Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Saya menegaskan, keberpihakan saya hanya kepada Islam dan kaum muslimin. Penentangan saya kepada rezim zalim, represif dan anti Islam, tidak akan menghalangi saya untuk mengambil opsi 'berperang' kepada dan dengan siapapun yang berani mempersoalkan khilafah, meskipun dalam urusan kezaliman Jokowi, kita satu kepentingan.

Saya ingatkan, fokus saja menyerang rezim zalim, represif dan anti Islam, yang dikomandani Jokowi (secara formal) dimana secara substansial Jokowi hanyalah pelaku, lakon yang memainkan peran dari sang dalang. Jadi, pelanggaran besar, dan saya nyatakan Anda telah melanggar garis batas merah, jika Anda menyerang rezim represif dan anti Islam, sekaligus mendeskreditkan khilafah.

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin sedunia, untuk menerapkan Islam secara kaffah dan mengemban misi dakwah Islam ke seluruh penjuru alam. Memang, sejak 1924 M khilafah runtuh, tetapi itu tidak bisa didalihkan sebagai argumen bahwa perjuangan khilafah adalah utopis.

Narasi sesat yang menuding khilafah genderuwo, dengan tujuan untuk menyerang kaum PROJO, antek rezim represif Anti Islam, tidak dapat diterima. Karena tembakan itu, selain membidik PROJO juga membidik ajaran Islam yang Agung, yakni khilafah.

Anda bisa berkoalisi, dan ini komitmen saya, Anda dan saya telah ijma' untuk segera mengakhiri rezim represif dan anti Islam dibawah kendali Jokowi, tetapi Anda keliru jika peluru kendali Anda juga ikut membidik khilafah. Anda, tidak akan mendapat 'Wasqitoh Perdamaian' dengan kami, para revolusionis pejuang syariah dan khilafah, jika Anda membuat opsi 'perang' terhadap ide khilafah.

Saya telah mengingatkan, dan bahkan ini untuk kali yang kedua, kekuatan oposisi tidak akan memiliki pijakan dan asas yang kokoh, jika kaum oposisi berani mengusik ajaran Islam khilafah. Umat paham, narasi oposisi dibangun ketika berada diluar kekuasaan, bukan karena pembelaan dan khidmat kepada umat.

Sementara pejuang khilafah, telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk umat, untuk Islam, dan untuk seluruh kaum muslimin. Kami, tidak pernah tergoda dengan sekerat tulang dunia yang tidak mengenyangkan, dari remah-remah receh kekuasaan yang Anda perebutkan.

Batas-batas yang wajib Anda perhatikan jika Anda ingin menuai kemenangan, adalah sebagai berikut :

Pertama, Anda harus berfokus menyerang rezim, meremukkan setiap persendiannya, menguatkan serangan dari rekan seperjuangan, untuk merealisir satu tujuan : merobohkan kecongkakan rezim represif dan anti Islam.

Kedua, Anda wajib paham kami yang berhimpun dalam barisan pejuang khilafah adalah pembela Islam, yang hanya punya motif merindukan Ridlo Allah, dan bertujuan untuk melanjutkan kehidupan Islam. Dalam isu Islam -termasuk isu khilafah- pilihan yang bisa Anda ambil hanya dua : membantu opini khilafah atau mengambil sikap netral.

Ketiga, Anda wajib memahami suasana kebatinan rezim, yang akan gembira dan bersorak sorai, jika Anda berkonfrontasi dengan saya, dengan barisan pejuang khilafah. Jika diteruskan, Anda akan menemui dua keadaan : pertama, Anda kalah menghadapi saya dan barisan pejuang khilafah. Kedua, Anda kalah menghadapi rezim yang Anda musuhi. Ini kalah kudrat namanya.

Sementara bagi kami, Pilpres itu kecil saja. Bukan tujuan, bahkan hanya sarana untuk menunjukan betapa rusaknya sistem politik demokrasi. Anda harus pahami, betapa kami memiliki energi dahsyat, yang energi itu terpancar dari kekuatan akidah, keyakinan pertemuan dengan Allah SWT dan Surga-Nya.

Karena itu, fikirkan ulang sebelum terlambat. Kami memiliki banyak waktu dan kesempatan, untuk membuka maaf dan menggalang perdamaian, membangun koalisi besar untuk meruntuhkan rezim represif dan anti Islam.

Sekali lagi, fikirkanlah kembali tulisan ini. [MO|ge]

Posting Komentar