Oleh: Andini Sulastri 
Mediaoposisi.com-Pencitraan dilakukan demi menaikkan elektabilitas nya saat ini. Adapun disertai kezoliman di situasi pilpres 2019. Jalannya pilpres saat ini berdampak ujaran-ujaran dan sikap serta kebijakan yang kian hari menimbulkan ke anehan dan adapun memicu kemarahan. Pekerja sudah seharusnya memang mendapatkan gaji sebagai upah atas jasa dan tenaga yang dikeluarkan. Pada kondisi di Indonesia dimana terdapat pegawai negeri yang bekerja dibawah pemerintahan. Namun bukan berarti yang menggaji atau yang memberi upah adalah pemerintah, justru pemerintah mendapat gaji dari rakyat. Sudah kewajiban negara untuk menggaji pegawai negeri tersebut atas tenaga yang telah dikeluarkan. Jadi tidak bisa apabila dikatakan bahwa gaji pegawai negeri adalah dari pemerintah. 
 
Panas nya pilpres kali ini begitu terlihat jontok-jontokan yang terjadi. Sebuah forum yang terdapat seorang Ibu yang memilih  pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02 yaitu Prabowo dan Sandiaga. Dengan emosi seorang Bapak menanya kepada Ibu dengan menyindir karena alasan Ibu tersebut memilih pasangan nomor urut 02 berdasarkan keyakinan. Maksud dari Bapak ini ingin menyampaikan bahwa yang menggaji adalah pemerintah, dan saat ini yang berada diposisi tersebut adalah pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 yaitu Jokowi dan Ma’ruf Amin.
Dengan ucapan “Ibu yang gaji siapa bu? Keyakinan?”
Sungguh negeri ini telah dicemari oleh orang-orang yang takabur dan rakus. 

“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang yang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabur (sombong).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mereka lupa akan sifat manusia yang terbatas, lemah, dan serba kurang (saling membutuhkan). Allah memberikan makhluk bisa bernafas bebas tanpa meminta gaji, Allah memberi kenikmatan bisa melihat, mendengar, berbicara tanpa meminta gaji. Apa-apa yang ada pada Bapak tersebut pun atas pemberian Allah, lantas apa yang harus menjadikan manusia itu takabur? Bagaimana apabila salah satu kenikmatan itu di ambil, hal itu sangat mudah Allah lakukan.

Seperti yang kita ketahui bahwa uang rakyat dalam membayar pajak, membayar pendidikan, kesehatan itu masuk pada kas pemerintah. Dan justru pemerintah yang saat ini menyengsarakan rakyat dengan hutang yang sebesar gunung, bahkan melebihinya.
Mulutmu harimaumu, Islam pun meng-iyakan ujaran itu. Bahwa keselamatan dan kerugian ada pada lisan. Banyak yang terkena dosa atas lisannya yang selalu meng-ghibah, menyakiti hati seseorang melalui perkataannya, dan lisan pun dapat memfitnah seseorang. 

Rakus dalam kekuasaan yang menjadikan kondisi perpolitikan pilpres inipun semakin panas. Padahal ini bukan pemilihan yang pertama kalinya. Seharusnya tidak perlu sampai berdebat keras bahkan sampai memecah belah dan putus kedekatan hanya karena berbeda pilihan. Sifat keras dilontarkan yang menghiasi detik-detik menjelang pemilihan presiden. Berbagai cara dilakukan untuk menaikkan elektabilitasnya. Ulama dijadikan bulender, umat Islam dijadikan korban dan alat pencitraan. Menghilang rasa damai pada negeri atas perebutan kekuasaan yang membutakan manusia. Sampai perwakilan dari antar partai yang terlihat seperti saling bermusuhan.[MO/AS]

Posting Komentar