Oleh: Sri Eni Purnama Dewi, S.Pd.Si 
(Member komunitas revowriter dan pemerhati politik)

Mediaoposisi.com-Viral di media sosial video doa penutup yang dibacakan seorang ulama. Dalam acara Sarang Berzikir untuk Indonesia Maju di Pondok Pesantren Al-Anwar, Rembang, Jawa Tengah pada Jumat (1/2) lalu, Kiai Maimoen Zubair  salah membaca doa. Hadir dalam acara tersebut calon presiden inkumben Joko Widodo beserta pendukungnya.

Saat berdoa sebagai penutup, alih-alih menyebut nama Jokowi, Mbah Moen mendoakan Prabowo menggunakan bahasa Arab. Setelah berdoa, ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhammad Romahurmuziy (Romi) menghampiri Mbah Moen. Kemudian kembali berdoa dengan menyebut Jokowi.(CNN Indonesia, 2/2/2019)

Ketua Umum PPP angkat bicara soal salah doa tersebut, Romi mengatakan Mbah Moen memang salah mengucap nama Jokowi dengan Prabowo. Hal itu dianggap wajar karena mbah Moen sudah tua.(Merdeka.com, 2/2/2019)

Mendekati kontestasi politik para kandidat banyak mencari simpatik. Guna mendulang suara berbagai upaya dilakukan. Kunjungan capres dan cawapres ke beberapa ulama tak bisa disebut kunjungan biasa. Ada muatan politik didalamnya. Kubu petahana tentu menginginkan agar Jokowi menang kembali dalam pilpres nanti. Oleh karena itu mencari simpatik kepada ulama karismatik.

Dalam demokrasi ulama sangat rentan dijadikan alat legitimasi kekuasaan menjelang pilpres. Perbincangan ulama dan perpolitikan bukanlah hal yang baru, dalam sejarah terdahulu para penguasa kerap menjadikan ulama sebagai stempel dalam melegitimasi regulasi hukum dan kebijakan-kebijakan politiknya.

Sistem demokrasi bebas menghalalkan segala cara termasuk melegitimasi produk politik melalui dalil agama guna mendulang suara. Tak jarang mereka yang berkepentingan harus mencari dalil-dalil keagamaan agar cocok dengan produk politik yang akan mereka tawarkan ke pasaran. Hal ini merupakan bukti nyata betapa ulama menjadi alat dalam setiap promosi politik.  Tentu kebijakan ulama berperan penting dalam perolehan suara.

Berbeda dengan sistem Islam, peran ulama menempati posisi sangat penting. Pada zaman sahabat, ulama mempunyai fungsi sebagai pewaris nabi dan penjaga misi kenabian.
Bahkan Imam Hasan Al-Bashri menyatakan "Andai bukan karena Ulama, manusia bagaikan binatang". Hal ini menunjukan pentingnya keberadaan Ulama dalam kehidupan ummat manusia.
Ada lima fungsi dan peran Ulama dalam kehidupan Ummat, yakni;

Pertama, Ulama Sebagai Mursyid (pemandu) ke Jalan Allah.
 Melalui ulama syariat Allah sampai kepada kita. Mereka adalah pelanjut dan pewaris risalah kenabian sebagaimana dinyatakan dalam hadits, “Sesungguhnya Ulama adalah pewaris para Nabi, dan Nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham melainkan mewariskan ilmu" (Terj. HR. Tirmidziy, Abu Daud, & Ibn Majah).

Kedua, Ulama Sebagai Pilar Kehidupan Dunia. Islam tidak mengenal dikotomi antara agama dan dunia seperti dipahami oleh kalangan sekuler. Tetapi Islam mencakup seluruh aspek kehidupan. Sehingga arahan dan bimbingan para ulama juga dibutuhkan dalam persoalan duniawi menyangkut muamalat sehari-hari.

Ketiga, Ulama Sebagai Penjaga Kemurnian dan Kesucian Aqidah Islam. Dalam hal ini peran konkrit yang dapat dimainkan para ulama dan da’i adalah menolak dan membantah berbagai syubhat yang dilemparkan kalangan yang hendak merusak Islam melalui penyebaran paham menyimpang.

Keempat, Penjaga masyarakat dari berbagai penyakit sosial. Banyaknya ulama yang menyebarkan ilmu, nasehat, dan tadzkirah di tengah-tengah masyarakat dapat mengurangi penyebaran berbagai penyakit sosial dan kerusakan akhlaq di tengah-tengah masyarakat.

Kelima, Ulama Sebagai Pemersatu Ummat. Persatuan ummat takkan terwujud melainkan dengan komitmen dan berpegang teguh pada al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan pihak yang paling berpengaruh dalam menjelaskan kedua sumber Islam tersebut adalah para Ulama.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya ’Ulumuddin membagi ulama menjadi dua,
pertama, ulama akhirat. Yakni ulama yang tidak mengejar duniawi, ilmunya digunakan untuk menjalankan perintah Allah dan mengikut sunnah Rasululloh.

kedua, ulama su’ (ulama buruk) atau ulama dunia. Yakni mereka yang menggunakan ilmunya untuk mencari kenikmatan dunia, memperoleh kekuasaan dan posisi yang terhormat di hadapan masyarakat.

Rakyat yang rusak itu disebabkan oleh penguasa yang juga rusak. Sedangkan penguasa yang rusak pun diakibatkan oleh ulama yang juga rusak. Rusaknya seorang ulama ketika dia lebih mencintai harta dan kedudukan. Padahal tugas sesungguhnya dari ulama adalah penjaga agama, mengontrol dan menasehati penguasa.[MO/sr]

Posting Komentar