Oleh: Hariza Masniary Gultom

Mediaoposisi.com-Flashback dari awal kemerdekaan Indonesia yang katanya merdeka tapi rakyatnya masih banyak yang sengsara, kekayaan alam Indonesia sudah banyak menjadi incaran negara-negara luar, seperti halnya beberapa negara yang pernah menjajah Indonesia.

Freeport yang sampai sekarang tak jelas kepemilikannya. Pemerintah menyampaikan bahwa mereka telah berhasil mengambil kembali setengah dari lahan Freeport.

Jadi sebenarnya itu milik siapa? Dari logikanya saja, sipemilik kok malah membeli miliknya sendiri, tidak logis sekali. Namun dalam hal ini pemerintah seolah menyangkal bahwasannya itu semua masih dalam kepemilikan negara Indonesia.

Mirisnya lagi seperti juga kasus beberapa oknum pejabat yang tertangkap tangan oleh KPK dikarenakan telah melakukan korupsi dengan menjual beberapa sumber daya alam kepada pihak asing.

Jika ditelusur lebih dalam lagi sudah banyak kekayaan Indonesia yang perlahan tapi pasti telah dikeruk habis oleh pihak-pihak asing, bahkan pulau-pulau pun sudah ada yang menjadi kepemilikan warga negara asing.

Hal ini tak pelak menimbulkan tanda Tanya. Bagaimana bisa? Karena dari pemerintah sendiri tidak sedikit pun memikirkan bagaimana nasib rakyat Indonesia mereka hanya memperdulikan kas pribadi mereka saja.

Begitulah, penguasa mempunyai kepentingan pribadi. Kalaupun ada beberapa yang terlihat tidak seserakah saat ini itu karena mereka bermain secara halus, sehingga rakyat khususnya masyarakat awam merasa bahwa penguasa tersebut telah bersikap bijak, tapi lagi-lagi rakyat juga yang menanggung kesusahan akibat ulah licik para penguasa.

Indonesia harusnya dapat menjadi negara super power dibanding dengan negara-negara lainnya. Mengapa? Karena kekayaan Indonesia yang begitu melimpah seharusnya mampu menjadikan seluruh rakyatnya sejahtera namun karena sistem dan SDMnya bukan berlandaskan Islam sehingga menjadikan segala pengelolahan SDA dan berbagai aspek menjadi tidak karu-karuan.

Bagaimana Islam Mengatur Pengelolaan SDA?

Islam datang tentu tidak hanya sebagai agama ritual saja melainkan juga merupakan sistem kehidupan yang mampu memecahkan seluruh problem kehidupan, termasuk dalam pengelolaan kekayaan alam.

Allah SWT berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Kami telah menurunkan kepada kamu (Muhammad) al-Quran sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (TQS an-Nahl [16]: 89).

Menurut aturan Islam, kekayaan alam adalah bagian dari kepemilikan umum. Kepemilikan umum ini wajib dikelola oleh negara. Dan hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat secara umum. Dan sebaliknya, haram hukumnya menyerahkan pengelolaan kepemilikan umum kepada individu, swasta apalagi asing.


Dengan demikian, untuk mengakhiri kekacauan pengelolaan sumber daya alam sebagaimana yang terjadi saat ini ialah kita harus kembali pada ketentuan syariah Islam. Selama pengelolaan sumber daya alam berlandaskan pada aturan-aturan sekular kapitalis, tidak diatur dengan syariah Islam, maka semua itu tak akan banyak manfaatnya bagi rakyat dan pastinya menjadi hilang berkahnya.

Terbukti, di tengah berlimpahnya sumberdaya alam kita, mayoritas rakyat negeri ini tetap miskin. Pasalnya, sebagian besar kekayaan alam kita hanya dinikmati oleh segelintir orang, terutama pihak asing, bukan oleh rakyat kebanyakan.[MO/ge]

Posting Komentar