Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Debat Pilpres kedua yang akan diselenggarakan esok (17/2) temanya seputar energi, pangan, infrastruktur, lingkungan dan sumber daya alam. Jika caleg mengenal istilah 'Dapil Neraka', maka tema debat Pilpres kedua ini 'Nerakanya Jokowi'.

Apa soal ? Mari kita ulas. Baca pelan, hayati, dan cermati secara seksama. Anda, boleh juga menambahi atau mengurangi, sepanjang tidak merubah substansi tulisan bahwa tema debat kedua adalah nerakanya Jokowi.

Pertama, tema energi. Tema energi tentu akan mengulas berbagai sumber energi yang dikelola negara, baik berupa minyak dan gas, termasuk kebijakan energi dibidang energi listrik. Publik akan mempersoalkan Jokowi, kenapa sepanjang periode pemerintahan Jokowi justru energi liar tak terkendali ?

Tidak ada kedaulatan energi, sehingga meskipun Indonesia kaya akan energi (khususnya minyak dan gas), tetapi kenapa harga minyak terus naik ? BBM era Jokowi baik tinggi susu tak terbeli. Tarif listrik mahal. Liberalisasi sektor migas, bahkan massif dari hulu hingga hilir.

Beberapa konsesi migas yang habis KK tidak dipersiapkan untuk dikelola secara mandiri dengan baik. Setelah dikelola, Pertamina yang merupakan BUMN diperas untuk membayar signatur bonus seperti pada kasus blok Rokan.

Pertamina harus merogoh kocek (lagi lagi dengan terbitkan global Bond) untuk membayar US$ 785 juta, padahal Pertamina belum memompa satu tetes pun minyak dari blok rokan.

Belum lagi, Pertamina juga harus menyetor performance bonds sebesar US$ 50 juta atau 10% dari jumlah komitmen kerja pasti selama lima tahun di Blok Rokan sebesar US$ 500 juta. Ini sebenarnya mau menguasai tambang sendiri atau sewa lapak ?

Belum lagi, tidak jelas Alokasi dana signature bonus itu untuk apa. Kuat dugaan, ada aroma bancakan duit untuk modal pemilu dalam kasus ini, mirip kasus divestasi freeport.

Jokowi akan terbata dan gelagapan, jika soal ini diperdalam. Visi besar energi negeri ini apa ? Lantas renstra energi mau ditetapkan seperti apa ? Semoga saja TKN sempat bikinkan contekan untuk Jokowi.

Kedua, tema pangan. Dakwaan publik sederhana, bagaimana mungkin negeri agraris seperti Indonesia tidak mampu mencukupi suplai pangan kebutuhan dalam negeri ? Bagaimana mungkin, barang komoditi seperti beras, jagung, gula, buah buahan, sampai garam musti Import ? Bukankah negeri ini memiliki garis pantai terpanjang diseluruh dunia ?

Lantas, apa jawaban Jokowi saat debat yang sebelumnya berjanji tidak akan Import, tetapi justru Import ugal-ugalan terjadi di era Jokowi ? Mungkinkah Jokowi akan mengorbankan Enggar selaku Mendag dalam isu Import Pangan, sebagaimana Nasdem tega buang badan urusan Import ini disebut keputusan Jokowi ?

Saya kira, jawaban apapun akan sangat menyulitkan bagi Jokowi untuk menjelaskannya kepada publik, apalagi dalan forum debat yang tentu sangat mendebarkan. Mungkin, tanda bunyi waktu yang habis akan menyelamatkan muka Jokowi.

Ketiga, isu infrastruktur. Jokowi akan kesulitan menjelaskan meskipun dengan gelar Insinyurnya, tentang bagaimana bisa proyek LRT JABODEBEK berbiaya 500 miliar per KM. Coba bayangkan, bukankah ini sama saja setiap milimeter LRT berbiaya 500 ribu ? Sudah kayak harga emas saja.

Belum lagi, ada ironi dalam kebijakan perencanaan Projek infrastruktur. Dilema karena tanpa rencana matang. Jika tarif dinaikkan, tol sepi. Jika diturunkan, negara harus menanggung biaya besar untuk operasional. Padahal, utang dan bunga riba untuk Projek ini terus menggunung, sejumlah aset BUMN menjadi penjaminnya.

Keempat, lingkungan dan sumber daya alam. Jokowi akan pusing, jika ditanya kenapa freeport yang merusak lingkungan dibiarkan? Denda kepada freeport sejumlah 185 T tidak diusut negara ? Malah borong saham super mahal, mengorbankan duit US$ 3,8 miliar ?

Isu lingkungan dan sumber daya alam, khususnya mineral emas freeport ini akan bikin pusing Jokowi. Bagaimana menjawab janji negara Inalum akan dapat duit Deviden US$ satu miliar per tahun ? Kok bisa meleset dan dua tahun freeport puasa Deviden ?

Kalo memang merugi, kenapa negara 'ngotot' borong saham freeport (baca: PI Rio Tinto) jika ternyata freeport merugi ? Kenapa Ga biarkan saja freeport habis KK tahun 2021, sehingga NKRI bisa ambil alih tanpa beli, cukup mengganti nilai investasi aset dan peralatan.

Saya ragu, gelar insinyur Jokowi mampu menjawab persoalan njelimet ini. Lagi lagi, Jokowi akan mengulur waktu dengan ejaan kata anu, apa, anu, apa, anu, apa, dan berakhir saat lonceng penanda waktu habis menyelamatkan Jokowi.

Jadi, debat besok itu Jokowi tak sempat janji akan, akan dan akan. Jokowi, sejak malam ini justru sibuk menyusun risalah pledoi untuk menjawab seluruh dakwaan publik, karena masalah tata kelola negara yang amatiran.

Jadi tergambar bukan, bahwa isu debat Pilpres kedua ini merupakan neraka bagi Jokowi. Semoga saja, Jokowi tidak terpeleset lidah yang karena itu jagat sosmed akan riuh dengan tranding topik yang menjatuhkan elektabilitas Jokowi. Saya justru berdoa sebaliknya, karena banyak masalah jadi kritikan publik akan tajam menguliti Jokowi. [MO|ge]

Posting Komentar