Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Debat Pilpres menjadi momok tersendiri bagi TKN Jokowi. Mereka, telah menghitung daya gerus elektabilitas pasca debat. Karenanya, TKN berkepentingan untuk memoles Jokowi agar menjadi 'Aktor Handal' saat tampil di panggung.

Secara normatif, debat berfungsi untuk mengenalkan calon, mengenalkan program, membangun keyakinan pada calon, dan membangun komitmen antara calon dengan konstituen. Secara subtantif, debat itu untuk mengunduh elektabilitas.

Namun, dalam waktu yang dekat sulit -bahkan mustahil- untuk mengunduh elektabilitas bermodal debat-debatan. Apalagi untuk Jokowi. Jokowi tidak perlu mengenalkan diri, tidak perlu mengenalkan program, tidak perlu membangun komitmen.

Jokowi, selama empat tahun lebih sebagai Presiden dikenal represif dan anti Islam. Programnya berburu aktivis, kriminalisasi ulama, habaib, simbol dan ajaran Islam. Komitmennya, ya komitmen seorang yang gemar dusta, ingkar dan khianat.

Jadi bagi Jokowi debat mustahil digunakan untuk mengunduh elektabilitas. Justru, Jokowi khawatir jika debat menjadi sarana membongkar kesalahan rezim, menjadi sarana serangan politik, sehingga menggerus elektabilitas Jokowi.

Apalagi, mitra debat Jokowi yang tak prima, berpotensi menjadi sasaran kritik tajam netizen. Debat yang lalu saja, wakil Jokowi hanya berulang kali melafadzkan mantera 'saya setuju dengan Pak Jokowi'. Tidak punya ide genue untuk disampaikan.

Secara substansi, debat juga lebih mudah untuk digunakan menjatuhkan lawan ketimbang membangun kepercayaan. Apa yang mau disampaikan dari debat formalis yang hanya beberapa jam ? Justru publik akan menginventarisasi berbagai Kesalahan, yang itu bisa berujung pada petaka elektabilitas.

Tapi STW, SanTai Wae. Yang pusing itu TKN bukan Jokowi. Jokowi sih asyik-asyik saja. Berulang kali blunder juga masih tetap senyum-senyum planga plongo. Tidak sensitif atas tindakannya yang menggerus elektabilitas.

TKN pusing tujuh keliling. Memiliki seluruh pengetahuan untuk mengunduh elektabilitas, tetapi bukan pemerannya. Andai saja ketua TKN yang menjadi capres, atau setidaknya Wapres, tentu lebih menentramkan untuk tampil dihadapan publik.

Suasana debat Pilpres kedua ini, lebih menegangkan bagi TKN tapi tidak bagi Jokowi. Apa sebab ? Ya, sehari sebelum debat tagar #UninstallJokowi dan #ShutDownJokowi memuncaki tranding topik jagat tweeter.

Ini menjadi beban tersendiri. Sebelum tampil dihadapan publik, telah terbayang jutaan pasang mata memandang Jokowi, dan seolah meneriakkan yel-yel '#UninstallJokowi ! #ShutDownJokowi !'.

Bagi TKN ini bikin tidak bisa tidur, bikin meriang. Bagi Jokowi ini tidak ngaruh, bisa terus ngorok pules dan terus bermimpi Jokowi dua periode, Jokowi dua periode.

TKN oh TKN, sepertinya lebih baik menjadi TKI atau TKW. Lebih tenang menjadi pekerja dengan gaji yang jelas, ketimbang menjadi tim kampanye dengan penuh ketidakyakinan. [MO|ge]

Posting Komentar