Oleh: Lailin Nadhifah, S.Pd 
(Lingkar Studi Perempuan Dan Peradaban)

Mediaoposisi.com- Beberapa dekade ini pariwisata telah berkembang menjadi salah satu sektor andalan yang mempunyai potensi untuk  menggerakan ekonomi suatu negara. pada tahun 2015 saja pergerakan turis internasional mencapai 1,2 milyar orang, itu artinya ada lebih dari satu milyar orang pergi berwisata keluar dari negaranya belum lagi wisatawan yang pergi berlibur di dalam negeri saja.

Indonesia pada tahun 2015 mencetak 250 wisatawan lokal yang mengunjungi daerah daerah terbaik di Tanah air kita. Sedangkan, Jumlah kunjungan turis asing atau wisatawan mancanegara (wisman) mengalami penurunan pada Oktober 2018. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data jumlah turis asing pada bulan tersebut hanya mencapai 1,29 juta kunjungan, turun 5,74 persen dibandingkan September 2018 yang mencapai 1,37 juta.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto menyatakan penurunan tersebut wajar karena biasa terjadi dari tahun ke tahun. Di samping itu, kata dia, jumlah kunjungan turis asing secara kumulatif pada Januari- November 2018, juga masih meningkat sebanyak 11,92 persen yakni menjadi 13,24 juta kunjungan, dibandingkan periode yang sama tahun 2017 yang hanya sebesar 11,83 juta kunjungan.

Tentunya, pemerintah berharap pengembangan sector pariwisata ini berjalan sebagaimana yang diharapkan . Setidaknya, sector pariwisata berdampak positif untuk 6 hal, diantaranya ; tambahan bagi devisa Negara, menggerakkan ekonomi, mengenalkan Indonesia, mengenalkan budaya, membuka lapangan pekerjaan serta mempercepat pembangunan.

Kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, pembangunan daerah wisata, tidak selamanya berdampak seperti yang dirancang. Justru pembangunan daerah wisata berdampak semakin menumpuknya “limbah” kerusakan di lingkungan masyarakat sekitar.

Limbah” tersebut berupa penyimpangan penyimpangan, dari yang kecil contoh daerah wisata menjadi tempat pacaran, sampai penyimpangan yang meresahkan masyarakat sekitar seperti maraknya prostitusi. Pariwisata tak pernah lepas dengan masalah prostitusi karena memang prostitusi merupakan bisnis yang menjanjikan dibanding dengan daya tarik kawasan perwisataan.

Baru baru ini, Jawa Timur dihebohkan oleh berita dari salah satu kabupaten andalannya yaitu Banyuwangi. Perkembangan sector pariwisata di Banyuwangi diiringi dengan semakin meningkatnya praktik prostitusi, khususnya melibatkan anak-anak.

Maraknya praktik prostitusi seiring kian majunya industri pariwisata di Banyuwangi menimbulkan kekhawatiran banyak kalangan. Terlebih jika hal ini melibatkan anak di bawah umur. Penangkapan pelaku pedofilia dan pemakai jasa prostitusi anak baru-baru ini adalah alarm yang nyata.

Prostitusi yang melibatkan anak usia sekolah, biasanya berawal dari tawaran gaya hidup yang mengikuti trend serta keinginan memiliki sejumlah barang bermerk dengan harga yang mahal. Anak-anak tergoda mengikuti gaya hidup mewah dan trendy, menjadi pemandu lagu pada rumah karaoke dan tempat hiburan malam.

Warga Banyuwangi, pemerhati prostitusi online, Wahyu Widodo mengatakan, praktik prostitusi online dan terselubung sudah diketahui secara umum, dengan mucikari yang seringkali menawarkan anak usia sekolah untuk menemani tamu di rumah karaoke maupun sejumlah hotel berbintang.

Itu kan biasanya diajak nyanyi dulu, biasanya diajak pertemuan, nyanyi, nyanyi, nyanyi, setelah itu sama maminya (mucikari) oh ini lho begini begitu begini begitu, itu kan ada maminya, sudah jelas-jelas kayak di Banyuwangi ada Madam Maya yang biasa suka jualan anak-anak, makelaranlah, mucikari, kenapa sampai sekarang tidak pernah disentuh sama aparat itu lho,” kata Wahyu.

Selain ketertarikan hidup mewah, sosiolog di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Anis Farida mengatakan ada nilai-nilai yang seakan hilang dalam keluarga, yaitu untuk tidak berhubungan seks sebelum menikah, atau di Indonesia dikenal sebagai nilai keperawanan/keperjakaan.

Menurut  End Child Prostitution Child Pornography & Trafficking of Children (ECPAT) menyimpulkan prostitusi anak terjadi di semua destinasi wisata di Indonesia. ECPAT juga menyimpulkan jumlah kasus prostitusi anak meningkat seiring meningkatnya target pemerintah akan pariwisata.

