Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Alam menampakan Tamsil, satu 'qarinah' atas keberpihakan atau penolakan. Fenomena alam itu bisa dijadikan petunjuk. Misalnya saja : maraknya musibah dan bencana saat ini, yang disebabkan oleh kemaksiatan manusia.

Dahulu, Saat Seorang Yahudi melihat Serigala menerkam Domba, dia sadar ini tanda-tanda alam. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Benar saja, beberapa saat kemudian tersiar Kabar meninggalnya Khalifah Umar Bin Abdul Azis, Khalifah yang sangat adil, dalam waktu kurang dari tiga tahun pencapaian kemakmuran dan keadilan begitu sangat luar biasa.

Bukan hanya kepada manusia, bahkan terhadap binatang. Saking adilnya, serigala pun enggan memangsa domba. Tamsil itu berulang, tapi bukan menggambarkan adil dan sejahteranya peradaban. Justru sebaliknya, Tamsil kemelaratan dan kezaliman. Akibat zalimnya kekuasaan.

Baru kali ini saya menulis dengan kaidah 'Gatuk Matuk'. Tapi untuk hiburan, boleh lah. Cerita diawali dengan perlambang udang.

Udang, itu letak otak dan kotoran menyatu. Di kepala. Cara menyiangi udang untuk diolah, bukan membedah perut dan mengeluarkan kotorannya. Tetapi cukup membuang cangkang kepala yang didalamnya ada penyimpan kotoran.

Karenanya, jika ada orang pandir, otaknya kelewat 'bodoh' bisa digelari otak udang. Dalam konteks metafisika kerakyatan, udang bisa diperlambangkan sebagai rakyat kebanyakan yang 'pandir' dan tak tahu apapun tentang proses penyelenggaraan Pemerintahan.

Rakyat, misalnya tak tahu kenapa Inalum berani borong saham freepprt terlampau mahal, USD 3,8 miliar hanya untuk porsi saham 51,3 %. Sedangkan Indocooper, sahamnya hanya dihargai USD 400 juta untuk porsi 9,36 %. Ini saham freeport, bukan saham di perseroan berbeda.

Rakyat juga tak tahu menahu, kenapa tiba-tiba freeport rugi dan dua tahun tidak bagi Deviden. Padahal, sejak awal rezim gembar gembor untung beliung borong saham feeport. Satu tahun bagian Deviden USD 1 miliar, begitu nyanyian awalnya.

Saat Inalum bilang freeport merugi, dua tahun tdk bagi Deviden, Inalum tetap wajib bayar cicilan dan bunga Obligasi Global, rakyat juga diam. Rakyat seperti otak udang dalam urusan ini, dirugikan tapi diam saja.

Sampai saat, Inalum keluarin duit lagi miliaran dolar untuk bikin smelter, yang sebenarnya kewajiban freeport, rakyat juga masih diam. Karena tidak tahu, apa yang terjadi. Yang diatas bancakan anggaran, yang rakyat jelata tak tahu apa-apa.

Nanti Klo Inalum merugi, atau BUMN dengan dalih 'penyehatan inalum' perlu suntik PMN di Inalum untuk menstabilkan neraca keuangan, Alokasi APBN di keruk lagi untuk ikut bantu PMN, barulah rakyat kebagian bebannya. Karena APBN semua dari pajak rakyat.

Kembali ke soal udang, ketika ada kabar Jokowi kena patil udang di muara Gembong Kabupaten Bekasi, secara methafishik ini perlambang kemarahan rakyat. Rakyat, yang dianggap otak udang mulai marah karena sadar dikibuli rezim Jokowi. Representasi perlambangan itu, wujud pada kepatilnya Jokowi.

Semestinya, ini jadi bahan koreksi Jokowi dalam memimpin negeri ini. Sudah wajib, bagi Jokowi menghentikan seluruh kezaliman dan ketidakadilan dalam berbagai urusan rakyat. Jokowi dan rakyat, wajib berterima kasih kepada udang yang telah memberi 'pesan' yang tidak bisa disampingkan.

Jadi, penghargaan besar dan sangat mendalam bagi udang yang mematil Jokowi. Ini, adalah perlambang kemarahan rakyat yang mulai sadar atas berbagai dusta dan kezaliman yang diproduksi rezim Jokowi. Harapnya, jika Jokowi tidak sadar (ini sulit sekali) maka rakyat wajib marah dan mengambil mandat kekuasaan darinya.

Sekali lagi, TRIBUTE for Udang Muara Gembong. Bekasi memang beda ! [MO|ge]

Posting Komentar