Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Aneh-aneh saja kompas TV ini, membuat acara suluh kebangsaan, ngundang Machfud sama kakek Syafi'i, berbusa bicara ancaman hoax di sosial media. Machfud dan syafi'i keduanya juragan BPIP, selama ini sejak kontroversi gaji ratusan juta anggota BPIP hingga tulisan ini beredar, tak jelas apa kerjaan BPIP.

Terakhir, Mbok Mega ketua BPIP mingkem. Kader Parte kebo tersangka KPK dengan nilai korupsi hingga 5,8 T. Induk samang BPIP ini diam, mingkem, tidak berkoar anti Pancasila, korupsi membahayakan NKRI atau narasi sejenisnya.

Begitu juga dengan Machfud dan syafii, sebagai anggota BPIP keduanya belum menyampaikan laporan pertanggungjawaban penggunaan dana BPIP. Mereka makan gaji BPIP, tapi tak tunjukkan prestasi apa yang mereka torehkan sebagai 'punggawa' BPIP.

Alih-alih kerja yang rajin di BPIP, kedua punggawa BPIP ini malah sibuk tebar fitnah hoax para aktivis sosmed. Mereka melihat, kebebasan berekspresi sosmed sebagai hoax yang mengancam.

Bahkan Machfud, menuding aktivis sosmed yang menyalurkan hobi berekspresi, berempati, dan menyalurkan aspirasi melalui sosial media -setelah didunia nyata dihalangi rezim zalim- sebagai kegiatan yang didanai, dibayar, di organisir, dst.

Padahal, kalau mau jujur hoax itu ada didunia nyata bukan di sosmed. Hoax terbesar itu diproduksi penguasa. Jokowi telah membuktikan, pada debat Pilpres kedua telah nyata menebarkan hoax dihadapan seluruh rakyat Indonesia.

Jokowi hoax mengatakan tiga tahun tidak ada kebakaran lahan dan hutan, Jokowi hoax sebut tidak ada sengketa lahan akibat Projek infrastruktur, Jokowi hoax bicara data-data Import, Jokowi hoax banyak lagi, yang sulit dituliskan dalam satu kesatuan artikel ciamik ini.

Bahkan, Machfud juga korban hoax Jokowi. Sudah diminta datang, jahit baju, dijanjikan jadi cawapres, eh ternyata hoax belaka. Jokowi dengan santai cuma bilang, berada dibawah tekanan partai sehingga urung menjadikan Machfud cawapres. Gitu katanya cuma takut kepada Allah SWT ?

Kalau mau jujur, hoax Jokowi ini yang harus segera di enyahkan. Jangan membawa narasi keluar dari Pilpres, umat Islam memang tidak akan mencoblos Jokowi. Itu karena Jokowi zalim, represif, anti Islam dan ulama. Jokowi yang salah, kok kami anak muda, aktivis mujahid sosmed yang dituding sebar hoax ?

Kami tidak pernah merugikan negara, memakan gaji dari negara apalagi nilainya ratusan juta seperti BPIP. Kami, hanyalah anak muda Islam bermodal punya Quota gratis yang kami gunakan untuk dakwah, membongkar dusta dan pengkhianatan rezim Jokowi, jahat sekali menuding kami di biayai ?

Lantas apa pertanggungjawaban kalian di BPIP yang jelas telah makan uang negara (baca: uang rakyat) ratusan juta rupiah ? Apa karena uang itu, kalian tumpul mengkritik Jokowi dan justru bersemangat ngulik aktivis sosial media ? Ayo jawab ! [MO|ge]

Posting Komentar