Oleh: Anggi Rahmi
(Suara Muslimah Pemerhati Perempuan dan Generasi)

Mediaoposisi.com-Angin segar kembali berhembus di tepi  pantai selatan. Sungguh indah pemandangannya ditambah lagi birunya awan yang sejuk tanpa hujan. Membuat suasana liburan tahun ini sangat santai. Akankah santainya Indonesia ini bertahan lama melihat keganasan kapitalis yang sering bermain-main di Pantai Indonesia?

Indonesia Negara Paling Santai
Tribuntravel menyebut Indonesia masuk dalam daftar teratas jadi destinasi negara yang paling santai di dunia. Berdasarkan sebuah laporan dari agen perjalanan di Inggris. Lastminute.com, menuliskan bahwa Indonesia sebagai Negara Paling Santai di Dunia, atau Most Chilled Out Countries in The World. Maksud dari julukan negara santai ini kaitannya dalam hal-hal yang positif. Yakni, berhubungan dengan relaksasi yang santai dan memanjakan momen liburan kamu.

Indonesia punya banyak lokasi untuk melakukan relaksasi dan cocok jadi destinasi liburan. "Surga tropis Indonesia berada di posisi pertama, sebagian berkat spa dan pusat kebugarannya. Ada lebih dari 186 ruang hijau dan memiliki suhu rata-rata 25 derajat Celcius dan 54.716 mil dari garis pantai,". Indonesia yang berjuluk surga tropis juga punya 66 spa dan retret kesehatan. Semuanya menawarkan pengalaman bersantai terbaik.

Wonderful Indonesia yang digaungkan seperti fakta di atas bukanlah hal baru. Sekilas memang tampak positif karena hal ini selaras dengan rekomendasi dalam WEF (World Economic Forum) bagi ASEAN pada bulan September 2018.

Bahkan PSK tersebut dikenai pajak penghasilan sebesar 10 persen dari pendapatan perbulan. Selanjutnya kawasan puncak Bogor, Singkawang dan terakhir Cikarang.

Pandangan khas ideologi Kapitalisme terhadap perempuan dengan sensualitasnya telah medorong kejahatan eksploitasi seksual terhadap ratusan ribu perempuan di negeri ini, tubuh perempuan hanya dipandang sebagai barang komoditas ekonomi.

Sebagai negara demokrasi, Indonesia terbukti mandul dalam melindungi anak dari kejahatan eksploitasi. Dua UU yang dimiliki Inodnesia yakni :

UU Perlindungan Anak da UU Tindak Pidana Perdagangan Orang yang lahir dari Rahim Demokrasi negeri ini juga terbukti gagal dalam melindungi hak-hak Anak yang sejatinya harapan bangsa. Biaya besar dan waktu yang lama dalam menyusun kedua UU ini tidak mampu membayar kerusakan generasi akibat penistaan dan belenggu kemiskinan.

Berdasarkan serentetan fakta di atas barulah kita tahu ternyata tidak ada untungnya sama sekali bagi Indonesia memperoleh gelar sebagai Negara Paling Santai di Dunia. Untuk apa hal itu, jika hanya semakin membuat rusak moral anak-anak bangsa yang seharusnya menjadi generasi emas bangsa. Untuk apa? Jika hanya membuat perzinaan menjadi hal biasa, narkoba tumbuh subur, kriminal merajalela. Ekonomi semakin terpuruk, untuk apa?

Haruskah kita menunggu korban lebih banyak lagi? Tak cukupkah kerusakan di semua lini kehidupan akibat sistem sekuler ini mendorong kita untuk lalu agar menjadi salah satu main support bagi Indonesia untuk terus meningkatkan potensi pariwisatanya.

Bisnis Prostitusi Dibalik Destinasi
Sebagai akibat tekanan ekonomi global ditambah lagi hutang negara yang kian menumpuk hal ini tentu disambut hangat oleh rezim saat ini untuk menambah pendapatan negara melalui pariwisata. Pariwisata dianggap sektor cukup penting bagi pendapatan daerah dan sumber kesejahteraan baru bagi negara di saat jaminan sumber daya alam yang ada di Indonesia dalam kondisi kritis dan sudah tidak dapat di andalkan lagi.

Menanggapi hal ini kita jangan langsung termakan opini global yang sangat cantik ini yaitu, “Indonesia sebagai negara paling santai di dunia”. Mengapa demikian?

Dilansir dari suara.com pada Desember 2017 bahwa kesimpulan hasil riset yang dilakukan lembaga End Child Prostitution Child Pornography dan Trafficking Of Children (ECPAT) yaitu seluruh destinasi wisata di Indonesia mempunyai prostitusi anak. ECPAT juga mengungkap bahwa jumlah prostitusi anak juga semakin meningkat seiring meningkatnya target pemerintah terhadap pariwisata.
Wartainfo.com pada februari 2018 lalu, menyebutkan ada empat kota yang menjadi tujuan seks turis asing yaitu Batam yang banyak dikunjungi turis Singapura untuk berkencan. Disebutkan ada PSK lokal maupun macanegara.

memaksa negara mencampakkan sekulerisme dan menerapkan syariah islam secara kaffah.[MO/sr]


Posting Komentar