbincangan 95 Th tanpa Khilafah sedang menggema. Memecah telinga para pembencinya. Merobek hati para penentangnya. Menggerus asa para penghalangnya. Mencabik kaki para pencegahnya.

Bagaimana bisa? Karena kebencian mereka pada kebangkitan Islam. Karena kedengkian mereka pada pengembannya. Membuat hati mereka sakit tak terperi mendengar Khilafah dibincangkan. Khilafah dinantikan. Khilafah dirindukan.

Baca Juga : Daulah Islam Yang Dirindukan

Bahkan para penolak Khilafah melakukan berbagai cara agar umat takut terhadap Khilafah. Monsterisasi Khilafah. Hingga fitnah dan ujaran kebencian.

Seperti dilansir dari CNN INDONESIA, Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menyatakan bahwa gerakan yang bercita-cita tentang Khilafah itu tergolong gagasan baru yang sedang dipaksakan pada dunia Islam.

Gus Yahya juga mengatakan ideologi dan gerakan yang membawa gagasan secara universal seperti Khilafah hanya menghasilkan kemelut dan kekacauan di seluruh dunia.

Dari pernyataan tersebut sebenarnya sangat mudah untuk dipatahkan. Dibilang Khilafah adalah gagasan baru? Bukankah umat ini tidak  lupa sejarah masa kekhilafahan.  Yang sudah pernah ada. Islam  menguasai 2/3 dunia selama 14 abad.

Diterapkan 1400 tahun lamanya. Yang kemudian runtuh pada 3 Maret 1924 ditangan Mustafa Kemal Attarturk dan sekutunya. Sistem Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah. Khulafaur Rasyidin. Dan para khalifah sesudahnya. Masih mau bilang ini ide baru?

Yang kedua dikatakan bahwa Khilafah hanya menyebabkan kemelut dan kekacauan di dunia. Aneh. Kerusakan saat ini karena apa? Kekacauan saat ini karena apa? Di Indonesia saja muncul berbagai sparatisme seperti GAM dan OPM, di era apa? Khilafah? Bukan.

Tapi di era saat ini. Saat Khilafah dicampakkan. Timor timur lepas di era apa? Khilafah? Bukan juga.

Seks bebas, pemerkosaan, pelecehan seksual, pornografi, porno aksi, pembunuhan, narkoba, perampokan, tawuran, elgebete, sodomi, pedofilia, korupsi, pajak tinggi, utang riba, perselingkuhan, perceraian tinggi, hamil diluar nikah, aborsi meningkat, dan lain sebagainya. Semua kerusakan itu terjadi di era apa? Khilafah kah ??? Tidak.

Tapi di era saat ini. Saat Islam tidak diterapkan secara kaffah oleh negara. Saat kapitalisme dan turunannya diterapkan. Saat HAM di agung-agungkan. Saat agama dipisahkan dari kehidupan. Jadi bukan karena Khilafah. Paham?

Dalam masalah ibadah ritual seperti sholat, puasa, zakat dan lainnya. Memang umat Islam di Indonesia bisa dengan aman melakukannya.

Tapi bagaimana dengan umat Islam di luar negeri? Etnis muslim Uighur di Cina, Rohingya di Miyanmar, umat Islam di Aleppo, suriah, Burma, Palestina, India dan dibelahan dunia lain yang menjadi minoritas. Mereka dibantai.

Disiksa. Dibunuh. Dipaksa murtad. Apa ini terjadi di masa Khilafah? Tidak kan? Lalu kenapa para pemimpin muslim diam tak memberikan pertolongan? Karena ada sekat negara bangsa. Karena nasionalisme yang menyebabkan umat Islam tak peduli pada umat di negara lain.

Lihatlah! Tanpa ada persatuan umat Islam, para musuh Islam dengan leluasa membunuh, mendzolimi dan perlakuan keji lainnya kepada umat Rasulullah yang mulia ini. Berbagai macam cara mereka lakukan untuk menghancurkan umat Islam.

Umat Islam tak mampu melawan. Layaknya buih di lautan: banyak tapi tidak punya kekuatan. Lemah di ombang ambing kan ombak.

Masih belum cukupkah bukti. Bahwa 95 tahun dunia tanpa Khilafah. Kerusakan kian parah. Penguasa semakin pongah. Rakyat makin sengsara dan terjajah. Sungguh umat ini sudah jengah.

Menghadapi berbagai kemelut kehidupan yang kian membuncah. Namun banyak dari umat yang tak paham. Dengan apa harus mengakhiri semua ini?

Oleh sebab itu, penting untuk terus mengingatkan umat akan kewajiban utama mereka hidup dalam naungan syariah kaffah dengan memperjuangkan kembalinya Khilafah yang merupakan  mahkota kewajiban.

Karena dengan Khilafah semua urusan umat akan diurus oleh negara dengan landasan iman dan takwa.

Bukan atas dasar manfaat dan keuntungan dunia. Karena pemimpin adalah perisai. Khilafah adalah junnah. Sehingga wajib ditegakkan untuk melanjutkan kehidupan Islam dan mendakwahkan Islam ke seluruh dunia.

Masih menolak Khilafah? Memang punya solusi apa untuk memperbaiki segala kerusakan yang semakin parah? Bukankah sudah terbukti bahwa sistem kapitalis yang saat ini diterapkan, tidak dapat memperbaiki keadaan. Justru memperburuknya.

Khilafah adalah janji Allah yang niscaya terwujud. Di luar dari pro kontra tentang metode penegakannya, umat Islam paham bahwa Khilafah adalah ajaran Islam. Meski tak tahu pasti kapan waktunya.  Yang jelas Khilafah semakin dekat.

Sebagaimana sabda Rasulullah:“ Periode kenabian akan berlangsung kepada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya. Setelah itu muncul periode Khilafah ala minhaj nubuwwah selama beberapa masa hingga Allah mengangkatnya.

Kemudian datang periode mulkan aadhan (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa. Selanjutnya datang periode mulkan jabariyyan (penguasa-penguasa yang totaliter) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’ala. Kemudian akan ada kembali periode Khilafah ala minhaj nubuwwah ”. ( HR. Abu Daud )

Salah satu ciri Khilafah yang mengikuti metode kenabian adalah diterapkannya syariat Islam secara  kaffah oleh negara untuk mengurusi urusan umat, menjaga akidah umat dan dalam memutuskan segala perkara yang terjadi di tengah umat. Dan umat pun mengatakan “ kami dengar dan kami taat “.

Sebagaimana firman Allah SWT : “ Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, Kami mendengar, dan kami taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung ". (QS. An-Nur 24: Ayat 51)

Jadi, meskipun banyak penentangnya. Walaupun jutaan penolaknya. Khilafah tetap ajaran Islam yang wajib diperjuangkan.[MO/ad]

Posting Komentar