Gambar: Ilustrasi

Oleh : Siti Syamsiyah

Mediaoposisi.com-Tagar #yanggajikamusiapa ramai disuarakan di media sosial maupun media nasional. Trending topic ini bermula dengan pernyataan kominfo Rudiantara yang menanyakan kepada pegawainya, "Bu!bu! Yang gaji Ibu siapa? PemerIntah? Bukan yang Ibu yakini? Ya sudah terimakasih". Usut punya usut, pernyataan yang dilontarkan Rudiantara adalah sebuah penegasan bahwa pegawai kominfo harus menjadi penengah dalam pilpres dan tidak menjadi pencetus keriuhan kontestasi politik April mendatang.

Namun, menurut banyak pihak, pernyataan Rudiantara bernada sarat akan "polarisasi" ke salah satu pihak sebab ia menegur secara jelas alasan ASN (Aparatur Sipil Negara) yang memilih nomor dua. Sebelumnya Rudiantara meminta dua pegawainya untuk memilih desain stiker, no 1 dan no 2. Salah satu pegawainya yang seorang Ibu naik ke panggung dan memilih no 2. Alih alih memberi alasan objektif mengenai pilihanya tersebut, ia malah memberikan jawaban terkait keyakinannya memilih paslon presiden 2019 no 2. Sehingga muncullah perkataan viral "yanggajikamusiapa" semata mata untuk menyindir Rudiantara atas pernyataannya tersebut.

Animo masyarakat semakin besar dengan visi-misi yang ditawarkan dan masing-masing pendukung mendiskreditkan paslon lawannya. Alhasil, yang terjadi saling ejek untuk menaikkan pamor paslon pilihannya dan situasi politik menjadi semakin memanas. Kejadian ini menjadi hal biasa sebab pasti tiap manusia memiliki kekaguman tersendiri terhadap sosok manusia yang dianggap mampu memberikan kesejahteraan.

Secara tidak langsung, umat mengalihkan ketundukannya pada syariat Islam dan fokus pada semakin kuatnya hegemoni sistem sekuler. ‘Yang gaji kamu siapa’ berhasil mengalihkan pertanyaan yang sesungguhnya, ‘Yang Ngasih kamu Hidup Siapa’. Allah sebagai satu satunya pencipta dan pengatur tidak diindahkan perannya sebab secara terang-terangan penguasa menjadi lebih berhak mengatur hidup dan hajat manusia. Namun, lagi-lagi sistem sekuler hanya melahirkan kekecewaan tak berujung.

Terbukti dengan diterapkannya aturan bukan dari Allah SWT, keadaan tetap tidak akan berubah meskipun presidennya telah berganti. Pejabat pemerintahan dari tahun ke tahun tetap digaji dari pajak yang diambil dari rakyat. Akibatnya, kebijakan yang mereka keluarkan tidak berpihak pada rakyat. Berkali kali berganti presiden, tak satupun dari mereka berkeinginan menerapkan syariat Islam.

Berharap merdeka dari kemiskinan, keterpurukan masalah generasi, pendidikan, ekonomi dan segenap masalah kehidupan lainnya, namun yang digunakan adalah sistem yang tidak mengakui Allah sebagai pengatur, yang demikian tidak akan terjadi. Kesusahan dan kehidupan sempit yang akan ditimpakan oleh Allah, sebagaimana firmanNya, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, (Thaaha 124)

Sistem demokrasi sekuler yang dianut pemerintah Indonesia, melahirkan undang-undang dan peraturan yang menuntut pemimpin untuk menjadi penguasa, bukan pengayom umat. Jelas hal ini melahirkan pemimpin yang memimpin dengan tangan besi, berkoar-koar janji manis demi mendulang suara dan mempertahankan kekuasaannya namun setelah memimpin lupa akan janjinya. Mental penguasa yang demikian tidak akan terjadi jika diterapkan sistem Islam. Dalam Islam, pemimpin adalah pengayom dan pelayan umat, bukan sekedar atasan yang digaji bawahan.

Sistem kufur tidak akan melahirkan kesejahteraan, lebih-lebih kebangkitan hakiki. Kesejahteraan dan kebangkitan hanya bisa diraih dengan penerapan Islam sebagai jalan hidup. Peraturan yang bersumber dari Islam semata-semata demi kebaikan manusia.

Islam menetapkan bahwa Allah sebagai Pencipta dan Pengatur berhak mengatur hidup manusia dengan segenap aturan yang akan membimbing manusia menuju keberkahan. Saatnya kita kembali kepada aturan Islam yang akan mengembalikan kemuliaan manusia, menebar rahmat bagi seluruh alam dan menjadikan Indonesia sebagai negeri baldatun thoyyibatun wa rabbul ghafur.

Posting Komentar