Oleh: Syifa Nurjanah

Mediaoposisi.com-Bulan Februari acap kali dikaitkan dengan satu perayaan bagi orang yang tengah dimabuk asmara yaitu hari kasih sayang atau hari valentine. Muda, tua, pria, wanita saat ini banyak yang berpahaman bahwa hari tersebut adalah hari mengungkapkan kasih sayang dan memberikan sesuatu kepada orang yang disayangnya, entah itu coklat, bunga atau apapun.

Namun sungguh disayangkan justru pada hari tersebut banyak sekali kelakuan yang sarat dengan penyimpangan di belahan dunia manapun khususnya di Indonesia. Penyimpangan terbesar yang sering dilakukan adalah seks bebas yang dlakukan di banyak tempat. Women Crisis Center  mengungkapkan bahwa hubungan seksual pra-nikah meningkat saat hari valentine (kompasiana.com).

Hal tersebut semakin diperparah dengan banyaknya promo yang mendorong seseorang untuk mengarah kepada aktivitas seks bebas seperti membeli paket coklat berhadiah alat kontrasepsi atau promo harga ruangan hotel yang murah pada hari valentine.

Seks bebas adalah perilaku yang tidak dibenarkan, sangat menyimpang karena melakukan suatu hubungan dalam keharaman. Bahkan seks bebas dapat mengakibatkan mudahnya penyakit kelamin dan juga HIV/AIDS tertular. Hari valentine sendiri merupakan sebuah perayaan dengan latar belakang sejarah dengan penuh kemirisan. Salah satu kisah menyebut, alkisah Kaisar Romawi Claudius II melarang para tentara muda menikah, agar mereka tak 'melempem' di medan tempur.

Namun,"Uskup Valentine melanggar perintah itu dan menikahkan salah satu pasangan secara diam-diam. Ia dieksekusi mati saat sang penguasa mengetahui pernikahan rahasia itu.

Saat ia dipenjara, legenda menyebut bahwa pria asal Genoa itu lantas jatuh cinta dengan putri orang yang memenjarakannya. Sebelum dieksekusi secara sadis, ia membuat surat cinta pada sang kekasih. Yang ditutup dengan kata, 'Dari Valentine-mu'.  Valentine yang lain adalah seorang pemuka agama di Kekaisaran Romawi yang membantu orang-orang Kristen yang dianiaya pada masa pemerintahan Claudius II.

Saat dipenjara, ia mengembalikan penglihatan seorang gadis yang buta -- yang kemudian jatuh cinta padanya. Valentine yang itu dieksekusi penggal pada 14 Februari. Yang ketiga adalah uskup yang saleh dari Terni, yang juga disiksa dan diekselusi selama pemerintahan Claudius II, juga tanggal 14 Februari -- di tahun yang berbeda..

Dilihat dari sisi historis, perayaan ini merupakan penuh dengan paganism dan kesyirikan. Merayakannya adalah meniru orang kafir dan di dalam Islam dilarang untuk merayakan perayaan yang berasal selain dari Islam.

Bahkan jika mengikuti perayan tersebut merupakan bagian dari orang kafir, hal ini berdasarkan hadist “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud.

Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269], merayakan valentine berarti meniru apa yang bukan dari Islam. Dan pada hari itu memunculkan banyak sekali kemaksiatan terutama zina sementara dalam Islam zina adalah perbuatan yang termasuk dosa besar bahkan untuk mendekatinya saja tidak dibolehkan.

Hal ini sesuai dengan apa yang Allah perintahkan dalam Al Quran untuk menjauhinya “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32).

Hari valentine adalah hari kerusakan dimana yang ada pada hari itu adalah kesyirikan, paganisme dan perzinahan. Valentine juga merusak tatanan dan norma masyarakat. Kontrol negara dalam hal ini juga sangat diperlukan mengingat sudah terlalu banyak penyimpangan pada hari ini terutama di kalangan muda mudi.

Dalam kepemimpinan Islam, anak muda tidak akan dibiarkan untuk berada pada keberadaan yang salah, melainkan akan digali potensinya dengan sandaran ketaqwaan agar dapat berkontribusi dalam Islam, karena masa muda adalah masa dimana puncak energi berada.[MO/sr]

Posting Komentar