Oleh : Nusaibah Al Khanza 
( Pemerhati Masalah Sosial )

Mediaoposisi.com- Situasi politik yang kian panas menjelang hajatan Pemilu 2019 yang akan digelar bulan April mendatang, membuat aroma persaingan dua kubu semakin menyengat. Hal ini menyebabkan antusias masyarakat untuk menyaksikan ajang Debat Capres ke dua pada Senin malam lalu lebih tinggi dari ajang debat pertama.

Setelah debat usai, masyarakat kian riuh membicarakan hasil debat malam itu yang diikuti oleh kedua Capres tanpa didampingi Cawapres. Mulai dari lingkup pejabat tinggi sampai warung kopi. Juga dari level pegawai kantoran hingga pedagang asongan. Bahkan dari tingkat artis borju parlente sampai bakul tempe. Semua membicarakan apa yang terjadi pada ajang debat tersebut.

Ada beberapa hal menarik yang dikritisi oleh masyarakat khususnya para netizen terhadap jalannya debat tersebut. Bukan netizen namanya kalau tidak menemukan sesuatu yang istimewa yang tidak ditemukan oleh masyarakat biasa.

Sebut saja heboh komentar netizen tentang gerakan Jokowi yang berulang kali menekan pulpen ditangannya dan memegang telinga kirinya. Hal tersebut dinilai oleh netizen bahwa Jokowi sedang mengirim signal minta bantuan jawaban kepada pihak tertentu melalui earphone ditelinganya. Maka muncullah tagar #savepulpen untuk mengabadikan momen tersebut. Itulah netizen, suka-suka mereka.

Ada lagi yang lebih menjadi sorotan adalah pernyataan Jokowi yang diungkapkan untuk menghilangkan image sebagai pemimpin boneka yang disetir oleh atasan. Yaitu ungkapan bahwa Jokowi hanya takut pada Allah. Seperti yang di ungkapkan oleh pakar ekspresi dan gestur Handoko Gani bahwa debat kedua memang digunakan dua capres untuk menghapus segala image negatif. Handoko menilai capres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) coba menghapus image negatif berupa image disetir, plin plan hingga takut. ( detik.com 18/2/2019 )

Ungkapan Jokowi tersebut dinilai tidak sesuai dengan apa yang selama ini diperbuatnya. Sederhananya , kalau takut pasti nurut bukan melawan. Lihat saja anak kecil yang takut pada orang tuanya atau pada gurunya pasti menuruti semua perintah orang tua dan gurunya.

Begitu juga ketika Jokowi menyatakan takut terhadap Allah, harusnya dia juga taat terhadap semua perintah Allah. Namun faktanya, banyak pelanggaran terhadap hukum Allah yang dilakukan oleh rezim Jokowi. Lalu mana korelasinya antara takut dengan wajib taat?. Gak ada.

Takut terhadap Allah kok melawan aturan-Nya. Itulah tanggapan dari masyarakat terhadap pernyataan Jokowi di atas. Kalau hanya takut kepada Allah harusnya Jokowi tidak melakukan riba. Faktanya utang riba negara ini semakin banyak ketika negara ini di bawah kepemimpinannya. Padahal jelas bahwa Allah mengharamkan riba.

Kemudian juga zina semakin merajalela bahkan elgebete berani terang-terangan malah dilindungi atas nama HAM. Padahal ketika riba dan zina merajalela sama saja menghalalkan azab Allah sesuai hadist Rasulullah “Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri “ (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani)

Kemudian juga tidak diterapkannya Islam yang merupakan aturan Allah, malah menerapkan aturan demokrasi yang merupakan buatan kafir penjajah. Ulama dipersekusi, Khilafah ajaran Islam di kriminalisasi, pengemban dakwah dikebiri kebebasannya dalam berdakwah.

Bisu ketika saudara muslim dianiaya dan dibantai oleh kaum kafir seperti Uighur China, rohingya
Myanmar dan lainnya. Lalu dimana bukti takutnya hanya pada Allah ?  Allah SWT berfirman :
"Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki ? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)? (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 50)

Hakikat takut pada Allah adalah dengan taat dan mematuhi aturan-Nya. Jika seorang pemimpin takut pada Allah maka akan yakin pada agama Allah dan pasti menerapkan hukum Allah, bukan menerapkan hukum dari selain-Nya. [MO/ra]

Posting Komentar