Oleh: Andre Husnari
(Cendekia Politika Institut)

Mediaoposisi.com-Pertanyaan Menko Kemaritiman, Luhut Panjaitan, yang tersohor Menteri Serba Bisa, menarik untuk dicerna. Sebagaimana dilansir salah satu laman berita, dia menyatakan, "Nggak ada urusannya politik, politik, ngarang saja dia", ujar Luhut usai menghadiri acara Wealth on Wealth 2019 yang diselenggarakan Standard Chartered di Jakarta (Detikcom,11/2/2019)

Luhut merespon tudingan terkait penurunan harga BBM jenis Premium Rp. 100, dari Rp. 6.550 menjadi Rp. 6.450. Pertalite tetap Rp. 7.650. Pertamax turun Rp. 350 dari Rp. 10.200 jadi Rp. 9.850. Pertamax Turbo turun Rp. 800, dari Rp. 12.000 ke angka Rp. 11.200.

Sanggahan tersebut menguatkan apa yang dinyatakan oleh Djoko Siswanto, Dirjen Migas ESDM, "Enggaklah, bukan karena tahun politik. Sudah jelas penurunan BBM ini data dan fakta aktual yang telah digodok sejak lama oleh pemerintah, ucapnya. (CNNIndonesia, 10/2/2019).

Narasi yang dibuat sebagai pembenar argumentasi bahwa semua tidak terkait kepentingan Pilpres, mesti kita sigi.

Oleh karena; Pertama, naik-turun harga BBM tidak terpengaruh fluktuasi harga minyak mentah dunia. Irrational? Tapi nyata! Pemerintah selalu beralasan bahwa langkah menaikkan harga terpaksa diambil karena kenaikan harga di tingkat dunia. Namun sebaliknya, ketika harga minyak dunia turun, rakyat menuntut penyesuaian harga, pemerintah berkilah. Seribu alasan bisa dicari.

Kedua, rasio penurunan harga BBM seperi kerja tidak niat. Kenaikan harga minyak dunia dulu mencapai  US$ 106/barrel, per Februari telah turun menjadi US$ 56,55/barrel. Harusnya penurunan harga BBM juga bisa lebih tajam.

Lalu, apa signifikansi penurunan Rp. 100 untuk Premium bagi pengguna motor rumah tangga yang kapasitas tankinya empat liter?

Ketiga, tidak tepat sasaran. Bukankah dulu, kenaikan BBM jenis Pertamax dan Pertamax Turbo, seolah dibenarkan, dengan nalar argumen dikonsumsi oleh ekonomi menengah-atas. Ada harga ada kualitas. Sekarang mengapa justru jenis ini yang diturunkan lebih besar?

Keempat, tunggu saja nanti debat capres sesi kedua, andai penurunan harga BBM disinggung oleh kubu Jokowi. Maka jelas sudah memang itu tujuannya. Andai tidak, tunggu sampai sesi debat terakhir. Bukan hanya oleh pasangan calon tapi juga oleh tim sukses.

Kelima, apa yang dikemukakan biasanya menutupi apa yang diinginkan. Politik bukan cuma meracik seni kemungkinan, tapi juga seni momentum. Waktunya harus pas. Jika betul ini berdasarkan data, fakta aktual, seperti diutarakan Dirjen Migas ESDM, bukankah lebih elok diumumkan di awal tahun? Mengapa baru menjelang Pilpres?

Huufh.. meski tak boleh paranoid tapi rakyat  tetap harus hati-hati. Soalnya banyak lelaki gombal kasih kado cinta di Februari ?![MO/sr]

Posting Komentar