Oleh: Sri Yana

Mediaoposisi.com-     Pada tanggal 14 Februari diperingati sebagai hari kasih sayang atau disebut valentine day oleh kalangan muda-mudi. Mereka merayakannya sebagai tanda bukti cinta kepada kekasih pujaan hati. Bahwa mereka saling mencintai.

 Moment-moment inilah yang mereka tunggu-tunggu untuk mendapatkan kado dari sang pujaan hati. Tak ubahnya seorang laki-laki rela merogoh kocek demi sang pujaan hatinya untuk memberi sebongkah coklat, boneka cantik, bunga mawar merah atau barang-barang lainnya yang berbau kasih sayang. Padahal mereka bukanlah suami-istri. Mereka hanyalah dua orang yang saling jatuh cinta tanpa ikatan pernikahan.

Di hari valentine ini dijadikan agenda penting, baik oleh kaum adam maupun kaum hawa. Dimana terjadinya interaksi antara dua orang atau lebih, yg berpasang-pasangan, yang saling memadu kasih. Tanpa adanya basa-basi dan malu-malu lagi. Bahwa di jaman sekarang, pemandangan seperti itu sudah terjadi dimana-mana dan tak dipungkiri lagi menjadi hal yang wajar.

Oleh Karena itu, valentine day merupakan ajang maksiat yang dapat merusak generasi muda. Diawali dari diberi kado, berpegangan, dan akhirnya berhubungan layaknya suami istri. Miris bukan!
Padahal Allah SWT sudah mengingatkan dalam surat Al Isra: 32
"Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk."

Dari ayat di atas sudah dijelaskan bahwa sekedar mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sekarang, yang sudah nyata-nyata diaplikasikan dalam perbuatan zina, berupa penyerahan keperawanan demi sang kekasih hati. Naudzubillah!

Sejatinya lah kita harus meninggalkan valentine, karena merupakan kebudayaan paganisme, valentine juga merupakan buah dari kapitalisme, yang menjadi biang dari masalah  perzinaan yang ada saat ini. Dimana valentine sudah merasuk di kalangan muda-mudi, yang seharusnya fokus belajar, malah sibuk dengan moment tersebut.

Karena kapitalisme adalah sistem dimana adanya pemisahan antara kehidupan dengan agama yang membuat generasi ini tidak mau terikat dengan hukum Islam. Di sinyalir juga akan disahkannya RUU PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual). Hal inilah jelas-jelas akan membuka lebar jalan maksiat, seperti valentine dan maksiat- maksiat lainnya.

Selain itu mereka menginginkan kebebasan, mulai dari pakaian, pergaulan bahkan gaya hidup. Mereka lebih gandrung dengan pakaian-pakaian ala Barat, yang menurut para muda-mudi adalah pakaian yang modis dan keren.Dengan pakaian yang terbuka sekwilda (sekitar wilayah dada) atau area bupati (buka paha tinggi-tinggi). Padahal fungsinya pakaian adalah menutup aurat, bukan sekedar bagus, modis dan keren saja. Karena Allah telah memerintahkan untuk menutup aurat bagi laki-laki dan perempuan. Aurat laki-laki antara pusar sampai lutut, sedangkan aurat perempuan adalah seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan.

Begitu juga dengan pergaulan, Islam telah mengatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan agar tak campur baur. Kecuali bergaul dengan perempuan dan mahromnya. Dengan begitu tidak akan ada pertemuan laki-laki dan perempuan, kecuali di pasar, menuntut ilmu, pengobatan, ibadah haji dan hal-hal yang dibolehkan syara.

Kemudian gaya hidup yang hedonis lah yang membuat para remaja hanya memikirkan kesenangan semata, mereka berfoya-foya dan bersenang-senang di hari valentine, tanpa memikirkan masa depan generasi ini, padahal Allah telah menyebutkan dalam Surat Ali Imron: 110
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentang itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."

Oleh Karena itu, sebagai umat terbaik sudah sepantaskan meninggalkan hari valentine dan mencampakkan kapitalisme, karena dalam Islam tak ada hari kasih sayang, apalagi sampai menodai kesucian. Yang ada hanyalah institusi pernikahan, dimana adanya kasih sayang akan terjalin diantara suami dan istri sebagai pasangan halal mereka.[MO/sr]

Posting Komentar