Oleh: Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Pinginnya heroik, menyerang balik, petahana rasa oposan, melakukan manuver politik dengan menggunakan istilah sensitif. Ujungnya ? Diprotes lawan, diprotes negara asing, pendukung sibuk nyebokin (baca: mengklarifikasi).

Menuding 'politik Rusia' pada isu Pilpres, tentu membuat Rusia meradang. Ketika diprotes, hanya bisa klarifikasi bahkan jika sampai meminta maaf, ini sama saja merendahkan. Bahkan, bukan sebatas merendahkan martabat diri, tapi merendahkan martabat bangsa dan negara. Karena posisi Jokowi, selain capres juga petahana. Masih sah sebagai Presiden NKRI.

Tragedi 'propaganda Rusia' ini adalah kecelakaan fatal. Tak mungkin hal ini terjadi, kecuali mengkonfirmasi beberapa keadaan :

Pertama, buruknya suplai informasi yang masuk ke benak Jokowi. Sehingga, apa yang keluar dari Jokowi tidak merepresentasikan realitas faktual, melainkan sebatas asumsi-asumsi dan bahkan tuduhan tuduhan.

Dalam kondisi ini, berlaku kaidah 'masuk sampah keluar juga sampah'. Tindakan yang sebelumnya dibanggakan, heroik, serangan balik karena semula hanya bisa bertahan dan pasrah dengan keadaan, berubah menjadi Wirang (malu). Bahkan tidak saja mempermalukan diri, tapi juga mempermalukan wibawa bangsa dan negara.

Kedua, buruknya methode ferifikasi dan tata kelola informasi, termasuk buruknya mengolah dan menyampaikan informasi, yang mencerminkan kapasitas Jokowi. Capres 01 ini memang agak kesulitan, jika diminta berfikir sedikit jelimet. Pada beberapa kasus wawancara dengan wartawan, capres 01 ini sering melempar pertanyaan untuk dijawab para menterinya.

Jika seandainya, seumpama, apabila Jokowi memilik kapasitas yang mumpuni, tentu berbagai informasi baik yang Sahih maupun yang dloif, tak mampu serta merta menyetir Jokowi sampai berujung kesalahan fatal. Sumber informasi dan pertimbangan bisa dari siapapun dan dari pihak manapun, tetapi pilihan kebijakan untuk memutuskan meneruskan informasi ada dalam kendali otoritas Jokowi.

Ketiga, keadaan ini menyiratkan buruknya kinerja para pembisik dan mengkonfirmasi kegalauan Psikis TKN dalam tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Kenapa ? Simpel saja,

Petahana itu memiliki seluruh energi dan sumber daya, memiliki seluruh alat kekuasaan untuk menyihir benak publik dengan rentetan prestasi dan segudang repetisi kemajuan negara.

Bahasa kampanyenya lebih sederhana. Tidak perlu menggunakan redaksi saya akan, saya akan, saya akan, dst. Tetapi cukup dengan bahasa kami telah, kami telah, kami telah.

Contoh kampanye paling sederhana dan mengena adalah ketika SBY mau nyalon di periode kedua. SBY cukup gunakan kata 'lanjutkan', karena SBY cukup mengkapitalisasi apa yang telah dilakukan. Bukan sibuk berjanji akan, akan dan akan.

Jadi, kalau petahana sibuk berjanji padahal dia telah berkuasa, petahana bertindak layaknya oposisi dengan melakukan serangan politik, apalagi diketahui manuver menyerang itu lemah argumen bahkan ikut di komplain negara asing, ini alamat buruk. Berbahaya !

Jadi saran saya, Jokowi diam saja. Tidak perlu berbicara. Semakin banyak bicara, semakin salah. Semakin bicara elektabilitasnya semakin terpuruk. Jadi, dalam masa kampanye Pilpres ini Jokowi sebaiknya duduk manis saja. Jika ada yang komplain kenapa Jokowi diam? Jawab saja: diam itu emas. [MO/ge]

Posting Komentar