Oleh : Imas Nuraini, S.P
(Pengasuh Forum Muslimah Peduli Umat)

Mediaoposisi.com-Kekuasaan merupakan magnet yang bisa menarik bagi para pemujanya. Karena dengan kekuasaan bisa menjadi sarana untuk memenuhi segala keinginannya. Harta, tahta, wanita akan mudah diperoleh jika seseorang memiliki kekuasaan.

Dengan demikian, seseorang bisa dianggap bahagia jika memperoleh harta yang banyak, tahta yang terhormat, bahkan wanita yang yang disukai dan dicintainya. Inilah kebahagiaan menurut cara pandang sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.

Menjelang april 2019 ini, kita bisa menyaksikan banyak para pendukung kontestan yang berusaha dengan segala cara untuk memenangkan kontes ini.

Tidak sekedar pada tataran yang wajar seperti kampanye langsung dihadapan khalayak, memberikan janji-janji yang ingin meraih hati rakyat.

Bahkan, sampai pada tataran yang tidak rasional pun dilakukan, seperti dukungan secara supranatural, para pendukung imajiner baik dengan poolingnya, hasil surveinya serta berbagai deklarasi dukungan ataupun menggunakan opini-opini yang tidak sesuai realita alias Hoax.

Bahkan, isu yang bisa jadi mengandung unsur kebencian, permusuhan atau fitnah sekalipun banyak beredar di tengah masyarakat. Dengan kata lain, asal bisa menaikkan citra dirinya, dan merendahkan citra lawannya, apapun boleh dilakukan.

Kepemimpinan seperti apa yang mungkin terjadi, jika langkah untuk meraih kekuasaan dilakukan seperti dijelaskan di atas? Kepemimpinan manipulatif, bahkan kepemimpinan bayangan. Ketika penguasa yang memenangkan kontes ini berhasil, belum tentu kekuasaan yang dijalankan murni dilakukan penguasa pilihan.

Tapi, yang paling berperan adalah orang-orang dibalik layar yang jadi pembisik, penasehat, bahkan pemberi `sumbangan sukarela` untuk mendanai proses kampanyenya. Rakyat bisa jadi tertipu dengan segala citra positif yang ditunjukkan. Rakyat tidak memahami apa visi, misi orang-orang dibalik layar yang berpengaruh besar terhadap sosok penguasa pilihan.

Opini yang disebarkan tidak dalam rangka menyelesaikan permasalahan umat, yang terjadi malah membangun suasana yang tidak sehat. Rakyat siap-siap kecewa dengan pilihan yang mereka anggap terbaik.

Demokrasi memang tidak menjanjikan kepemimpinan yang baik, tapi memastikan bahwa kepemimpinan dalam demokrasi adalah kepemimpinan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Rakyat yang mana?

Tentu adalah rakyat yang berpengaruh besar terhadap penguasa terpilih. Disinilah peluang munculnya kepemimpinan yang buruk yang jauh berbeda dengan pencitraan yang ditonjolkan saat kampanye.

 Bahkan dalam perjalanannya, demokrasi adalah kepemimpinan terbaik diantara kepemimpinan terburuk. Idiom ini muncul, menggambarkan kondisi masyarakat yang sakit, karena rendahnya kadar keimanan dan perasaan tanggungjawab terhadap perbuatan di akhirat kelak.

Tidak hanya rakyatnya, termasuk penguasanya. seseorang tidak takut berbuat zhalim, tidak takut akan sanksi di dunia, bahkan sanksi di akhirat sekalipun.

Sehingga, demokrasi gagal melahirkan pemimpin yang baik, karena aturan yang diterapkan bukan berdasarkan pandangan hidup yang benar, yakni memisahkan agama dalam kehidupan. Sistem yang dijalankan adalah sistem yang buruk. Yakni, sistem aturan yang dibuat oleh manusia yang banyak memiliki kekurangan.

Selayaknya kita sebagai muslim memahami bahwa Islam telah memberikan panduan jelas terkait kepemimpinan. Kepemimpinan dalam Islam adalah sarana untuk mengurus masyarakat berdasarkan syariat Islam.

Seseorang bisa dijadikan pemimpin untuk menjalankan kekuasaan dalam mengatur urusan masyarakat, dengan syarat asasnya Akidah Islam dan aturannya Syariat Islam. Berbeda dengan demokrasi, karena asasnya Akidah sekuler, dan aturannya undang-undang buatan manusia.

Kepemimpinan Islam ini yang sering disebut dengan Khilafah Islamiyah. Sedangkan penguasanya adalah Khalifah.

Kekuasaan dalam Islam bukan untuk memenuhi keinginan penguasa dan golongannya, tapi kekuasaan adalah amanah yang harus dijalankan sesuai syariat yang telah ditetapkan berdasarkan wahyu, sehingga nanti akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Suatu waktu Abu Dzar Al Ghifari bertanya kepada Nabi. “ Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak memberi jabatan apa-apa kepadaku?” sambil menepuk bahu sahabatnya yang zuhud itu Rasulullah SAW bersabda : “Hai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah, sedangkan jabatan itu adalah amanah.  Sesungguhnya amanah itu kelak pada hari kiamat hanya akan menjadi penyesalan dan kehinaan, kecuali bagi orang yang dapat menunaikan kewajiban dan tanggung jawabnya”.(HR. Muslim).

Seseorang akan sampai pada kepemimpinan Islam tidak memerlukan langkah-langkah yang membutuhkan penyumbang dana yang besar, atau opini yang mencitrakannya positif.

Cukup dengan terpenuhinya 7 syarat legalitas yang ditetapkan yaitu : Muslim, Laki-laki, Baligh (Dewasa), Berakal, Merdeka, Adil dan Mampu. Jika syarat legalitas itu melekat pada dirinya, seseorang tersebut berpeluang untuk bisa meraih kepemimpinan Islam.

Mampukah syariat ini menyelesaikan permasalahan masyarakat hari ini? Tentu saja mampu, karena wahyu bukan bersumber pada akal manusia yang terbatas, tetapi berdasarkan aturan yang dibuat oleh Dzat yang menciptakan manusia.

Sehingga, bebas dari keterbatasan, dan bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu. Karena itu kalau kepemimpinan Islam dterapkan pasti akan membawa kepada kehidupan yang penuh kebaikan dan keberkahan. 

Allah berfirman dalm QS . Al `Araf : 96 yang artinya “Sekiranya penduduk suatu kaum beriman dan bertakwa, pasti akan kami bukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakannya maka kami turunkan adzab disebabkan apa yang mereka kerjakan”.[MO/ad]

Posting Komentar