Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-  Di sebuah negeri yang mana kejujuran harganya mahal. Kobohongan mudah terucap dan dianggap biasa karena pemimpinnya adalah raja hoax. Rakyatnya juga mengikuti kebiasaan pemimpin mereka.

Namun, rakyatnya tidak boleh membohongi si raja hoax dan diancam hukuman menyebarkan kebohongan. Negeri hoax dengan pemimpin raja hoax yang tidak mau dibohongi tapi suka berbohong.

Seperti halnya seorang bapak yang tidak mau anaknya berbohong tapi dirinya sendiri suka berbohong. Orang tua memberi contoh jelek tapi tidak mau anaknya berbuat jelek. Anak bingung
karena hukuman tidak berlaku adil.

 Anak yang disayangi tidak pernah dimarahi bahkan selalu dilindungi jika berbuat salah. Sementara, sedikit saja anak yang dibenci berbuat salah pasti dapat hukuman berat.

Raja hoax telah menginspirasi banyak rakyatnya untuk berkata bohong. Kebohongan dianggap harus untuk sebuah pencitraan diri. Data tidak sesuai fakta yang penting bisa membuat publik terkesima dan takjub.

Kobohongan di negeri hoax dianggap biasa jika pelakunya adalah si-raja hoax dan kebohongan yang dilakukan tidak merugikan si raja hoax. Bahkan kebohongan itu wajib jika itu menguntungkan si raja hoax.

Si-raja hoax dan pengikutnya bebas berkata bohong, namun tidak bagi musuhnya. Mereka akan diancam hukuman penjara jika berani membohongi si raja hoax. Penegak hukum sudah mati rasa
jika kasus kebohongan dilakukan si raja hoax dan pengikutnya.

Sementara jika pelakunya adalah musuh dari si-raja hoax hukuman begitu tajam bak pisau belati yang siap menikam dan memasukkan ke penjara.

Si-raja hoax juga tidak suka jika ada rakyatnya berkata tidak sopan padanya. Kata-kata yang tidak pantas dianggap sebagai ujaran kebencian yang juga akan mengantarkan pelakunya ke penjara. Lagi-lagi hukum tidak bersikap pada semua orang. Pasal ujaran kebencian sudah banyak menelan korban terutama orang-orang yang dianggap musuh oleh si-raja hoax.

Namun, jika yang mengucapkan kebencian si-raja dan pendukungnya hukum menjadi tumpul. Rupanya si-raja hoax mempunyai kekebalan hukum di negeri hoax karena dia merasa yang sudah menggaji para penegak hukum.  Sementara, si penegak hukum juga merasa seperti itu, padahal uang rakyat yang digunakan menggaji mereka termasuk juga si raja hoax.

Si-raja hoax ingin berkuasa lagi, namun rakyat sudah muak dengan tingkah lakunya yang tidak
konsisten. Semakin dia berkata-kata, elektabilitasnya semakin turun. Banyak rakyat sudah tahu
bahwa dia hanya berpihak pada pendukungnya saja. Rakyat juga muak dengan tingkah laku pendukungnya yang sok berkuasa.

Mereka berbuat sesuka hati mereka tapi hukum tidak bisa menjerat mereka. Mereka merasa diatas angin karena hukum selalu membela mereka. Namun, mereka lupa bahwa rakyat semakin muak dengan tingkah laku mereka yang bersikap semaunya.

Mereka sudah diperingatkan dengan seretentan bencana, namun mereka tetap tidak menyadari. Mereka semakin menjadi-jadi dengan perilaku yang semakin memuakkan semua orang. Kehancuran bagi si-raja hoax dan pendukungnya sudah diambang pintu.

Sebentar lagi kehancuran yang menyakitkan akan menghampiri, namun si-raja hoax tidak menyadari. Dan terus saja si raja hoax menyebarkan hoax di negeri hoax yang akan menghancurkan elektabilitasnya sendiri. [MO/ra]

Posting Komentar