Sofian selaku koordinator ECPAT mengatakan jumlah pembinaan pelaku prostitusi yang dilakukan Kementerian Sosial meningkat dari 220 ribu orang di tahun lalu menjadi 248 ribu orang tahun 2018 ini.

Angka ini jauh lebih sedikit dibanding realita, dan teori ECPAT Internasional jumlah anak terlibat prostitusi diperkirakan 30 persen dibanding dewasa,” ujar Sofian.

Kapitalis Di Balik Perkembangan Pariwisata Berujung Prostitusi anak
Kapitalisme punya kontribusi besar dalam melanggengkan prostitusi anak di sektor pariwisata hingga hari ini.

Pertama, kapitalisme memandang perempuan dan ana kanak adalah komoditas. Sebagai komoditas, selayaknya mereka menjadi lahan bisnis yang menguntungkan. Lihatlah, misalnya, tubuh perempuan diumbar untuk memancing dorongan seks dalam penjualan produk-produk kapitalis. Tubuh perempuan sebagai objek seksual dibisniskan. Inilah yang nampak pada industri pornografi dan hiburan. Saking menggiurkannya bisnis ini, banyak perempuan yang dijerat masuk ke sana. Biasanya melalui kasus perdagangan perempuan.

Kedua, banyak perempuan dan anak anak, terutama kalangan bawah, yang terseret dalam prostitusi karena faktor ekonomi, yakni kemiskinan. Kita sudah akrab dengan cerita-cerita perempuan yang terpaksa menjadi pelacur karena kemiskinan.

Kalaupun mereka dipaksa keluar rumah untuk bekerja, karena kapitalisme membutuhkan limpahan tenaga kerja, mereka rentan terhadap upah murah, sistim kerja kontrak dan
Ketiga, hasrat memiliki barang-barang mewah (luxury goods). Hasrat akan barang mewah ini menjadi motif pelacuran di kalangan yang sebetulnya dianggap “sudah berkecukupan”, seperti prostitusi yang melibatkan selebritis atau perempuan kelas menengah.

Awalnya, hasrat konsumsi barang mewah ini adalah strategi domestifikasi atau houzewifization, sebagaimana diterangkan oleh Maria Mies dalam Patriarchy and accumulation on a World Scale. Menurut Mies, salah satu strategi housewifization adalah luxury comsumption atau “konsumen barang mewah”. Maksudnya, supaya perempuan betah di dalam rumah atau ranah domestik, maka mereka coba dipuaskan dengan konsumsi barang-barang mewah.

Di sisi lain, dalam perkembangan kapitalisme sekarang ada yang disebut “kebutuhan untuk eksis”, yakni kebutuhan di luar kebutuhan dasar (papan, sandang dan papan) yang diperlukan seseorang untuk eksis di tengah pergaulan sosial. Misalnya sekarang, terlepas dari seberapa penting kegunaannya, smartphone sudah dianggap barang yang penting dalam pergaulan sosial. Tidak punya smartphone akan dianggap katrok, ketinggalan zaman.

Kebijakan Kembali Pada Islam
Maraknya prostitusi anak di daerah wisata, tidak lebih karena sector pariwisata dianggap sebagai solusi mengentaskan persoalan kemiskinan dan jauhnya kehidupan rakyat dari kata sejahterah. Padahal pariwisata adalah sarana untuk menikmati kebesaran ciptaan Allah Azza wa Jalla. Maka akan menemukan jalan buntu jika menjadikannya sebagai  strategi mengentaskan kemiskinan dan mensejahterahkan rakyat. Terlebih, strategi ini ditunggangi oleh kepentingan kapitalis yang serakah sehingga menjerumuskan pada kehancuran yang lebih berat dari sebelumnya.

Islam menegaskan bahwa negera yang baldatun thoyyibatun wa Rabbun Ghofur adalah Negara yang senantiasa kebijakan pemerintahnya jauh dari mengundang kemurkaanNYa. Perilaku penguasa dan penduduknya selalu mendatangkan ampunan dari Allah SwT. Sebagimana dititahkan dalam firmanNYA:

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): 
“Makanlah olehmu dari rizki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (QS. Saba’: 15).

Walaupun nash tersebut diatas menyebutkan negeri Saba’, namun konteks nash tersebut menunjukkan keumuman bagi negeri mana saja yang menghendaki kemakmuran, kesejahterhan dan hidup jauh dari gelimang dosa, maka jadikanlah Islam aturan yang sempurna mengatur seluruh lini hidup rakyat negeri ini. Termasuk di dalamnya kebijakan mengelola sektor pariwisata.

Selayaknya sektor pariwisata dikembangkan dalam rangka meningkatkan keimanan serta perenungan manusia terhadap keberadaan Sang Pencipta dengan segala keMaha-annya.[MO/sr]

Posting Komentar